Satu dari sekian negara yang paling sering disebut akhir-akhir ini yaitu Palestina. Konflik Palestina-Zionis Israel yang berkepanjangan menambah deret penyebutan Palestina dalam berbagai pembicaraan. Perang, teror, pengeboman, dan perebutan wilayah menjadi semacam kata kunci ketika menyebut Palestina. Seolah-olah tidak ada sisi lain yang bisa disorot dan disajikan oleh media. Pun demikian, sajian media turut mendukung persepsi publik bahwa Palestina ya hanya itu-itu saja. Tanpa pernah disadari, kebudayaan Palestina jarang mendapat tempat dan porsi. Padahal, Palestina mempunyai kebudayaan yang kaya dan beragam.
Menurut van Peursen (1976:10-11) dalam jurnal (Nurdien, 2017) menganggap kebudayaan sebagai sebuah strategi. Salah satu strateginya yaitu kebudayaan dianggap sebagai “kata kerja” bukan sebagai “kata benda.” Kebudayaan tidak lagi sekadar koleksi karya seni, buku-buku, alat-alat, museum, dan sebagainya, melainkan kebudayaan dihubungkan dengan kegiatan manusia yang bekerja, merasakan, memikirkan, memprakarsai serta menciptakan. Singkatnya, kebudayaan diartikan sebagai suatu aktivitas yang menghasilkan. Lebih lanjut, Koentjaraningrat mengemukakan pendapatnya mengenai unsur-unsur kebudayaan, salah satu dari tujuh unsur kebudayaan tersebut yaitu kesenian. Kesenian acapkali terlewat begitu saja atau bahkan takkan terlintas sedikitpun ketika membicarakan tentang Palestina. Kondisi sosial-politik yang tidak stabil turut mempengaruhi minimnya kesenian masyarakat Palestina diketahui publik.
Seni menurut Oxford Languages diartikan sebagai suatu ekspresi atau penerapan imajinasi dan keterampilan manusia, biasanya berbentuk visual, menghasilkan karya untuk dihargai terutama karena keindahan atau kekuatan emosionalnya. Masih dari sisi pengertian, laman Britannica.com menyebutkan seni sebagai suatu pengalaman yang secara sadar diciptakan melalui ekspresi atau imajinasi. Melihat pengertian di atas, kesenian Palestina bisa diterjemahkan sebagai suatu bentuk pengungkapan ekspresi, imajinasi, dan keterampilan yang bersumber dari pengalaman masyarakat Palestina yang dituangkan dalam bentuk karya. Kesenian tersebut meliputi seni sastra, seni lukis, seni musik, dan lain sebagainya.
Seni sastra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti seni karang-mengarang berbentuk prosa dan puisi. Sastra sendiri telah lama ada di Palestina meskipun pada mulanya perkembangannya masih alot. Baru setelah tahun 1990 setelah platform daring mengambil alih platform media,perkembangan sastra kian melesat. Hal ini dikarenakan adanya transisi pola pikir masyarakat Palestina dalam memaknai sastra itu sendiri. Jika pada mulanya sastra hanya dianggap sebagai sajian berita di media, kini sastra menjadi bahan diskusi sehari-hari. Jika dulu sastra difungsikan sebagai sarana menghibur diri, kini pemanfaatannya lebih meluas. Semakin banyak yang mempelajari sastra sehingga makin banyak gagasan-gagasan baru yang muncul sebut saja Mahmod Darwish, sang pencetus aliran sastra perlawanan atau adabul qawāmah.
Syair Arab merupakan salah satu sastra yang berkembang pesat dan cukup digemari. Sastra menjadi “tempat curhat” masyarakat Palestina kepada dunia di tengah konflik yang terus terjadi. Sosok penyair masyhur dari Palestina yaitu Mahmod Darwish. Tidak hanya ratusan syair–penyebutan untuk puisi bahasa Arab yang berhasil dikarang, tetapi keberanian dan konsistensinya dalam melakukan perlawanan terhadap otoritas yang berkuasa melalui puisi-puisinya membuat dirinya semakin dikenal luas. Di antara judul puisinya yang menyoroti Palestina yaitu Yaumul Ahad. Dalam puisi tersebut, Darwish menceritakan kehidupan para penguasa dan harapan kedamaian serta lepas dari segala belenggu penjajahan. Beberapa nama sastrawan Palestina yang lain yaitu Ghassan Kanafaniy (novelis muda), Mourid Al-Barghouti, dan Harun Hasyim Rasyid. Secara umum, puisi karya penyair Palestina bertujuan untuk melawan kependudukan penguasa asing serta membangkitkan semangat juang rakyat. Adapun dari prosa, perkembangannya dapat terlihat dari pesatnya pertumbuhan penulis Palestina.
