Pada 7 Oktober 2023, Israel memulai genosida terhadap Gaza. Lebih dari dua tahun kemudian, Gaza telah hancur akibat serangan Israel. Namun, bahkan sebelum genosida, Gaza telah menghadapi pemadaman listrik bergilir setiap hari karena terbatasnya impor listrik dari Israel dan kekurangan bahan bakar.
Meskipun menarik diri dari permukiman ilegal di Gaza pada tahun 2005, Israel terus mengendalikan akses masuk dan keluar dari wilayah Palestina tersebut, bahkan berulang kali menyerangnya. Oleh karena itu, bahkan dalam kondisi normal, sebagian besar rumah tangga hanya menerima listrik beberapa jam per hari, bergantung dari perpaduan yang rapuh antara pasokan impor dan satu-satunya pembangkit di Gaza.
Situasi semakin memburuk tajam setelah 7 Oktober, ketika Israel menyatakan “pengepungan total” terhadap Gaza. Israel memutus pasokan listrik dan memblokir impor bahan bakar. Dalam beberapa hari, pembangkit listrik Gaza berhenti beroperasi karena kehabisan bahan bakar. Pada 11 Oktober 2023, wilayah tersebut mengalami pemadaman total, menurut badan-badan PBB.
Tanpa pasokan bahan bakar dan terputusnya jalur transmisi, rumah-rumah, rumah sakit, sistem air, dan jaringan komunikasi kehilangan akses listrik yang andal. Akibatnya, mereka beralih ke penggunaan generator yang terbatas dan tidak berkelanjutan.
Baca juga : “Setelah Dua Tahun Genosida, Satu-satunya Pembangkit Listrik di Gaza Kembali Beroperasi“
Sejak saat itu, infrastruktur listrik Gaza terus memburuk akibat kekurangan bahan bakar dan kerusakan fisik jaringan listrik yang meluas. Generator tetap menjadi alternatif utama, tetapi sangat terbatas oleh kelangkaan bahan bakar. Kondisi ini memengaruhi layanan penting seperti perawatan kesehatan, produksi air, dan telekomunikasi.
Selama periode antara tahun 2025 dan 2026, sistem kelistrikan Gaza secara luas menjadi tidak berfungsi, dengan akses listrik yang terfragmentasi, tidak konsisten, dan sebagian besar bergantung pada solusi darurat daripada jaringan listrik yang stabil.
Karena pasokan listrik dari pemerintah kota terputus selama dua tahun di Gaza, beberapa alternatif sementara telah muncul, seperti lampu bertenaga surya. Akan tetapi, harganya tetap tidak terjangkau bagi sebagian besar penduduk, karena telah meningkat sepuluh kali lipat menjadi sekitar 300 shekel ($95) selama genosida.
Adapun sistem energi surya, harganya bahkan lebih mahal, mencapai $420 per panel, dan dengan biaya tambahan baterai – sekitar $1.200 – dan inverter. Semua barang ini juga langka karena pembatasan ketat Israel terhadap masuknya barang-barang tersebut ke Jalur Gaza sejak awal genosida.
Di antara alternatif selama genosida adalah sistem kelistrikan berbasis generator pribadi yang beroperasi menggunakan bahan bakar diesel. Namun, layanan tersebut juga tidak terjangkau bagi banyak orang. Selain itu, layanannya pun berfluktuasi karena pasokan bahan bakar yang tidak teratur melalui jalur penyeberangan.
Dampak pemadaman listrik tidak hanya terbatas pada penerangan atau pengisian daya. Akan tetapi, dampaknya meluas ke setiap detail kehidupan sehari-hari, terutama bagi keluarga dengan anak-anak. Tidak ada kulkas, tidak ada mesin cuci, bahkan susu bayi pun tidak bisa disimpan lebih dari dua atau tiga jam. Anak-anak juga terpengaruh secara psikologis karena kurangnya sarana hiburan elektronik atau pengalihan perhatian dari lingkungan sekitar mereka yang suram.
Sumber: Al Jazeera








