• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Satu Tahun Genosida Gaza, Peringatan Matinya Hukum Humaniter Internasional terhadap Kejahatan Israel

by Adara Relief International
Oktober 8, 2024
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 7 mins read
0 0
0
Satu Tahun Genosida Gaza, Peringatan Matinya Hukum Humaniter Internasional terhadap Kejahatan Israel

Roket-roket di atas langit Gaza (The Guardian)

223
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Satu tahun lalu, Sabtu, 7 Oktober 2023, Neama al-Barawi masih sangat mengingat ketika ia bangun pagi untuk menyiapkan anak-anaknya ke sekolah dan membuat roti untuk keluarganya. Pada pukul 06.29 waktu setempat, perempuan berusia 36 tahun itu mendengar suara roket yang diluncurkan ke wilayah “Israel” dari dekat rumahnya di Beit Lahia, salah satu komunitas paling utara di Gaza.

Karena takut, al-Barawi memutuskan untuk menjaga kelima anaknya di rumah hari itu. Di sebelahnya, Youssef al-Barawi, keponakannya, sedang bersiap-siap untuk kuliah di Universitas Beit Lahia, tempat ia belajar kedokteran. “Saat itulah seluruh hidup kami berubah. Bahkan sekarang, kami masih tidak tahu apakah kami sedang bermimpi atau menjalani kenyataan, karena apa yang terjadi pada kami berada di luar bayangan kami,” kata pemuda berusia 22 tahun itu.

Ketika Neama al-Barawi selesai memanggang roti, dia langsung mengumpulkan anak-anaknya di sekelilingnya dan menggulir berita di ponselnya. Sekitar satu jam kemudian, dia mendengar siulan dan sorak-sorai di jalan luar rumahnya saat sebuah mobil yang dikendarai militer Israel melaju melewati rumahnya. Menyadari kondisi tersebut, al-Barawi mulai mengumpulkan dokumen dan pakaian serta barang-barang penting, dan menyadari bahwa itu adalah kali terakhir ia berkumpul bersama keluarganya di rumah yang hangat, dengan kondisi semuanya dalam keadaan hidup.

 

Kilas Balik Singkat 7 Oktober 2023

Ledakan di Deir el-Balah di Gaza (The Guardian)

Tanggal 7 Oktober 2023 bukanlah awal mula penyebab genosida yang dilakukan Israel hingga detik ini terhadap Jalur Gaza, yang sekarang juga meluas ke Lebanon. Akan tetapi, hari tersebut penting untuk diingat, karena menjadi penanda perlawanan Palestina disaksikan secara besar-besaran oleh dunia. Tanggal tersebut bukanlah waktu yang dipilih secara sembarang oleh para pejuang Palestina, melainkan momentum yang sangat tepat sasaran setelah melalui pengamatan panjang. Hari itu, pejuang Palestina menyadari bahwa Israel berada pada titik terlemahnya, sedangkan pejuang Palestina justru tengah berada di titik terkuat.

Jumat, 6 Oktober 2023, merupakan hari ketika kaum Yahudi tengah merayakan pergantian tahun pembacaan kitab Taurat versi mereka, atau yang lebih dikenal dengan perayaan Simcat Torah. Di setiap jalanan kota-kota “Israel”, pesta besar dilaksanakan. Hari itu, orang-orang Yahudi berkumpul di sinagoge dan aula besar, bernyanyi sambil menenggak berbotol-botol minuman alkohol, dengan bendera Bintang David dikibarkan di setiap penjuru kota.

Pada perayaan tersebut, musik-musik keras dimainkan ketika kitab suci dibacakan di tengah-tengah mereka, sedang mereka yang hadir sibuk berdansa dan berpesta. Sembari memegang gulungan kitab Taurat, mereka menari-nari. Semakin malam, botol-botol minuman keras semakin banyak dibagikan, membuat sebagian besar orang yang berpesta malam itu tertidur, terjatuh, bahkan muntah di tempat mereka bersenang-senang.

Pada Sabtu, 7 Oktober 2023 dini hari, ketika orang-orang Yahudi masih terlena dengan kenikmatan duniawi, mata mereka seolah melihat bintang-bintang berjatuhan dari langit ke rumah-rumah mereka. Suara keras lintasannya dan nyaring ledakannya belum bisa mereka cerna sepenuhnya karena otak mereka yang masih dalam pengaruh alkohol. Hingga akhirnya mereka menyadari, itu bukanlah bintang, melainkan roket-roket pejuang Palestina yang menghujani permukiman-permukiman Yahudi.

Roket-roket tersebut adalah respon atas penderitaan panjang penduduk Palestina selama ini. Tersiksa di bawah penjajahan bertahun-tahun, menghadapi serangan dan pelecehan setiap hari, dan terutama menyaksikan Masjid Suci Al-Aqsa dinodai secara tidak manusiawi, telah membuat mereka geram. Hingga hari itu, setelah menyusun rencana panjang dengan matang, pejuang Palestina memutuskan untuk melawan, sebab mereka tahu bahwa umat Yahudi berada di titik terlemah ketika mereka sedang melakukan perayaan Simcat Torah.

