Rumah-rumah rusak, tiang listrik memblokir jalan, dan jembatan yang hanyut adalah pemandangan kehancuran yang disebabkan oleh Topan Mocha. Organisasi kemanusiaan dan komunitas lokal bekerja sepanjang waktu untuk upaya pembersihan dan pemulihan. Namun, ada risiko nyata bahwa para penyintas mungkin menghadapi bencana sekunder, termasuk penyakit yang ditularkan melalui air; dan rusaknya persediaan makanan telah menyebabkan ribuan orang terancam kelaparan.
Maung Thein*, seorang penghuni kamp pengungsi di dekat wilayah pesisir Rakhine, mengatakan, “Angin kencang mulai memecahkan atap kami. Hujan turun deras dari atas. Saya mendengar suara-suara berteriak dari jauh melalui angin yang menderu. Kami semua basah kuyup.” Topan mereda pada pukul 10 malam, tetapi rumah Maung Thein* sudah hancur saat itu.
“Dengan terpal yang saya simpan sebelum badai, saya membangun tempat tinggal sementara di mana seluruh keluarga saya tinggal sekarang. Sekarang saya memiliki satu karung beras yang tersisa. Tidak tahu jika nanti semuanya habis. Kami berbagi makanan karena beberapa rumah tangga tidak memiliki apa-apa, hanya pakaian yang mereka miliki di tubuh mereka. Harga bahan pokok telah menjadi sangat tinggi; 1.000 kyat (0,5 USD) per telur yang biasanya berharga 200 kyat (0,1 USD). Namun, bahkan dengan uang yang cukup, kami tidak dapat membeli sebanyak yang kami butuhkan, termasuk obat-obatan. Tidak ada pasar atau toko yang beroperasi saat ini .”
Semua 17 kotapraja di Rakhine telah dinyatakan sebagai daerah darurat. Sementara itu, di kotapraja Pauk Taw dan Magway barat laut, akses air dan sanitasi mengalami kerusakan parah. Ratusan jamban dan sumur rusak atau hancur, sangat mengganggu akses kedua kota itu ke air minum yang aman dan praktik kebersihan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan kebutuhan mendesak akan bahan bakar untuk layanan publik yang penting, termasuk kesehatan dan pengolahan air. Infrastruktur publik, termasuk klinik kesehatan, pusat distribusi makanan dan sekolah, juga rusak atau hancur, terutama disebabkan oleh hujan lebat dan angin kencang yang mencapai 250 kilometer per jam (155 mph) pada puncak badai. Korban terus dilaporkan, meski jumlah pastinya masih belum diverifikasi, karena komunikasi masih terbatas di seluruh wilayah yang terkena dampak.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








