• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Rafah, Kota Tenda di Ujung Selatan Gaza dan Bencana Kemanusiaan Tak Berkesudahan

by Adara Relief International
Februari 12, 2024
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 5 mins read
0 0
0
Tenda-tenda pengungsian berdiri di jalan-jalan dan taman-taman di Rafah. (Sky News)

Ilustrasi

141
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Israel telah mengidentifikasi Kota Rafah di Gaza selatan sebagai target serangan militer, padahal Rafah merupakan kota terakhir bagi penduduk Gaza untuk berlindung dari pengeboman dan serangan artileri Israel. Sejak awal agresi pada Oktober 2023, Israel telah memerintahkan penduduk Gaza di bagian utara dan tengah untuk mengungsi ke selatan. Namun, perpindahan itu nyatanya hanya untuk memperpanjang nafas sementara waktu. Setelah Jalur Gaza bagian utara dan tengah selesai diratakan, militer Israel memperluas daerah operasinya ke selatan Gaza.

Jalur Gaza memiliki populasi sekitar 2,3 juta orang yang tinggal di lima kegubernuran, yaitu Gaza Utara, Kota Gaza, Deir al-Balah, Khan Younis, dan Rafah. Luas Gaza secara keseluruhan adalah sekitar 365 kilometer persegi, dengan panjang 41 km (25 mil). Dengan luas wilayah yang sesempit itu, hanya dibutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk berkendara dari Beit Hanoun di ujung utara hingga ke Rafah di ujung selatan Gaza.

Agresi genosida Israel yang telah terjadi sepanjang 128 hari, terus mendesak penduduk Gaza untuk hidup berjejalan di Rafah, yang merupakan perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir. Kota ini biasanya dihuni oleh 280.000 orang. Namun, agresi terakhir Israel menyebabkan populasinya membengkak menjadi lebih dari 1,4 juta – sekitar tiga perempat dari populasi Gaza – dengan 600.000 di antaranya adalah anak-anak. Tenda-tenda pengungsian tampak memenuhi Rafah, kota dengan luas 64 kilometer persegi. Rafah pun menjelma kota tenda, tempat penduduk Gaza menambatkan jangkar terakhirnya untuk berlabuh, sebab di sana, tidak ada lagi tempat untuk berlayar.

Hanya selang waktu tiga bulan, Kota Rafah terlihat semakin padat dengan tenda pengungsi yang berjejalan (AP News)

Tujuan Israel sejak awal: mengusir penduduk Gaza dari seluruh wilayahnya

Pada Rabu (7/2), PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa militernya telah dipersiapkan untuk melancarkan operasi ke Rafah, “Kami sedang menuju kemenangan mutlak,” katanya. Selama 128 hari agresi genosida di Gaza, Israel telah membunuh 28.176 warga Palestina, melukai lebih dari 67.784 orang, dan meratakan sebagian besar wilayah di utara Gaza hingga menyerupai gurun yang hancur. Kehancuran serupa juga terlihat di Gaza tengah dan kota Khan Younis di selatan setelah selama berminggu-minggu menjadi titik fokus pengeboman dan serangan artileri Israel.

Kini, pengeboman Israel terhadap Rafah semakin meningkat. Pada Jumat (9/2), serangan Israel meratakan dua bangunan, membunuh sedikitnya delapan orang, termasuk tiga anak-anak dan seorang wanita. Serangan tersebut semakin menggila pada hari ini. Pada Senin (12/2) dini hari militer Israel telah mengonfirmasi bahwa mereka melakukan serangkaian serangan di daerah Shaboura, Rafah. Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan bahwa sedikitnya 50 orang terbunuh dalam serangan tersebut, dan jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah.

Sementara itu, Netanyahu menyatakan bahwa ia juga telah mengarahkan militernya untuk merencanakan invasi darat ke Rafah. Israel sama sekali tidak peduli bahwa merekalah yang memerintahkan penduduk Gaza untuk mengungsi ke Rafah dan tidak mempertimbangkan dampak kehancuran potensial terhadap sekitar 1,4 juta orang Palestina di Rafah, yang sebelumnya dinyatakan sebagai zona aman.

