Di manakah kamu dilahirkan? Umumnya anak-anak akan menjawab mereka dilahirkan di rumah sakit atau klinik. Akan tetapi, situasinya berbeda di Palestina. Antara tahun 2000–2005, sebanyak 67 perempuan Palestina terpaksa melahirkan di pos pemeriksaan karena berbagai alasan, umumnya karena mereka tidak diizinkan untuk melewati pos pemeriksaan sehingga tidak bisa mencapai rumah sakit. Dalam jangka waktu tersebut, 36 bayi yang dilahirkan di pos pemeriksaan dinyatakan meninggal karena tidak mendapat penanganan dan perawatan yang tepat.
Kasus tersebut baru satu dari sekian banyak kejahatan yang terjadi di pos pemeriksaan Israel. Inilah realita di Palestina, yang setiap perbatasannya dihantui oleh ‘monster’ yang bernama pos pemeriksaan (checkpoint).
Ramadan dari Balik Pagar Penghalang

“Saya merasa benar-benar tersesat,” kata Nuruddin Odeh (53), ranselnya melorot di salah satu bahunya. Ia tertinggal sendirian di belakang, sedangkan istri dan putri remajanya berhasil melewati pos pemeriksaan. Tahun ini, ketika terjadi periode kekerasan yang melonjak di Tepi Barat, Israel telah menaikkan batas usia untuk jemaah laki-laki, yang membuat Odeh tidak lagi memenuhi syarat. “Anda ditarik-tarik, seakan-akan mereka mempermainkan Tuhan.”
Di sisi lain, terlihat seorang gadis remaja berusia 16 tahun dari Kota Jenin dengan panik menelepon orang tuanya yang lebih dulu berhasil memasuki Al-Quds (Yerusalem) tanpa dirinya. Tak jauh dari sana, seorang remaja berusia 19 tahun dari Ramallah telah mengganti mantelnya dan memakai kacamata hitam dan lipstik sebelum mencoba melewati pos pemeriksaan lagi. Tak jarang, mereka harus menemukan cara yang lebih berisiko untuk bisa sampai ke Kota Suci Al-Quds, tempat Masjid Al-Aqsa berada.
Abdallah, seorang mahasiswa kedokteran muda dari selatan Hebron, rela memanjat tangga reyot bersama dengan enam temannya di kegelapan menjelang fajar. Mereka kemudian meluncur ke bawah tali di sisi lain dinding, sehingga mereka bisa sampai ke Masjid Al-Aqsa untuk beribadah pada malam Lailatul Qadar. Mereka bahkan membayar seorang penyelundup masing-masing $70 untuk membantu mereka memanjat penghalang tersebut. “Jantungku berdetak sangat kencang. Aku yakin tentara dapat mendengarnya,” kata Abdallah.
Puluhan ribu jemaah Palestina dari seluruh Tepi Barat pada bulan Ramadan selalu berdesakan untuk bisa melalui pos pemeriksaan militer yang mengarah ke Al-Quds Timur. Mereka rela bersusah payah sedemikian rupa demi bisa beribadah di Masjid Al-Aqsa, terutama pada hari-hari terakhir Ramahan. Bagi jemaah Palestina, beribadah di Masjid Al-Aqsa adalah ibadah inti saat Ramadan, tetapi sayangnya ratusan ribu orang dilarang menyeberang secara legal ke Al-Quds. Sebagian besar pria di bawah 55 tahun ditolak di pos pemeriksaan karena “pembatasan keamanan” Israel, sehingga sering menggunakan cara berbahaya untuk sampai ke Masjid Al-Aqsa.
Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, Israel melonggarkan beberapa perbatasan, mengizinkan perempuan dan anak kecil dari Tepi Barat untuk memasuki Al-Quds tanpa izin. Jemaah muslim yang berusia antara 45 hingga 55 tahun yang memiliki izin yang sah juga dapat beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa, walaupun izin tersebut sangat sulit bahkan nyaris mustahil untuk didapatkan. Israel mengatakan pihaknya telah berkomitmen untuk “melindungi kebebasan beribadah” untuk semua agama sembari menyatakan bahwa pembatasan terhadap jemaah Palestina merupakan “langkah keamanan penting”. Namun, bagi warga Palestina, pembatasan itu berdampak sangat buruk.
