Gencatan senjata yang diumumkan di Jalur Gaza sejak satu bulan lalu terbukti begitu rapuh. Selama periode tersebut, Israel berulang kali melanggar perjanjian dengan serangan yang hampir terjadi setiap hari. Rentetan serangan ini kembali menimbulkan gelombang korban jiwa dan luka-luka. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 242 orang telah terbunuh dan 622 lainnya terluka. Puncak serangan terjadi pada 19 dan 29 Oktober yang membunuh total 154 orang dalam dua hari. Harapan bahwa gencatan senjata dapat menjadi jeda yang memberi sedikit kelegaan bagi masyarakat Gaza pun sirna, berganti dengan kenyataan pahit bahwa kekerasan belum benar-benar berhenti.
![Grafik jumlah korban yang terbunuh dan terluka selama satu bulan diberlakukannya gencatan senjata [Al Jazeera]](https://www.aljazeera.com/wp-content/uploads/2025/11/INTERACTIVE-Israel-has-killed-at-least-242-Palestinians-despite-ceasefire-1762837095.png?quality=80&quality=80)
Gencatan Senjata yang Tidak Memulihkan Perut Lapar
Alih-alih menjadi momen untuk memulihkan kehidupan yang hancur, jutaan masyarakat Gaza masih berjuang untuk keluar dari cengkeraman kelaparan yang parah, meski gencatan senjata telah terjadi. Setiap hari mereka masih berupaya keras untuk memperoleh makanan demi mengganjal rasa lapar karena ketersedian bahan pangan yang masih sangat terbatas.
Faktanya, gencatan senjata tidak menghalangi Israel untuk tetap memberlakukan blokade ketat dan bahkan menyaring jenis barang yang diizinkan masuk. Lebih dari 350 jenis makanan penting dan bergizi, seperti daging, susu, biji-bijian, dan sayuran dilarang masuk ke Gaza. Meskipun beberapa jenis buah dan sayur diizinkan, harganya sangat mahal sehingga sulit dijangkau warga.
Sebaliknya, berbagai makanan yang tidak bergizi, seperti makanan ringan, cokelat, keripik, dan minuman soda justru diperbolehkan memasuki Gaza. Akibatnya, masyarakat tetap tidak dapat memenuhi nilai gizi minimum yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia. Berdasarkan data Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), sedikitnya 100.000 perempuan dan anak-anak kini menderita malnutrisi akut yang parah, dengan total keseluruhan kasus mencapai 11,38 persen dari populasi terdampak.
Gencatan senjata yang telah berlaku selama lebih dari sebulan belum bisa memulihkan kelaparan yang terjadi di Gaza. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan bahan bakar dan gas, yang membuat lebih dari 60 persen rumah tangga harus membakar limbah untuk memasak makanan mereka (OCHA, November 2025). Dengan kata lain, sekalipun senjata berhenti menyalak, perut masyarakat Gaza tetap dibiarkan kosong dalam sunyi.
Gencatan Senjata, tetapi Air Masih Langka
Dua tahun agresi di Gaza bukan hanya merenggut kenikmatan sumber pangan, meratakan seluruh permukiman, dan menghancurkan berbagai fasilitas, tetapi juga meracuni tanah dan air yang menjadi sandaran hidup utama penduduk di dalamnya. Gencatan senjata rapuh ini turut memperlihatkan skala kerusakan lingkungan dengan semakin jelas.
Juru Bicara Pemerintah Kota Gaza, Hosni Muhanna, mengatakan bahwa sebagian besar air yang saat ini mencapai Gaza jumlahnya tidak lebih dari 15 persen dari kebutuhan aktual total penduduk. Sementara, jumlah air yang dibutuhkan untuk lebih dari 2 juta penduduk Gaza adalah sekitar 100.000 meter kubik setiap harinya. Adapun untuk setiap orangnya, data pekanan OCHA pada November 2025 menyebutkan bahwa 49% penduduk di Gaza saat ini hanya dapat mengakses air bersih kurang dari standar minimum darurat, yaitu hanya 6 Liter setiap orang per harinya untuk kebutuhan minum dan memasak.
![Anak-anak Palestina mengisi botol plastik dengan air di kamp pengungsian Palestina, di salah satu sekolah yang dijadikan tempat penampungan di lingkungan Remal, Kota Gaza [Omar Al Qatta / Al Jazeera]](https://www.aljazeera.com/wp-content/uploads/2025/11/000_834T3FC-1762594052.jpg?w=770&resize=770%2C513&quality=80&quality=80)
Gencatan Senjata Tanpa Atap untuk Bernaung
Sebulan sejak gencatan senjata diumumkan, sebagian penduduk Gaza mulai kembali ke rumah mereka—namun yang mereka temukan hanyalah puing-puing dan kenangan yang tertimbun di bawah reruntuhan. Tidak ada lagi tembok kokoh yang melindungi, hanya debu yang bertebangan dan sisa-sisa kehidupan yang pernah mereka bangun dengan penuh harapan.
Keadaan ini memaksa banyak keluarga untuk menetap di tenda-tenda darurat atau mencoba membangun tempat tinggal seadanya di antara reruntuhan. Definisi rumah tempat bernaung di Gaza kini hanyalah tenda sederhana yang tak mampu melindungi mereka dari hujan, angin, dan cuaca dingin yang menggigit.