Anggota keluarga Abu Mustafa meninggalkan rumah mereka akibat serangan Israel dan berlindung di perbatasan Gaza dengan Mesir. (Mohammed Salem/Reuters)

Deklarasi perang di Rafah oleh Israel ini menjadikan penduduk Gaza kehilangan tempat untuk berlari. Dengan letak Rafah yang berbatasan dengan Laut Mediterania di barat, “wilayah Israel” (Palestina yang dijajah) di timur, pasukan Israel yang masuk dari utara, dan Mesir di selatan, lokasi Rafah otomatis terkepung. Sejak awal, Mesir sudah menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membuka perbatasan untuk arus pengungsian, sebab dikhawatirkan Israel akan memanfaatkan momentum ini untuk mengeluarkan penduduk Gaza dari wilayah Palestina dan melarang mereka untuk kembali, sebagaimana yang terjadi pada Nakba 1948.

Rencana Israel untuk mengusir penduduk Gaza dari tanah air mereka memang sudah ditegaskan sejak awal perang, sebagaimana rekomendasi Kementerian Intelijen Israel mengenai pemindahan paksa dan permanen 2, 3 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza ke Semenanjung Sinai, Mesir. Dalam dokumen setebal 10 halaman, bertanggal 13 Oktober 2023, tertuang pilihan mengenai masa depan warga Palestina di Jalur Gaza dalam kerangka agresi Oktober 2023.

Dokumen tersebut merekomendasikan agar Israel bertindak untuk “mengevakuasi penduduk sipil (Gaza) ke Sinai selama perang; mendirikan kota-kota tenda dan kemudian membentuk kota-kota yang lebih permanen di Sinai utara yang akan menampung penduduk yang diusir; menciptakan zona steril sejauh beberapa kilometer di Mesir, dan [mencegah] kembalinya penduduk ke tempat tinggal di dekat perbatasan dengan Israel.” Pada saat yang sama, pemerintah di seluruh dunia, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, harus dimobilisasi untuk menyetujui dan melaksanakan langkah tersebut.

Pada akhirnya, serbuan Israel ke Rafah semakin memperkecil kemungkinan penduduk Gaza untuk bertahan. Mereka bisa saja wafat karena kelaparan sebab keberadaan Israel di Rafah sangat mungkin akan menutup sama sekali bantuan kemanusiaan melalui Penyeberangan Rafah; mereka bisa saja wafat karena luka yang tidak bisa diobati akibat persediaan obat-obatan yang habis; mereka bisa saja wafat karena penyakit-penyakit yang tidak berhenti berputar karena padatnya pengungsian atau karena kurangnya kebersihan; mereka bisa saja wafat karena pengeboman atau serangan lainnya. Ada banyak jalan menuju kematian yang dipertontonkan di hadapan mata dunia, sementara dunia tidak mampu menghentikannya sedikit pun.

Pengungsian panjang yang melahirkan kepasrahan

“Kami kelelahan. Aku serius, kami kelelahan. Israel dapat melakukan apa pun yang diinginkannya. Aku akan tetap duduk di tendaku dan akan mati di sini,” kata Jihan al-Hawajri, yang beberapa kali melarikan diri dari bagian utara Jalur Gaza dan sekarang tinggal bersama 30 kerabatnya di sebuah tenda di Rafah.

Kelelahan itu bukan hanya dirasakan oleh Jihan, melainkan oleh seluruh penduduk Gaza. Di Koridor Philadelphia, hamparan tanah sepanjang 14 kilometer di perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir, Saleh Razaina (42 tahun), seorang ayah dari empat anak, berlindung di tenda setelah ia mengungsi untuk keenam kalinya sejak awal serangan Israel pada 7 Oktober.