Otoritas Israel tidak menjawab pertanyaan tentang berapa banyak aplikasi Palestina yang telah mereka tolak dari Tepi Barat dan Gaza. Akan tetapi, mereka mengatakan bahwa hingga April 2023, hanya sekitar 289.000 warga Palestina – mayoritas dari Tepi Barat dan beberapa ratus dari Jalur Gaza – yang telah mendapat izin mengunjungi Al-Quds (Yerusalem) untuk beribadah. Sisanya, militer Israel mengungkapkan telah menangkap ratusan warga Palestina yang menyelinap melalui lubang di pagar penghalang selama Ramadan, menambahkan bahwa pasukan akan “terus bertindak melawan risiko keamanan yang timbul dari penghancuran pagar keamanan dan masuk secara ilegal”.
Abdallah kemudian melanjutkan ceritanya. Ia mengatakan bahwa pengalaman keberhasilannya memasuki Kota Tua Al-Quds memberinya kegembiraan yang sangat besar. Akan tetapi, kegembiraan itu segera diikuti dengan kecemasan. Polisi Israel ada di mana-mana; kadang-kadang menghentikan para pemuda dan meminta untuk melihat kartu identitas mereka. Abdallah mencoba sebisa mungkin tetap tenang dan berbaur, mengenakan pakaian kasual seperti kebanyakan orang Al-Quds dan tersenyum agar terlihat santai, walaupun sesungguhnya isi pikirannya berkecamuk. “Perasaan saya campur aduk. Setiap saat saya tahu saya bisa ditangkap,” katanya dari pintu masuk ke Masjid Al-Aqsa. “Tapi ini masjid kami, hal itu membuat saya merasa bebas.”
Ancaman di Tiap Perbatasan

Pada Maret 1993, Israel memberlakukan penutupan terhadap Tepi Barat dan Jalur Gaza, kemudian mereka mulai memasang pos pemeriksaan militer pertama di sepanjang Garis Hijau di antara Al-Quds Timur dan beberapa bagian di Tepi Barat. Seiring berjalannya waktu, pos-pos pemeriksaan ini berkembang biak dan menjadi bagian dari sistem yang kompleks dan masif, memecah kota dan desa Palestina sekaligus merampas kebebasan bergerak warga Palestina.
Sejak bulan September 1948, beberapa bulan setelah terjadinya peristiwa Nakba (Malapetaka) yang menandai pengusiran besar-besaran penduduk Palestina, orang-orang Palestina yang tersisa di Al-Quds Barat dijejalkan ke dalam zona berpagar, yang disebut Zona A yang terletak di lingkungan al-Baq’a. Orang-orang Palestina dipaksa untuk tetap berada di dalamnya tanpa kebebasan mobilitas atau akses ke seluruh kota, bahkan ke rumah mereka sendiri selama lebih dari satu tahun.
Di dalam sisa tanah yang dijajah Israel setelah tahun 1948, kekuasaan militer diberlakukan atas orang Palestina yang telah ditetapkan menjadi warga negara sampai tahun 1966 menjelang terjadinya peristiwa Naksa; berdasarkan peraturan darurat yang berlaku di bawah Mandat Inggris. Tujuan utama dari peraturan tersebut adalah untuk membatasi kebebasan bergerak warga Palestina. Pusat wilayah dengan populasi Arab-Palestina yang cukup banyak langsung dinyatakan sebagai zona militer agar penduduknya tidak dapat keluar tanpa izin dari komandan militer setempat.
Di antara banyaknya pos pemeriksaan, 39 pos ditetapkan sebagai “titik masuk ke Israel” atau “pos pemeriksaan terakhir sebelum Israel”, atau lebih tepatnya titik batas sebelum bisa memasuki wilayah Palestina yang telah dijajah oleh Israel, yang berdasarkan hukum internasional merupakan wilayah dalam batas-batas yang ditetapkan tahun 1948 (di Garis Hijau 1949). Namun pada kenyataannya, sebagian besar pos pemeriksaan Israel sama sekali tidak ditempatkan di Garis Hijau, melainkan di dalam—dan terkadang jauh di dalam— wilayah Tepi Barat. Dengan kata lain, pos pemeriksaan telah menyiksa penduduk Palestina sejak peristiwa Nakba, dan semakin parah setelah terjadinya Naksa.
