Selama akhir pekan, bantuan kemanusiaan yang dijatuhkan dari udara menewaskan lima orang di Gaza ketika parasut dox bantuan gagal terbuka. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah metode bantuan kemanusiaan ini aman.
Menurut seorang saksi di lapangan, paket tersebut jatuh seperti roket ketika parasutnya tidak terbuka. Di antara negara yang mengirim bantuan lewat udara tersebut, yakni Amerika Serikat, Yordania, Mesir, Prancis, dan Belanda, belum ada negara yang mengaku bertanggung jawab atas bencana itu.
Sementara itu, koridor maritim terus dibahas sebagai alternatif potensial untuk penyaluran bantuan kemanusiaan, selain pembukaan perbatasan darat yang menimbulkan kendala logistik. Kapal Spanyol, Open Arms, dijadwalkan berlayar dari Larnaca ke Gaza, namun belum ada gambaran mengenai apa yang akan terjadi ketika bantuan tiba. Dengan tidak adanya pelabuhan yang berfungsi, tidak jelas bagaimana kapal tersebut dapat berlabuh secara fisik di Gaza, sementara rencana logistik untuk mendistribusikan bantuan setelah tiba masih belum diketahui.
Meski demikian, tim Open Arms yang memiliki 200 ton makanan yang disediakan oleh badan amal AS, World Central Kitchen, optimis mampu mengatasi tantangan tersebut. “Apa yang awalnya tampak sebagai tantangan yang tidak dapat diatasi kini berada di ambang realisasi,” demikian bunyi postingan di akun X Open Arms.
Skeptisisme terhadap kelangsungan koridor maritim Amerika Serikat terus meningkat ketika Pentagon mengungkapkan bahwa diperlukan waktu hingga dua bulan dan sebanyak 1.000 tentara AS untuk membangun dermaga sementara yang diusulkan Presiden AS Joe Biden di Gaza, sehingga semakin meningkatkan keraguan terhadap kelangsungan koridor maritim di Gaza.
“Rencana AS untuk mendirikan dermaga sementara di Gaza untuk meningkatkan aliran bantuan kemanusiaan akan menjadi pengalih perhatian dari masalah sebenarnya, yaitu kampanye militer Israel yang tidak pandang bulu, serta pengepungan yang kejam,” kata Avril Benoit, Direktur Eksekutif Doctors Without Borders.
“Makanan, air, dan pasokan medis yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Gaza hanya tersedia di seberang perbatasan. Israel perlu memfasilitasi, bukan menghalangi aliran pasokan. Ini bukan masalah logistik; ini adalah masalah politik. Daripada mengandalkan militer AS untuk mencari solusi (yang sulit), AS harus mendesak akses kemanusiaan dengan menggunakan jalan dan titik masuk yang sudah ada,” tambahnya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








