Para pengamat menilai bahwa kematian anak-anak keluarga Bibas akibat serangan udara Israel di Gaza lebih dari setahun lalu kini dimanfaatkan untuk menggagalkan kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlangsung. Hamas dijadwalkan mengembalikan jenazah mereka pada Kamis (20/02), tetapi Israel dan sekutunya mendorong narasi keliru mengenai kematian mereka. Para pengamat memperingatkan bahwa tragedi ini telah dijadikan alat untuk membenarkan kelanjutan genosida Israel di Gaza.
Komite Mayoritas Hubungan Luar Negeri DPR AS memicu kontroversi dengan mengklaim, tanpa bukti, bahwa “Hamas mengeksekusi seorang ibu dan dua anaknya dengan darah dingin,” bertentangan dengan laporan yang telah dikonfirmasi bahwa Shiri Bibas (32 tahun) serta dua anaknya, Kfir (9 bulan) dan Ariel (4 tahun), terbunuh dalam serangan udara Israel pada November 2023.
Yarden Bibas, yang baru-baru ini dibebaskan oleh Hamas, sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas kematian istri dan anak-anaknya. Dalam pernyataannya pada November 2023, ia menyatakan bahwa Netanyahu telah mengebom dan membunuh keluarganya.
Laporan CBS juga mengakui bahwa keluarga Bibas terbunuh akibat serangan udara Israel, bukan oleh Hamas. Selain itu, wartawan Gaza, Muhammad Shehada, menyoroti bahwa Israel telah mengetahui kematian mereka selama 15 bulan tetapi memilih untuk tetap menciptakan ketidakpastian. Hamas menyatakan bahwa mereka telah menawarkan untuk mengembalikan jenazah sejak lama, tetapi pemerintah Israel menolak dan terus berusaha memanipulasi situasi.
Sementara itu, pada Rabu (19/02), Israel mengonfirmasi bahwa jenazah Shiri, Ariel, dan Kfir Bibas akan dikembalikan oleh Hamas sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Keluarga ini menjadi simbol penderitaan para sandera Israel yang diculik pada serangan 7 Oktober 2023.
Pemerintah Israel sebelumnya menyatakan memiliki “kekhawatiran besar” terhadap nasib keluarga Bibas, sementara Hamas menegaskan bahwa mereka meninggal dalam serangan udara Israel. Netanyahu merespons dengan pernyataan emosional, “Hati seluruh bangsa ini hancur.”
Pengembalian jenazah mereka terjadi bersamaan dengan kesepakatan pertukaran yang mencakup enam sandera Israel yang masih hidup dan ratusan tahanan Palestina. Proses ini merupakan bagian dari fase pertama gencatan senjata, yang mencakup pembebasan total 33 sandera Israel, termasuk yang telah meninggal dunia.
Sejumlah pihak menilai bahwa pemerintah Israel sengaja menggunakan tragedi keluarga Bibas untuk menghambat gencatan senjata. Pernyataan Komite Hubungan Luar Negeri AS yang menyebut bahwa “Israel berhak menyelesaikan tugas dan melenyapkan para teroris dari muka bumi” semakin memperkuat kekhawatiran bahwa ada upaya untuk mengacaukan kesepakatan damai yang tengah berlangsung.
Para aktivis dan jurnalis internasional terus menyoroti manipulasi narasi ini. Jeremy Scahill, reporter dari DropSiteNews, menantang klaim Komite AS, bertanya, “Apakah mereka memiliki bukti yang mendukung tuduhan tersebut?”
Dengan pengembalian jenazah keluarga Bibas dan kesepakatan pertukaran tawanan yang terus berjalan, perhatian dunia kini tertuju pada kelanjutan gencatan senjata di Gaza—apakah benar-benar akan membawa perdamaian atau justru dimanfaatkan sebagai alat politik untuk melanjutkan perang.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