Beberapa pos pemeriksaan yang saat ini ditempatkan di sekitar Al-Quds berasal dari tahun 1990-an. Namun, sebagian besar dipasang pada musim gugur tahun 2000 seiring dengan dimulainya pembangunan Tembok Pemisah pada 2002. Di Al-Quds (Yerusalem) sendiri, terdapat 18 pos pemeriksaan yang mengelilingi kota secara langsung: 13 adalah pos pemeriksaan yang mengontrol masuk ke wilayah Al-Quds Timur yang dikuasai Israel, sedangkan 5 sisanya terletak di antara permukiman Palestina di Tepi Barat di sekitar Al-Quds[1].

Pada bulan Juni 2020, menurut data United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN-OCHA), di seluruh Tepi Barat sudah terdapat 179 pos pemeriksaan, 154 gerbang jalan, 68 penghalang jalan, dan 371 jenis hambatan pergerakan lainnya terhadap warga Palestina. Jumlah tersebut belum termasuk 84 gerbang pertanian di Tembok Apartheid yang membatasi warga Palestina untuk mengakses tanah pertanian mereka, yang sebagian besar hanya dibuka secara musiman dan untuk waktu singkat di siang hari.
Selain itu, ribuan pos pemeriksaan sementara didirikan secara spontan oleh tentara Israel di sepanjang jalan Tepi Barat setiap tahun (biasanya disebut sebagai “pos pemeriksaan terbang”). Antara April 2019 hingga Maret 2020, pasukan Israel mengerahkan lebih dari 1.500 pos pemeriksaan terbang di Tepi Barat. Antara Januari 2017 hingga Agustus 2018, pasukan Israel mengerahkan sekitar 4.924 pos pemeriksaan terbang di Tepi Barat.
Berikut adalah deskripsi dari beberapa pos pemeriksaan Israel :
- Pos Pemeriksaan Qalandiya
Pos pemeriksaan terbesar adalah Qalandiya yang terletak sebelah utara Al-Quds. Pos pemeriksaan ini mengontrol semua pergerakan masuk ke Al-Quds dari utara (Ramallah dan seterusnya ke seluruh Tepi Barat). Ini adalah salah satu dari tiga pos pemeriksaan yang diizinkan untuk digunakan oleh warga Palestina dengan kartu identitas Palestina, dan merupakan satu-satunya yang terletak di tepi utara Al-Quds. Saat ini, lebih dari 25.000 warga Palestina melewati pos pemeriksaan Qalandiya setiap harinya, dan pos pemeriksaan tersebut menangani sepertiga dari pergerakan harian warga Palestina yang masuk dan keluar dari Tepi Barat.
- Pos pemeriksaan 300
Pos pemeriksaan utama lainnya yang mengontrol akses ke Al-Quds adalah Pos Pemeriksaan 300 di selatan, yang memisahkan antara kota Betlehem dan Al-Quds. Pos Pemeriksaan 300 adalah yang kedua dari tiga pos pemeriksaan yang boleh digunakan oleh pemegang kartu identitas Palestina. Seperti Qalandiya, pos pemeriksaan 300 mulai berlaku sejak tahun 1990-an. Pos pemeriksaan ini terdiri dari kombinasi tembok berbahan balok semen, kantong pasir, dan tentara Israel yang mengadang, dengan tujuan untuk memeriksa dokumen warga Palestina yang bepergian ke Al-Quds. Saat ini, sekitar 15.000 warga Palestina melewati pos pemeriksaan ini dengan berjalan kaki setiap harinya.
- Pos Pemeriksaan Al-Zaytun/Ras Abu Sbitan
Pos pemeriksaan ketiga yang boleh digunakan oleh pemegang kartu identitas Palestina adalah al-Zaytun/Ras Abu Sbitan di timur, yang memisahkan wilayah al-‘Izariyya dari Al-Quds Timur.
- Pos Pemeriksaan Eyal
Terletak di kota Qalqilya, Palestina bagian barat laut, tempat dengan jumlah pengangguran yang tinggi akibat pembatasan ketat oleh Tembok Pemisah Israel. Diperkirakan sekitar 4.000 pekerja dari seluruh Tepi Barat utara melintasi Pos Pemeriksaan Eyal setiap harinya.
- Pos Pemeriksaan Al Taybeh
Terletak tepat di sebelah selatan kota Tulkarem di Palestina utara. Diperkirakan hingga 15.000 pekerja Palestina melewati Pos Pemeriksaan Taybeh setiap harinya. Pada tahun 2014, dua pria Palestina tewas tertindih akibat kondisi yang terlalu padat di pos pemeriksaan.
