Di koridor sempit Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, Mahmoud Abu Salim (27tahun) terbaring di atas selimut tipis. Empat hari lalu ia ditembak tentara Israel saat menunggu truk bantuan makanan. Tanpa tempat tidur, ia menjalani operasi di lantai rumah sakit sebelum kembali dibaringkan di lorong.
Kondisi ini bukan pengecualian. Departemen gawat darurat dan rawat inap telah menampung hingga tiga kali lipat dari kapasitasnya. Koridor, halaman, bahkan balkon diubah menjadi ruang perawatan darurat. Ratusan pasien dirawat di lantai, sebagian menjalani operasi di atas selimut. Jenazah pun sering dibiarkan berjam-jam karena lemari pendingin telah penuh.
Direktur Al-Shifa, Dr. Mohammed Abu Salmia, menyebut situasi ini sebagai “kehancuran total sistem kesehatan Gaza”. Tingkat keterisian ranjang mencapai 300%. Stok obat dan peralatan medis tinggal kurang dari 1% dari kebutuhan, antibiotik habis, dan angka amputasi melonjak akibat infeksi yang tak tertangani. “Jika kondisi ini berlanjut, ribuan pasien akan mati bukan karena luka mereka, tapi karena ketiadaan obat dan makanan,” ujarnya.
Tragedi serupa terlihat di Rumah Sakit Al-Ahli. Adam al-Sousi (14 tahun), terluka akibat serangan udara. Ia dirawat di balkon rumah sakit dengan hanya beralaskan selimut. Sang ibu terus mendampinginya, menahan tangis karena tak ada ranjang yang tersedia. “Setiap hari saya lihat puluhan orang terluka dirawat di lantai. Rumah sakit ini bukan lagi rumah sakit, tapi kamp raksasa bagi yang terluka,” katanya.
Para tenaga medis pun bekerja di ambang kelelahan. Perawat Issam al-Ar’eer mengaku sering bekerja lebih dari 18 jam, merawat pasien di lantai dengan peralatan seadanya. “Lebih dari separuh pasien yang meninggal sebenarnya bisa diselamatkan jika ada peralatan medis dasar. Orang-orang yang terluka ini mati dua kali: sekali oleh misil dan sekali lagi oleh kelalaian yang dipaksakan kepada kami,” ujarnya dengan suara bergetar.
Dari lorong-lorong rumah sakit Gaza, satu hal tergambarkan dengan jelas, yaitu di tengah runtuhnya sistem kesehatan, mimpi terbesar pasien bukan lagi kesembuhan, tapi sekadar sebuah ranjang untuk berbaring.
Sumber:
The New Arab








