Umat Kristen di Jalur Gaza merayakan Minggu Palma untuk pertama kalinya sejak genosida yang kini memasuki tahun ketiga. Dalam suasana spiritual, puluhan orang berkumpul di Gereja Keluarga Kudus, bagian dari Patriarkat Latin, di Kota Tua Gaza. Mereka mengikuti ibadah Minggu Palma di bawah pimpinan Pastor Gabriel Romanelli, pastor paroki di Gaza.
Selama dua tahun genosida, umat Kristen Gaza tidak dapat merayakan hari raya tersebut karena serangan Israel. Perayaan terbatas pada dekorasi gereja yang sederhana dan ritual berskala kecil. Para jemaat menyampaikan harapan agar acara tersebut berlangsung dengan aman dan damai, serta ketenangan dan stabilitas kembali ke Gaza setelah lebih dari dua tahun genosida.
Di Al-Quds (Yerusalem), Otoritas Israel mengumumkan pada Senin (29/03) bahwa mereka akan mengizinkan ibadah terbatas di Gereja Makam Kudus. Keputusan ini Israel ambil menyusul kritik internasional dari Italia, Prancis, Spanyol, dan Uni Eropa setelah otoritas Israel mencegah para pemimpin Kristen senior mengakses gereja untuk memperingati Minggu Palma.
Baca juga : “Israel Cegah Penyelenggaraan Misa di Gereja Makam Kudus“
Polisi Israel mengatakan langkah itu mereka ambil setelah melakukan penilaian keamanan dan koordinasi dengan perwakilan gereja. Akan tetapi, mereka tidak merinci kapan ibadah boleh berlanjut atau berapa banyak jemaat yang mendapat izin masuk.
Sejak akhir Februari, Israel telah menutup sebagian besar gereja dan masjid dengan dalih mencegah perkumpulan di tengah ketegangan regional yang terkait dengan perang yang melibatkan Iran. Pembatasan terhadap perkumpulan publik juga Israel perpanjang hingga awal April.
Minggu Palma adalah Minggu ketujuh masa Prapaskah dan yang terakhir sebelum Jumat Agung, yang berlanjut dengan Minggu Paskah. Perayaan ini dimaksudkan untuk memperingati masuknya Yesus Kristus ke Al-Quds (Yerusalem), ketika orang-orang menyambutnya dengan ranting palem sebagai tanda sukacita, menurut kepercayaan Kristen.