Ia mengatakan bahwa fisik dan mental keluarganya telah terkuras saat mencoba mencari tempat tinggal yang aman. “Kami datang dari Jabalia (di Jalur Gaza utara) dan mencari perlindungan di berbagai tempat dari utara ke selatan; di Kota Gaza, Deir al-Balah, Khan Younis, dan sekarang kami berada di Rafah. Beberapa hari setelah kami tiba, Israel mulai mengancam akan menyerang Rafah,” katanya kepada Middle East Eye.

Warga Palestina mengantre untuk mendapatkan makanan gratis di Rafah. Badan-badan bantuan internasional mengatakan Gaza menderita kekurangan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya akibat pengeboman, invasi, dan blokade Israel. (AP News)

Rafah adalah jantung bantuan kemanusiaan di Gaza, kota tempat truk-truk dari Mesir atau dari persimpangan terdekat masuk untuk mendistribusikan bantuan ke seluruh wilayah Jalur Gaza. Philippe Lazzarini, kepala UNRWA, memperingatkan bahwa serangan terhadap Rafah akan menciptakan bencana kemanusiaan tak berkesudahan. Tindakan militer yang diambil terhadap Rafah dan daerah sekitarnya juga dapat menyebabkan runtuhnya sistem bantuan kemanusiaan yang selama ini berjuang untuk menjaga agar penduduk Gaza tetap hidup.

Di Rafah, di ujung selatan Gaza, di ujung batas antara hidup dan mati, orang-orang yang selama ini berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan bertaruh nyawa, seolah mencapai titik kepasrahannya. “Kami sudah terkepung dan setiap menit harus menanggung rasa takut. Hati kami tidak terbuat dari besi atau batu. Kami lebih memilih kematian daripada harus mengungsi lagi,” ungkap Haitsam Jerjawi (37 tahun) yang mengungsi ke Rafah bersama keluarganya.

“Ke mana kami akan pergi? Tempat apa yang akan kami capai? Kami berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain bersama anak-anak kami yang ketakutan,” ujarnya. “Kami akan tetap di sini sampai perang ini berakhir, atau mereka akan membunuh kami, dan kami akhirnya akan beristirahat dengan damai.” (LMS)

 

Referensi

https://www.972mag.com/intelligence-ministry-gaza-population-transfer/

https://abcnews.go.com/International/netanyahu-this-week-interview/story?id=107130717

https://www.aljazeera.com/news/2024/2/2/israel-plans-ground-attack-on-rafah-last-refuge-for-gazas-displaced

https://www.aljazeera.com/news/2022/8/7/the-gaza-strip-explained-in-maps

https://www.aljazeera.com/news/2024/2/11/israel-working-on-rafah-invasion-in-gaza-despite-international-alarm

https://apnews.com/rafah-gaza-population-surge-photos

https://www.middleeasteye.net/news/war-gaza-displaced-palestinians-rafah-nowhere-to-go-israel-invasion

https://news.sky.com/story/israel-warned-of-repercussions-if-it-launches-ground-invasion-in-rafah-13069039

https://www.pbs.org/newshour/world/ill-die-in-my-tent-israels-next-target-in-gaza-war-is-likely-rafah-as-despair-spreads-through-population

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

https://www.scribd.com/document/681086738/Israeli-Intelligence-Ministry-Policy-Paper-on-Gaza-s-Civilian-Population-October-2023

https://www.theguardian.com/world/live/2024/feb/10/middle-east-crisis-israel-gaza-war-hamas-rafah-latest-news

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

Tags: ArtikelPalestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Israel Mengubah Rafah Menjadi Tempat Pembantaian

Next Post

Cuaca Ekstrem, Adara Salurkan Bantuan Pakaian Hangat di Rafah, Gaza Selatan

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
22

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
25
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Cuaca Ekstrem, Adara Salurkan Bantuan Pakaian Hangat di Rafah, Gaza Selatan

Cuaca Ekstrem, Adara Salurkan Bantuan Pakaian Hangat di Rafah, Gaza Selatan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630