- Pos Pemeriksaan Tarqumia
Terletak di dekat kota Palestina Hebron di Tepi Barat selatan. Antara 7.000 dan 8.000 pekerja Palestina melintasi pos pemeriksaan Tarqumiya setiap harinya. Pada tahun 1998, tentara Israel di pos pemeriksaan melepaskan tembakan ke sebuah bus yang membawa pekerja Palestina yang tidak bersenjata, menewaskan tiga orang[2].
Monster Bermata Merah yang Siap Menyerang

Tentara Israel bukanlah satu-satunya ancaman yang membuat penduduk Palestina bergidik ngeri setiap harus melewati pos pemeriksaan. Ada yang lebih mengerikan dari itu, yaitu teknologi yang Israel gunakan di pos pemeriksaan. Tahun ini, Israel telah mempercepat penggunaan pengenalan wajah di Tepi Barat untuk melacak warga Palestina dan membatasi kebebasan bergerak mereka, menurut sebuah laporan oleh Amnesti International, yang menyebut teknologi tersebut sebagai “apartheid otomatis”.
Di Al-Quds Timur, tentara Israel telah memperluas jaringan pengawasan di seluruh kota dengan sistem pengenalan wajah yang dikenal sebagai Mabat 2000. Sistem ini memungkinkan otoritas Israel untuk menargetkan pengunjuk rasa dan mengontrol warga Palestina di bawah pengawasan konstan, bahkan saat mereka melakukan aktivitas sehari-hari.
Dikenal dengan sebutan “Wolf Pack“, ini adalah program yang digunakan oleh militer Israel dengan tujuan menyimpan database profil setiap orang Palestina di Tepi Barat, menurut laporan dari Amnesti. Warga Palestina di Hebron (Al-Khalil) dilaporkan dipaksa berdiri di depan pos pemeriksaan berpagar di hadapan kamera yang memindai wajah mereka. Perangkat lunak–yang dikenal sebagai Red Wolf–kemudian menggunakan sistem kode warna untuk memberitahu tentara Israel apakah warga Palestina yang dipindai wajahnya tersebut diperbolehkan lewat, harus diinterogasi, atau bahkan harus ditahan.
Sistem akhirnya mempelajari wajah-wajah yang sering melewati pos pemeriksaan. Jika data individu tidak ada, mereka akan langsung terdaftar di Red Wolf tanpa sepengetahuan mereka. Di kasus yang lain, warga Palestina di Hebron mengatakan kepada Amnesti bahwa kamera dan sensor yang dipasang Israel telah diarahkan ke rumah pribadi dan kamar tidur keluarga mereka. Bagaikan mata merah monster yang selalu mengawasi, Red Wolf sama sekali tidak menyisakan ruang untuk privasi bagi penduduk Palestina.
Selain Red Wolf, ada juga teknologi pendamping lainnya yang digunakan di pos pemeriksaan, yang disebut Blue Wolf. Teknologi ini lebih mengerikan lagi dibanding Red Wolf, karena fiturnya tersedia di smartphone. Itu diluncurkan sebagai bagian dari strategi pengawasan yang lebih luas yang diprakarsai oleh tentara Israel pada tahun 2016 dan digambarkan sebagai “Facebook untuk Palestina”. Mobilitas perangkat lunak yang bisa berada di dalam genggaman berarti bahwa teknologi pengenalan wajah telah berkembang bahkan di luar pos pemeriksaan.
“Sebelum 2021, teknologi pengenalan wajah hanya ada di pos pemeriksaan, tapi sejak 2021 sudah ada di tangan setiap tentara di ponsel mereka. Tentara memindai wajah kami dengan kamera telepon, dan tiba-tiba perilaku mereka terhadap kami berubah karena mereka telah melihat semua informasi,” kata seorang aktivis dari Hebron kepada Amnesti International.
Hebron adalah rumah bagi sekitar 200.000 warga Palestina yang harus melewati pos pemeriksaan pengawasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti bekerja dan berbelanja bahan makanan. Berbanding terbalik dengan 900 atau lebih pemukim Yahudi yang juga tinggal di kota tersebut, dengan perlindungan militer Israel yang ketat serta tidak harus melewati pos pemeriksaan.
Selain di Hebron, teknologi mengerikan ini juga telah berkembang di lingkungan Sheikh Jarrah dan Silwan di Al-Quds Timur. Pada 2018, otoritas Israel memasang pos pemeriksaan permanen di pintu masuk Gerbang Damaskus ke Kota Tua Al-Quds, dan upaya pengawasan meningkat setelah protes tahun 2021 terhadap penggusuran di Sheikh Jarrah. Sementara itu, di lingkungan Sheikh Jarrah, peneliti Amnesti Internasional melaporkan bahwa mereka menemukan satu hingga dua kamera dalam jarak setiap 15 kaki, yang artinya setiap langkah kaki di Palestina selalu diawasi oleh monster bermata merah yang kapan saja bisa memangsa.