Dini hari itu, roket-roket ditembakkan ke arah permukiman Yahudi di sekitar Gaza seperti Sderot, Ashod, Askelon, dan Tel Aviv. Dari sisi lain, roket-roket juga ditembakkan ke permukiman yang berbatasan dengan Tepi Barat seperti Nir Am, Nir Oz, Kfar Aza, dan Beersheba. Ketika roket-roket ditembakkan, para pejuang bertakbir seolah membuka sejarah baru dalam perlawanan bangsa Palestina terhadap Zionis. Dan hari itu, perjuangan tidak lagi pernah sama seperti sebelum-sebelumnya, sebab ada harga mahal yang harus dibayar untuk pengorbanan melawan penjajah Zionis dan sekutu-sekutunya yang berdarah dingin. Ini adalah awal mula operasi Thuufanul Aqsa.

Kondisi Gaza Setelah Satu Tahun Genosida

Ledakan bom menghantam sebuah masjid di Gaza (Reuters)

Satu tahun genosida telah membawa Gaza berada di titik terendahnya. Hampir 43.000 warga Palestina di Gaza telah terbunuh, sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, melukai lebih dari 96.000 orang, sedangkan 90 persen penduduknya tidak memiliki pilihan lain selain mengungsi. Selain itu, Israel juga telah merusak habis-habisan infrastruktur vital Jalur Gaza, seperti rumah sakit, sekolah, universitas, dan kamp pengungsi, meski sejumlah lokasi telah ditetapkan sebagai “zona aman”.

Hingga 25 September 2024, operasi militer Israel telah merusak atau menghancurkan hampir 60% bangunan di Gaza, menurut analisis data satelit yang dilakukan oleh Jamon Van Den Hoek dari Oregon State University dan Corey Scher dari CUNY Graduate Center. Diperkirakan 227.591 unit rumah telah rusak atau hancur, bersama dengan 68% jaringan jalan di daerah kantong itu, menurut dua analisis terbaru dari Pusat Satelit PBB. “Hanya 17 dari 36 rumah sakit yang masih berfungsi sebagian, dan semuanya mengalami kekurangan bahan bakar, pasokan medis, dan air bersih,” Oxfam menambahkan.

Dari sudut pandang tenaga kesehatan, setahun setelah agresi di Gaza, situasi medis dan kemanusiaan menjadi sangat buruk, kata Doctors Without Borders/Medecins Sans Frontieres (MSF). Warga Palestina di Gaza menderita luka akibat serangan, penyakit menular, kekurangan gizi, dan trauma mental saat tinggal dalam kondisi pengungsian yang penuh sesak dan tidak manusiawi. Staf medis MSF merawat pasien  luka dan cedera setiap hari akibat pengeboman. Orang-orang mengalami luka bakar yang parah, tulang yang remuk, dan anggota tubuh yang diamputasi—semuanya memerlukan perawatan intensif dan jangka panjang yang tidak mungkin dilakukan dalam kondisi saat ini. 

Sejak genosida dimulai Oktober lalu, tim MSF telah merawat lebih dari 27.500 pasien yang mengalami cedera akibat kekerasan, dengan lebih dari 80 persen luka terkait dengan penembakan. “Pengeboman Israel di daerah berpenduduk padat telah berulang kali menyebabkan cedera dalam skala besar,” kata Dr. Amber Alayyan, manajer program medis MSF. “Tim kami terpaksa melakukan operasi tanpa anestesi, menyaksikan anak-anak meninggal di lantai rumah sakit karena kurangnya sumber daya, dan bahkan merawat rekan dan anggota keluarga mereka sendiri. Sementara itu, sistem perawatan kesehatan di Gaza telah dibongkar secara sistematis oleh pasukan Israel.” Ia juga menambahkan bahwa sistem perawatan kesehatan kini berada di ambang kehancuran karena saat ini, hanya 17 dari 36 rumah sakit yang berfungsi sebagian di Gaza.

Selama setahun terakhir, dunia telah menyaksikan hukum internasional dilanggar setiap hari dengan impunitas total. Serangan Israel yang membabi buta dan tanpa henti telah membunuh dan melukai warga sipil dengan tingkat kecepatan yang sangat tinggi. Israel terus menggunakan kelaparan sebagai senjata perang, menghalangi makanan untuk mencapai anak-anak yang kelaparan. Keluarga-keluarga diperintahkan bergerak dari satu daerah ke daerah lain seperti bidak di papan catur, kemudian dibom di sekolah-sekolah dan tenda-tenda tempat mereka diperintahkan untuk berlindung. 

