Pemuda adalah generasi penerus bangsa yang di pundaknya terdapat tanggung jawab dan harapan yang besar dari generasi sebelumnya. Pemuda, dengan semangat dan energinya yang membara, dapat menentukan ke arah mana masa depan suatu bangsa. Tak heran apabila Presiden Soekarno mengatakan bahwa hanya dengan 10 pemuda saja sudah dapat mengguncang dunia. Sejarah mencatat besarnya peran pemuda dalam berbagai peristiwa di Indonesia.
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” – Soekarno
Begitu pula di Palestina, setiap generasi adalah pejuang, tidak peduli berapa usia mereka. Akan tetapi, ada suatu hal yang istimewa pada anak muda Palestina. Terlahirkan dalam kondisi bangsa yang sedang terjajah membuat mereka memiliki ketahanan yang tinggi, baik dalam fisik maupun mental. Ketidakadilan yang mereka saksikan sejak kecil membuat mereka terbiasa melakukan perlawanan demi mengembalikan kemerdekaan. Hingga hari ini, perjuangan tersebut masih berlanjut. Para pemuda tidak hanya berjuang di jalanan atau ruang publik, namun juga menyerukan keadilan di universitas tempat mereka mengenyam pendidikan, sembari mengibarkan bendera Palestina dengan penuh kebanggaan dan keberanian.
Tidak ada perjuangan yang selalu berjalan mulus. Demikian juga yang terjadi oleh para pemuda Palestina, terutama yang berstatus sebagai mahasiswa. Pada tanggal 25 Mei lalu, para mahasiswa mendapat ancaman dari anggota parlemen Zionis, Israel Katz, yang mengancam akan terjadinya Nakba selanjutnya apabila para pemuda masih terus mengibarkan bendera Palestina di universitas-universitas. Ia mengatakan:
“Peringatan kepada mahasiswa Arab yang mengibarkan bendera Palestina di universitas-universitas: Ingat (Nakba) ‘48! Ingatlah perang kemerdekaan kami (Israel) dan Nakba kalian. Jangan terlalu berlebihan. Jika kalian tidak kunjung tenang, kami akan memberi kalian pelajaran yang tidak akan terlupakan!”
Baca juga “Naksa, 55 Tahun Pasca Pengusiran yang Membuka Episode Penjajahan Berkelanjutan” di sini
Dia melanjutkan, “Tanyakan kepada orang tua Anda, kakek dan nenek Anda, dan mereka akan menjelaskan kepada Anda bahwa pada akhirnya, orang-orang Yahudi akan bangkit. Mereka paham untuk mempertahankan diri sendiri dan gagasan negara Yahudi. Jangan terlalu berlebihan.”
Menyusul pernyataan tersebut, pada 30 Mei 2022 Komite Menteri Israel untuk Legislasi Hukum menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) yang akan melarang pengibaran bendera Palestina di universitas-universitas atau lembaga-lembaga publik, terutama yang pemerintah Israel beri dana.
Menurut Saluran Ibrani 7, RUU tersebut akan diajukan ke pleno Knesset untuk pembacaan awal oleh anggota parlemen sayap kanan Partai Likud, Eli Cohen. Cohen mengatakan, “Kemunafikan dan hasutan dari beberapa orang Arab harus dihentikan. Mereka ingin menikmati anggaran negara Israel dan pada saat yang sama menentang negara Israel dan merusak kedaulatannya. Siapa pun yang melihat diri mereka sebagai orang Palestina akan mendapatkan ‘bantuan’ yang mereka butuhkan dari kami untuk perjalanan satu arah ke Gaza,”
Rancangan Undang-Undang tersebut kemudian disahkan oleh Knesset Israel pada Rabu (1/5), dengan mengatakan bahwa bendera Palestina adalah bendera “negara musuh” yang harus dilarang untuk dikibarkan di universitas-universitas dan lembaga-lembaga yang didanai oleh Zionis. Pengesahan RUU tersebut berlanjut dengan semakin intensifnya penurunan bendera Palestina dari atap dan tiang penerangan listrik di desa-desa dan kota-kota Palestina, sebagai upaya Yahudisasi dan penghapusan identitas warga Palestina.
