Masih segar dalam ingatan kita, ketika Israel menyerukan penduduk Gaza untuk berlindung di zona aman bagi mereka. Zona aman yang dimaksud yaitu Rafah, wilayah Gaza bagian Utara. Sejak meletusnya serangan 7 Oktober 2023 lalu, lebih dari separuh penduduk yang berhasil menyelamatkan nyawa mereka pun terpaksa mengungsi di wilayah tersebut. Banyak di antara mereka terluka, kelaparan, dan kehilangan tempat tinggal, sehingga terpaksa harus berlindung di bawah tenda-tenda pengungsian dengan segala keterbatasan.
Entah pada serangan yang keberapa kalinya di Gaza, Senin tanggal 6 Mei, pasukan Israel menyerukan kepada penduduk setempat untuk meninggalkan zona aman Rafah. Mereka memaksa keluarga-keluarga Palestina untuk pindah ke sebidang tanah yang sempit di Jalur Gaza, yaitu Al Mawashi. Tatkala serangan hadir pada Minggu malam 26 Mei, rudal-rudal Israel menghujani wilayah Rafah Timur. Api pun melahap ganas tenda-tenda pengungsian setempat. Banyak pengungsi yang sedang terlelap dalam tidurnya, ada pula yang sekadar berkumpul bersama keluarga, dan ada yang baru saja menuntaskan ibadah shalat malamnya menjadi korban.
Akibat tragedi malam yang membara di tanah Rafah, banyak di antaranya yang masih selamat benar-benar harus angkat kaki mencari perlindungan diri. Termasuk di antaranya adalah ribuan yatim yang telah kami asuh selama dua tahun belakangan ini.

Bagaimana keadaan mereka sekarang?
Sebanyak 2100 yatim yang diasuh oleh Adara Relief International bersama ribuan orang tua asuh dari Indonesia maupun luar negeri, tentulah menjadi sasaran sekaligus korban dalam serangan agresi ini. Sejak hadirnya serangan 7 Oktober 2023 silam, anak asuh beserta para musyrifah (pendamping) terpaksa mengungsi lagi ke Gaza Utara. Mereka terpencar, sebab masing-masing perlu untuk menyelamatkan diri beserta keluarga mereka. Mencari tempat yang aman suatu keharusan dalam setiap harinya, bahkan mereka rela harus berpindah-pindah sebanyak 2 hingga 3x setiap pekan.
Baseel, salah seorang mitra Adara di Gaza mengungkapkan bahwa secara umum, kondisi Gaza saat ini sangat mengkhawatirkan. Selama terjadinya agresi, Israel telah memfokuskan penyerangan pada empat aspek utama: infrastruktur, agama, ekonomi, dan pendidikan. Keempat aspek ini merupakan fondasi kehidupan yang sangat berarti bagi penduduk Gaza. Perusakan infrastruktur dan pembatasan pada praktik keagamaan, serta gangguan ekonomi dan pendidikan telah memberikan tekanan yang besar pada masyarakat Gaza. Jika kerusakan infrastruktur terus terjadi, di mana lagi mereka dapat mencari perlindungan? Apabila kebebasan beragama terus terancam, ke mana lagi mereka dapat memenuhi hak spiritual dalam diri mereka? Manakala stabilitas ekonomi terganggu, bagaimana mereka harus bertahan hidup? Dan kalau aktivitas pendidikan terganggu, bagaimana generasi mendatang dapat membangun masa depan yang lebih baik?
Jannat Abu Sha’ar, salah seorang yatim kami, mengungkapkan kesehariannya di tengah kegaduhan serangan agresi ini kepada tim kami di lapangan. Dia menceritakan bahwa setiap hari waktunya habis untuk mengantri memperoleh air bersih. Antrian panjang memaksanya terus bersabar demi menghilangkan dahaga yang mencekik. Ananda yatim yang dibiayai oleh salah satu Sahabat Adara, Ibu Tyagita Meyril Rahmadhani, menuturkan bahwa perlunya perjuangan besar untuk memperoleh makanan. Makanan yang tersedia seringkali tidak layak untuk dimakan, jauh dari kata bergizi dan bernutrisi. Meskipun demikian, hari-harinya tidak lepas dari kegiatan membaca Al Quran sebagai salah satu sumber kekuatan dan hiburan yang mengobati rasa dukanya.
“Aku ingin hidup seperti anak-anak yang lain,” ucap Jannat Abu Sha’ar.
Kondisi anak-anak kami di Gaza pada saat ini sangat mengkhawatirkan. Tidak ada istilah aman di Gaza saat ini. Rafah sebagai “zona aman” yang Israel janjikan, sekarang menjadi omong kosong belaka. Banyak di antara mereka terpisah dari keluarga dan para musyrifah (pendamping). Saat ini mereka terpaksa harus mengungsi di Al Mawashi, perbatasan antara Rafah dan Khan Younis. Sebagian di antaranya berlindung di daerah Deir Balah, bagian tengah Gaza. Akses internet juga terbatas, sehingga menyulitkan para musyrifah untuk memperoleh informasi terkini mengenai anak-anak yang mereka dampingi. Namun, musyrifah terus menjalin hubungan komunikasi dengan musyrifah lainnya untuk tetap mengawasi dan memberikan bantuan kepada anak asuh. Atau, mereka memperoleh informasi kabar anak asuh dengan meminta bantuan dari orang-orang yang mereka percaya. Para musyrifah pun terus berupaya dan rela berpindah dengan jarak sekian ratus kilo untuk menyampaikan bantuan yang Sahabat Adara titipkan kepada yatim yang terpencar ini.
Agresi yang masih terus terjadi sampai detik ini mengakibatkan anak-anak yatim di Gaza semakin bertambah. Sejauh ini, sebanyak 34.000 anak telah menjadi yatim. Keadaan ini menyulitkan tim di lapangan untuk menjangkau anak-anak kami yang termasuk untuk dibiayai dalam program rutin Dekap Yatim Palestina (DYP). Akan tetapi, di tengah segala keterbatasan yang ada, bantuan dari para orang tua asuh tercinta di Indonesia sangat mengobati duka dan luka yang mereka rasakan.
“Aku berterima kasih kepada orang tua asuhku di Indonesia atas doa yang terus dilangitkan dan bantuan yang diberikan. Aku berharap, semoga bantuan ini terus berlanjut agar aku bisa hidup sebagaimana mestinya, sebagaimana anak-anak yang lain.” Ungkap Ibrahim Kamal Al Nirab, salah seorang yatim yang diasuh oleh Kelompok KKCP 4.
Di tengah kondisi Gaza yang mencekam, kita semua yakin bahwa bantuan yang kita berikan akan sangat berarti bagi mereka, terutama bagi anak-anak yatim. Ketangguhan mereka mengajarkan kita betapa kuatnya semangat manusia dalam menghadapi cobaan terberat sekalipun. Mereka adalah simbol dan harapan, yang menginspirasi kita untuk terus berbagi, mendukung, dan membantu meringankan beban mereka di tengah situasi yang penuh dengan tantang ini. Di tengah Rafah yang membara, terdapat kekuatan anak-anak Gaza yang terus menyala. [AM]


![Ragad Nadim Aga menerima hadiah dari program HAQ karena telah memeroleh juara pertama di sekolahnya [Dok. Penyaluran Adara 2025]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/08/L591-A-2-120x86.jpeg)
![Anak-anak di Gaza kehilangan rumah mereka dan terpaksa hidup bersama anak-anak lainnya di kamp pengungsian [Dok. UN News]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/08/1-120x86.jpg)




