Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara menjadi saksi kekejaman tak terbayangkan setelah serangkaian serangan Israel yang menargetkan fasilitas tersebut. Dalam insiden terbaru pada Ahad (22/12), generator listrik dan tangki bahan bakar rumah sakit ini dihancurkan oleh serangan pesawat tak berawak, menyebabkan pemadaman total di tengah upaya menyelamatkan nyawa para pasien.
Saksi mata melaporkan bahwa serangan yang terjadi pada hari Ahad (22/12), disertai dengan pengeboman dan tembakan peluru artileri, menimbulkan kerusakan parah pada berbagai departemen rumah sakit, termasuk peralatan medis vital. Dalam suasana mencekam, staf medis dan pasien berupaya mencari perlindungan di lorong-lorong untuk menghindari tembakan dan penembakan yang terus berlangsung.
Marwan Al-Hams, direktur rumah sakit lapangan, menyebut kondisinya sangat “mengerikan” karena komunikasi dengan tim medis menjadi terputus. Hussam Abu Safiya, Direktur RS Kamal Adwan, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menambahkan bahwa peluru menembus dinding, merusak peralatan medis, dan bahkan memerintahkan evakuasi tanpa menyediakan ambulans yang memadai bagi pasien yang terluka.
Israel telah melancarkan operasi darat besar sejak awal Oktober, dengan alasan untuk menghentikan kelompok perlawanan Hamas. Namun, Palestina menyatakan bahwa operasi itu sebagai upaya pengusiran paksa. Dalam kondisi tersebut, akses bantuan kemanusiaan seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Gaza semakin terbatas.
Kementerian Kesehatan Palestina mengutuk keras serangan ini, menggambarkannya sebagai genosida terhadap pasien, tenaga medis, dan warga sipil yang berlindung di sekitar rumah sakit. Organisasi ini juga mendesak komunitas internasional untuk mengambil tindakan segera.
Tragedi di Rumah Sakit Kamal Adwan menambah daftar panjang kekejaman dalam agresi di Gaza, yang telah membunuh lebih dari 45.200 orang sejak 7 Oktober 2023, mayoritas perempuan dan anak-anak. Pengadilan Kriminal Internasional telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang di Gaza, sementara Mahkamah Internasional sedang menyelidiki kasus genosida.
Meskipun begitu, keheningan komunitas internasional terhadap pelanggaran hak asasi manusia ini terus menjadi ironi yang menyakitkan bagi rakyat Palestina. Tindakan segera sangat diperlukan untuk mencegah lebih banyak korban dan mengakhiri krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