Seluruh lingkungan sekarang menjadi puing-puing, ketika sekolah-sekolah, rumah sakit, dan tempat-tempat keagamaan semuanya menjadi sasaran serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih banyak pekerja kemanusiaan, petugas medis, guru, dan jurnalis telah terbunuh di Gaza daripada di tempat-tempat lain di dunia. Peringatan tentang pembersihan etnis, genosida, dan kejahatan perang terus diabaikan karena setiap hari terus membawa kengerian baru dan keluarga-keluarga dipaksa tinggal di “zona aman” yang luasnya semakin lama semakin menyusut. Seluruh masyarakat Gaza sedang dihancurkan, dan dunia dipaksa untuk menyaksikannya.

Satu Tahun Genosida, Perjuangan Masih Belum Usai

Anak-anak Gaza menyaksikan burung terbang di depan reruntuhan bangunan (Reuters)

Kini, kejahatan perang Israel tidak berhenti di Jalur Gaza, tetapi Israel telah memperluas operasi dan serangannya ke Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, Suriah, Yaman, dan Lebanon untuk meningkatkan genosida ini menjadi perang regional. Sayangnya, meskipun ada seruan untuk gencatan senjata dan negosiasi, Israel menolak untuk terlibat dalam perundingan damai apa pun. Sebaliknya, Israel justru melakukan pembunuhan terhadap para pemimpin penting Poros Perlawanan yang mengancam mereka. Dari pembunuhan Ismail Haniyeh hingga pembunuhan Kepala Hizbullah beberapa waktu lalu, Hassan Nasrallah. 

Selama berlangsungnya genosida, dukungan AS adalah salah satu faktor yang membuat Israel tidak menghentikan operasinya, meski sesungguhnya mereka pun kewalahan. Sejak serangan 7 Oktober, AS, di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden, telah memberikan dukungan penuh terhadap kejahatan perang Israel di Gaza atas nama pembelaan diri Israel. Mereka menawarkan persetujuan politik, ekonomi, militer, dan diplomatik terhadap rencana yang dibuat oleh Netanyahu. Baru-baru ini, AS juga telah menyetujui paket militer senilai $20 miliar untuk Israel guna mendukung genosida yang sedang berlangsung, yang telah meluas bahkan ke luar dari Jalur Gaza.

Hari ini, peristiwa satu tahun genosida Gaza telah memberikan banyak pelajaran. Pertama, perjuangan Palestina akan bertahan sampai Palestina mencapai negara yang berdaulat dan merdeka. Kedua, Israel, meskipun meraih kemenangan taktis, akan segera menjadi takut akan ketidakamanan, yang membuat mereka lebih bergantung lagi pada AS. Dan terakhir, PBB dan komponen utamanya, seperti Dewan Keamanan PBB, Majelis Umum PBB, dan Mahkamah Internasional, telah terbukti tidak dapat menggunakan kekuasaan mereka terkait masalah perdamaian dan keamanan, untuk menghentikan kejahatan Israel yang semakin lama semakin meluas.

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.

Sumber:

Ar-Risalah, Amar. (2024). Thufaan Al-Aqsa, The Fight for Freedom. Depok: PT. Generasi Shalahuddin Berilmu.

Gaza 1 Year Accountability Report. (2024). Oxfam.

https://www.#/20241005-one-year-of-the-gaza-war/

https://www.middleeasteye.net/opinion/israel-one-year-gaza-genocide-belligerence-ending-why 

https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/one-year-world-has-failed-civilians-gaza-terrifying-global-consequences 

https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/acaps-briefing-note-palestine-one-year-hostilities-impact-education-gaza-04-october-2024 

https://www.doctorswithoutborders.org/latest/one-year-war-without-rules-leaves-gaza-shattered 

https://www.axios.com/2024/10/05/gaza-destruction-map-israel-hamas

https://www.thenewhumanitarian.org/feature/2024/10/04/one-year-war-gaza

https://www.theguardian.com/world/2024/oct/05/one-year-in-gaza-since-the-7-october-attack-photo-essay

https://www.theguardian.com/world/2024/oct/02/one-year-on-gazan-families-mourn-their-dead-and-question-what-future-holds 

https://www.reuters.com/pictures/pictures-one-year-war-israel-gaza-2024-10-04/ 

https://apnews.com/article/israel-hamas-gaza-war-israelis-mood-depression-28daf7e6aa8ddab419cf76e31b111d4f 

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

ShareTweetSendShare
Previous Post

Update Hari ke-367: Pasukan Israel telah Melakukan 3.654 Pembantaian di Jalur Gaza Sejak 7 Oktober

Next Post

Israel Membuat RUU untuk Hentikan Operasi UNRWA

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
24

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
26
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
115
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Israel Membuat RUU untuk Hentikan Operasi UNRWA

Israel Membuat RUU untuk Hentikan Operasi UNRWA

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630