Baca juga “Ketika Anak-Anak Harus Berhadapan dengan Mesin Tembak Otomatis di Pos Pemeriksaan” di sini
Monster Itu Masih Menghantui Palestina
Beberapa bulan lalu, selama lebih dari 16 hari berturut-turut, kota wisata Jericho (Ariha) di Tepi Barat tetap berada di bawah pengepungan militer Israel yang menyesakkan, dengan pos pemeriksaan yang menghambat lalu lintas warga Palestina di semua pintu masuk ke kota. Pos pemeriksaan militer telah didirikan oleh tentara pendudukan Israel di semua pintu masuk utama ke Jericho sejak 22 April 2023, mengakibatkan kemacetan lalu lintas dan antrean kendaraan yang luar biasa panjang karena tentara secara menyeluruh memeriksa kartu identitas orang-orang serta barang-barang mereka. Orang-orang Palestina yang mencoba meninggalkan kota atau memasukinya terpaksa harus menunggu berjam-jam di pos pemeriksaan militer yang didirikan di jalan-jalan menuju keluar kota.
Menurut perkiraan resmi Palestina, sektor pariwisata Jericho telah mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai 221 juta shekel (sekitar $70 juta) sejak awal Februari sebagai akibat dari tindakan Israel yang sewenang-wenang dan pembatasan pergerakan bagi penduduk kota. Kerugian tersebut diakibatkan oleh penutupan 15 hotel, restoran, juga sejumlah tempat wisata dan hiburan. Selain itu, sektor pertanian juga terpengaruh, dengan kerugian diperkirakan mencapai $15 hingga $20 juta, sebagai akibat dari penolakan akses petani ke lahan pertanian mereka atau penjualan barang-barang mereka di pasar lokal.
Jericho dan kota-kota lainnya di Palestina, terutama yang terletak di Al-Quds dan Tepi Barat, telah menjadi saksi atas kekejaman pos pemeriksaan Israel yang berdiri di hampir seluruh perbatasan kota. Layaknya monster bermata merah, pos-pos tersebut memindai seluruh komponen penduduk Palestina, bahkan pada ranah yang sifatnya privasi. Tak jarang, pos pemeriksaan juga menjadi area penangkapan, bahkan menjadi arena tembak yang merenggut nyawa.
Di pos pemeriksaan Israel, tidak terhitung lagi banyaknya kisah memilukan yang terjadi. Ada istri yang dipisahkan dari suaminya, anak-anak yang terpaksa menyeberang tanpa orang tuanya, bahkan tak sedikit yang harus meregang nyawa akibat teknologi apartheid yang sewenang-wenang. Hingga hari ini, pos pemeriksaan ilegal Israel masih menjamur di tanah Palestina, mengancam kebebasan bergerak seluruh penduduknya, dari anak-anak hingga orang lanjut usia. Pada akhirnya, pos pemeriksaan ilegal Israel hanyalah satu dari sekian banyak cabang dari sistem apartheid Israel di tanah Palestina. Sistem ini tidak akan pernah bisa berhenti, kecuali kita memilih untuk memberantasnya hingga ke akarnya, menghapus Zionis selamanya dari tanah Palestina.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://interactive.aljazeera.com/aje/2018/commuting-through-israeli-checkpoints/index.html
https://www.aljazeera.com/news/2023/5/7/chilling-effect-israels-ongoing-surveillance-of-palestinians
https://www.aljazeera.com/program/the-listening-post/2023/5/6/israels-automated-occupation-hebron
https://www.btselem.org/freedom_of_movement/checkpoints_and_forbidden_roads
https://www.jerusalemstory.com/en/article/checkpoints-part-1-severing-jerusalem
https://machsomwatch.org/en/content/checkpoints-and-barriers
https://pij.org/articles/980/a-palestinian-perspective-on-checkpoints
https://www.un.org/unispal/document/auto-insert-186867/
- https://www.jerusalemstory.com/en/article/checkpoints-part-1-severing-jerusalem ↑
- https://interactive.aljazeera.com/aje/2018/commuting-through-israeli-checkpoints/index.html ↑
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