Universitas di Palestina, yang seharusnya menjadi tempat bagi para pemuda untuk menambah wawasan, pengalaman, dan belajar untuk mengemukakan pendapat telah berubah menjadi layaknya penjara bagi para mahasiswanya. Tak hanya pelarangan untuk bersuara dan berargumen, namun para mahasiswa juga seringkali menerima serangan baik verbal maupun fisik dari orang-orang Zionis.
Baca juga “Krisis Kemanusiaan di Gaza Derita Pengungsi Palestina dalam Blokade Israel” di sini
Serangan di universitas meningkat dalam peringatan 74 tahun Nakba pada bulan Mei lalu. Pasukan Zionis menyerbu beberapa universitas dan menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa yang berdemonstrasi memperingati peristiwa Nakba sambil mengibarkan bendera Palestina. Di antara universitas yang pasukan Zionis serbu yaitu Universitas Al-Quds di Abu Dis di Al-Quds (Yerusalem) Timur, Universitas Kadoorie di Tulkarm, Universitas Tel Aviv di Tel Aviv, dan Universitas Birzeit di Tepi Barat. Puluhan mahasiswa tercekik akibat serangan tersebut, beberapa bahkan kesulitas bernapas hingga harus mendapat penanganan dari tim medis.
Penyerbuan tersebut dilatarbelakangi oleh demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa untuk memperingati 74 tahun peristiwa Nakba dan mengingatkan kembali bahwa Nakba masih berlangsung hingga hari ini dengan terus dibangunnya permukiman-permukiman ilegal oleh Zionis di atas tanah Palestina[1]. Nahasnya, bahkan beberapa universitas Israel juga dibangun di atas tanah Palestina yang direbut. Beberapa di antaranya yaitu Universitas Tel Aviv yang dibangun di atas tanah desa Sheikh Muwannis Palestina, Universitas Ibrani yang dibangun di atas tanah Palestina yang disita di wilayah Al-Quds (Yerusalem) timur, dan Universitas Ariel yang dibangun di antara permukiman ilegal Zionis di Tepi Barat yang dijajah.
Pemuda Palestina menjadi korban serangan Zionis saat demonstrasi Nakba di Tepi Barat (Issam Rimawi/AA)
Serangan pasukan Zionis di universitas-universitas tersebut mendapat kecaman dari Gerakan Perjuangan Palestina. Hazem Qasim, juru bicara gerakan tersebut mengatakan: “Serangan pasukan Zionis terhadap mahasiswa Palestina di universitas-universitas mencerminkan perilaku penjajahan Israel yang terkenal kejam dan rasis yang telah membuat rakyat Palestina menderita sejak Nakba pada tahun 1948. Tindakan pasukan Zionis, ekstremis dan mahasiswa sayap kanan yang menyerang mahasiswa Palestina di universitas adalah tindakan rasis yang bertujuan untuk menekan kebebasan berekspresi dan bentuk terorisme sistematis terhadap rakyat Palestina,”
Baca juga “Pawai Yahudi, Parade Bendera yang Memicu Emosi Palestina” di sini
“Orang-orang Palestina telah menderita di bawah penindasan brutal Israel selama 74 tahun. Serangan semacam itu menegaskan bahwa proyek pemukim kolonial Israel, yang menyebabkan perampasan rakyat Palestina pada tahun 1948, sedang berlangsung. Serangan tersebut akan mendorong rakyat Palestina untuk tetap berkomitmen untuk mempertahankan identitas nasional mereka dan melanjutkan perjuangan mereka sampai mengakhiri penjajahan, serta mencapai aspirasi mereka untuk sebuah negara Palestina merdeka.” kata Qasim.