![Seorang perempuan Palestina sedang menunjukkan bagian tendanya yang robek di tengah momen gencatan senjata [REUTERS/Mahmoud Issa Hak]](https://www.reuters.com/resizer/v2/DKVY5UIHNVL2LOUYREDWMEQBZE.jpg?auth=82b41ad4949580acb460d0f308f5834741715a56c233c156b93079d1e5b4936b&width=1080&quality=80)
![Ilustrasi susunan dalam tenda darurat di Gaza [Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera]](https://www.aljazeera.com/wp-content/uploads/2025/10/INTERACTIVE-Tent-layout-1761715572.png?resize=770,962&quality=80&quality=80)
Setidaknya lebih dari 75.000 penduduk Gaza masih berlindung di bawah tenda pengungsian–banyak juga di antaranya berada di gedung bantuan UNRWA. Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza (GMO), sekitar 2 juta dari 2,4 juta penduduk di Jalur Gaza telah mengungsi selama dua tahun terakhir akibat agresi. Hampir 280.000 di antaranya benar-benar kehilangan tempat tinggal, terpaksa berjuang untuk bertahan hidup di bawah tenda-tenda pengungsian yang padat. Sebulan setelah gencatan senjata diumumkan, bukan berarti mereka bisa benar-benar bebas. Masyarakat Gaza saat ini masih terus berjuang bertahan hidup di bawah tenda-tenda yang rapuh, di tengah harapan akan hari yang lebih tenang.
Gencatan Senjata Belum Bisa Melindungi Anak dan Perempuan Seutuhnya
Anak dan perempuan merupakan kelompok yang paling rentan serta kerap menjadi sasaran empuk dalam kekerasan dan serangan yang tak mengenal batas. Data menunjukkan setidaknya 18.592 korban agresi di Gaza merupakan anak-anak dan 12.400 lainnya adalah perempuan (PCBS, November 2025).
Kelompok rentan ini telah menanggung beban agresi yang tak tertahankan. Banyak yang terbunuh di antara mereka, ada pula yang mengungsi, memikul tanggung jawab baru sebagai ibu tunggal, dan berupaya keras mempertahankan keluarga mereka di tengah kehancuran dan kelaparan. Berdasarkan laporan UN Women (Oktober 2025), satu dari tujuh keluarga di Gaza kini dipimpin oleh perempuan, dan sebagian besar dari mereka telah mengungsi berkali-kali.
![Seorang perempuan sedang memberi makan anaknya di depan tenda mereka di kamp pengungsian Kota Gaza bagian barat [UNFPA Palestina]](https://www.unfpa.org/sites/default/files/styles/webp/public/home-banner-news/Untitled%20design%20-%202025-08-25T110149.817.png.webp?itok=aPE_fIDH)
Dukungan Kemanusiaan dari Adara untuk Gaza di Tengah “Gencatan Senjata yang Rapuh”
Gencatan senjata mungkin memberi jeda untuk bernapas lebih lega atau bergerak sedikit lebih leluasa, namun penderitaan di Gaza belum berakhir. Skala kehancuran yang luar biasa besar dan ditambah dengan adanya pelanggaran yang dilakukan Israel selama gencatan senjata, membuktikan bahwa krisis kemanusiaan di sana masih jauh dari kata usai. Persoalan ketersediaan pangan, tempat tinggal, dan pasokan medis yang sangat dasar saja belum dapat teratasi, apalagi hal lain yang lebih “mewah” seperti bahan bakar dan alat berat untuk mengurai kerusakan.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, Adara Relief International terus berupaya hadir untuk masyarakat Gaza dengan menyalurkan bantuan dan harapan. Melalui kolaborasi dengan mitra penyalur di lapangan, Adara secara konsisten menyalurkan bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan prioritas masyarakat. Berdasarkan pemantauan dari Site Management Cluster (SMC) Gaza, kebutuhan prioritas yang teridentifikasi saat ini meliputi tempat tinggal, kebutuhan kebersihan pribadi, serta kebutuhan pangan dan air bersih.
Adapun bentuk dukungan Adara terhadap krisis kemanusiaan yang berlaku di Gaza sampai saat ini di antaranya adalah bantuan pangan, air bersih, kebutuhan darurat anak dan perempuan, serta tenda darurat yang sekaligus disiapkan untuk menghadapi musim dingin.
![Potret penyaluran makanan siap saji pada bulan November 2025 yang Adara lakukan dalam mendukung ketahanan pangan di kamp pengungsian Gaza [Dok. Penyaluran Adara, 2025]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/2025_10_18_13_49_IMG_4968-1-scaled.jpg)
Melalui dukungan yang berkelanjutan, kita dapat membantu penduduk Gaza untuk menghadapi pergulatan mereka dengan krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini. Berkolaborasi dalam memberikan bantuan untuk masyarakat Gaza dapat menjaga nyala harapan mereka agar tetap hidup dan bertahan, meski berada di tengah gencatan senjata yang penuh dengan badai dan belum mampu menghadirkan perlindungan seutuhnya untuk mereka.
Anisa Maisyarah, S.Hum.,M.Si.
Penulis merupakan anggota Departemen Research and Development (RND) Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam (KWTTI) Universitas Indonesia.
Sumber:
Adara Palestine Situation Report
Aljazeera
Anadolu Agency
OCHA OPT
PCBS
Relief Web
Reuters
UNRWA Situation Report
UN Women
UNFPA
UN News
![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-750x375.jpg)