Satu dari jenis seni pertunjukan yaitu seni musik. Musik di Palestina mulai menunjukkan eksistensinya pasca 1948 ditandai dengan munculnya tema-tema khas Palestina yang berkisah seputar mimpi kemerdekaan dan sentimen nasionalisme. Gelombang Intifada 1 dan Periode Oslo pascaperang 1967 turut memengaruhi dinamika permusikan Palestina. Kedua peristiwa tersebut mendorong para musikus bersatu dan bersama-sama menyuarakan perdamaian. Sejalan dengan hal itu, bermunculan para kelompok seniman baru. Kemudian para seniman itu melakukan lawatan ke berbagai penjuru dunia untuk mengenalkan Palestina seperti yang dilakukan oleh Asayel Folklore Troup.
Di lain sisi, muncul para penyanyi yang mengubah syair-syair karangan penyair Palestina menjadi nyanyian-nyanyian, seperti puisi karangan Mahmod Darwish dan Ahmad Dahbour. Nyanyian menjadi media untuk meluapkan segala perasaan yang berkecamuk dalam dada, tangisan, ratapan, dan dambaan harapan. Selain itu, banyak bermunculan lagu-lagu yang menggambarkan keadaan Palestina, seperti yang berjudul Sayyidi Ra’is. Meski minat masyarakat Palestina terhadap musik masih terhitung rendah, tapi kian hari antusiasme masyarakat semakin bertambah hal ini terlihat dengan adanya para musisi menggelar konser di tengah rerobohan puing bangunan. Konser tersebut dilaksanakan setelah genjatan senjata dan dihadiri oleh banyak masyarakat.
Beralih ke seni rupa dalam hal ini yang dimaksud yaitu seni lukis. Seni lukis di Palestina pernah mengalami masa suram, yaitu pada era 1980. Para seniman yang sedang menggelar pameran di Galeri 79 ditutup paksa oleh tentara Zionis, seperti yang diceritakan oleh Sliman Mansour, Nabil Anani, dan Issam Badr. Tidak hanya itu, bahkan terjadi pelarangan melukis atau menggambar sesuatu yang merujuk pada bendera Palestina. Seorang pemuda di Gaza ditangkap aparat Zionis Israel lantaran membawa semangka yang mencirikan warna bendera Palestina yaitu merah, hitam, dan hijau. Namun geliat seniman Palestina kini sudah tumbuh kembali, dibuktikan dengan pagelaran kesenian yang menampilkan sekitar 100 karya seni ciptaan 70 seniman pada 29 Juni lalu.
Tanpa disadari, masyarakat dunia merupakan penikmat kesenian Palestina. Hal ini tercermin dengan tingginya masyarakat untuk menonton pertunjukan para seniman Palestina melakukan lawatan baik pameran lukisan, konser musik, maupun festival pembacaan puisi di berbagai negara. Apa yang ditampilkan para seniman tersebut juga mempengaruhi gagasan dan pemikiran publik sehingga kemudian bermunculan karya seni baru. Palestina dan kehidupan masyarakatnya menjadi sumber inspirasi bagi para seniman dunia, misalnya dalam seni musik, mengilhami penciptaan berbagai lagu baru oleh banyak musisi di berbagai negara. Beberapa judul lagu yang terinspirasi dari kehidupan di Palestina yaitu Freedom for Palestine oleh Oneworld, Maher Zain dengan lagunya Palestine Will be Free dan Michael Heart dengan lagunya yang sangat terkenal, We Will Not Go Down.
Di Indonesia banyak penyair dan musisi yang terpengaruhi oleh kesenian Palestina, terutama dalam pemilihan tema. Seperti penyair kondang tanah air Taufik Ismail, Asep Sambodja, Helvy Tiana hingga Mustofa Bisri. Musisi seperti Pasha juga turut terinspirasi dan berempati dengn menciptakan lagu. Pemilihan tema seputar dukungan kekuatan, harapan, hingga kecaman terhadap para penguasa yang ingin menguasai Palestina. Meskipun kesenian di Palestina belum banyak diketahui, tapi pada faktnya justru kesenian Palestinalah yang telah menyatukan masyarakat dunia. Berempati, bergerak bersama, dan memberikan dukungan penuh kepada Palestina melalui seni yang indah, puisi yang menggugah dan nyanyian yang menggetarkan.
Penulis: Diah Utami
***
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







