Israel telah melancarkan serangan besar-besaran di Kota Jenin dan kamp pengungsiannya di Tepi Barat yang diduduki. Operasi ini, yang diberi nama sandi “Iron Wall,” merupakan serangan militer terbesar di wilayah tersebut sejak awal tahun ini.
Serangan pada Selasa malam itu membunuh setidaknya 10 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya. Dalam rekaman video malam hari yang dibagikan oleh Al Jazeera Arabic, terdengar suara tembakan yang berkelanjutan saat kendaraan militer Israel bergerak sepanjang jalan, sementara suara drone memenuhi langit Jenin.
Serangan ini melibatkan pasukan Israel, kendaraan lapis baja, buldoser militer, helikopter Apache, dan drone. Operasi militer tersebut tidak hanya mengakibatkan korban jiwa dan luka, tetapi juga menghalangi akses bantuan medis. Direktur Rumah Sakit al-Razi di Jenin, Fawwaz Hammad, menyatakan bahwa banyak korban tidak dapat dijangkau karena ambulans dihalangi oleh pasukan Israel. Akibatnya, sejumlah orang yang terluka terpaksa dibiarkan tergeletak di jalan tanpa pertolongan.
Menurut laporan kantor berita Palestina, Wafa, pasukan Israel juga memasang gerbang besi di pintu masuk kota-kota dan desa-desa di Tepi Barat sebagai bagian dari strategi “memperketat pengepungan.” Langkah ini semakin membatasi pergerakan warga Palestina dan menjadikan komunitas mereka terisolasi.
Selain di Jenin, serangan juga dilaporkan terjadi di Kamp Pengungsi Aida di utara Bethlehem dan Kota Tulkarem di utara Tepi Barat, serta di Kamp pengungsi al-Ein di barat Nablus. Penangkapan massal juga berlangsung di tempat lain di Tepi Barat, termasuk penangkapan 64 warga Palestina di Qalqilya.
Operasi ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di wilayah Tepi Barat yang diduduki, ketika ancaman terhadap warga Palestina semakin intensif sejak dimulainya agresi Israel di Gaza. Tidak hanya serangan militer, warga Palestina juga menghadapi serangan brutal dari pemukim Israel.
Serangan di Jenin ini terjadi setelah kebuntuan yang panjang antara para pejuang di kamp pengungsi tersebut dan Otoritas Palestina, menyusul lebih dari sebulan pengepungan. Dengan meningkatnya ketegangan, banyak yang khawatir bahwa situasi akan semakin memburuk di bawah kebijakan pemerintahan baru Amerika Serikat.
Warga Palestina kini terus berjuang di tengah ancaman konstan dari pendudukan Israel, yang menggunakan alasan “melawan terorisme” untuk melegitimasi tindakan represif mereka. Situasi ini menunjukkan perlunya perhatian internasional untuk menghentikan siklus kekerasan yang terus berlangsung.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