Di Universitas Birzeit, pasukan Zionis juga menangkap sejumlah mahasiswa yang merupakan aktivis dari blok Islam. Beberapa mahasiswa yang Israel tangkap di antaranya Koordinator Blok Islam Mu’tasem Zalloum dan Abdul Rahman Alawi, Wissam Turki, Muhammad Al-Fateh, dan Muhammad Arman. Mereka dilaporkan diculik beberapa jam menjelang pemungutan suara dalam pemilihan dewan mahasiswa yang dijadwalkan satu hari berikutnya. Pasukan intelijen Zionis juga mengirimkan ancaman kepada orang tua para mahasiswa tersebut dengan mengirimkan pesan teks yang memperingatkan bahwa anak-anak mereka tertawan karena telah berpartisipasi dalam pemilihan dewan mahasiswa.
Universitas Birzeit, tempat Zionis menangkap para aktivis mahasiswa menjelang pemilihan dewan mahasiswa (MEE)
Tidak hanya karena melakukan demonstrasi atau aktivitas-aktivitas lainnya, pasukan Zionis juga seringkali menyerang dan menangkap para mahasiswa hanya karena alasan sepele atau bahkan tanpa alasan sama sekali. Di Universitas Ibrani yang terletak di Al-Quds (Yerusalem) Barat, pasukan Zionis pada bulan Maret lalu menangkap dua orang mahasiswa hanya karena mereka mendengarkan musik Arab di area universitas. Berdasarkan laporan dua mahasiswa tersebut sedang duduk di kampus dan mendengarkan musik Arab menggunakan pengeras suara. Setelah itu, polisi Zionis segera mendatangi mereka dan membawa dua mahasiswa tersebut untuk diintrogasi. Dua mahasiswa tersebut akhirnya bebas, namun tidak boleh datang ke kampus dalam beberapa hari ke depan.
Baca juga “Dome of the Rock dan Kisah Abrahah yang Terulang” di sini
Kejadian ini mendapatkan perhatian dari organisasi nirlaba Israel Ir Amim. Perwakilan organisasi tersebut mengatakan, “Pihak berwenang senang memamerkan bahwa seiring waktu, jumlah siswa Palestina yang belajar di Universitas Ibrani terus bertambah. Akan tetapi tanggapan universitas menceritakan kisah yang berbeda. Universitas harus menjadi fokus pembelajaran dan penyebaran pengetahuan. Bukan membentuk persepsi rasis mahasiswa, ia polisi atau bukan, pada teman-teman kelas mereka. Universitas harus mendukung mahasiswa Palestina dan mengumumkan dengan suara bulat bahwa universitas benar-benar tidak bisa menerima penangkapan yang tidak dapat dibenarkan di daerah tersebut.”
Universitas Ibrani, dibangun di atas tanah Palestina yang disita di Al-Quds (Yerusalem) Timur (WAFA
Tidak hanya serangan secara fisik, serangan verbal dan ketidakadilan juga seringkali para akademisi alami di universitas-universitas. Ilan Pappe, seorang sejarawan Israel yang juga merupakan mantan dosen di Universitas Haifa adalah salah satunya. Ia adalah salah satu sejarawan yang objektif dalam membahas peristiwa-peristiwa sejarah. Bersama muridnya, seorang mahasiswa magister bernama Teddy Katz, ia sempat membuat penelitian yang mengungkap peristiwa pembantaian yang Zionis lakukan terhadap penduduk Palestina di desa Tantura.
Namun, penelitian yang Pappe dan Katz tulis secara ilmiah dan lengkap dengan data-data yang valid justru membuat mereka kehilangan profesi. Universitas Haifa memberhentikan Ilan Pappe sebagai dosen secara sepihak pada tahun 2008. Sementara Katz mendapat tuding telah melakukan ‘pencemaran nama baik’ sehingga penelitian thesisnya lenyap dari perpustakaan. Keduanya kemudian masuk ke dalam blacklist universitas. Mereka dituduh sebagai ‘pengkhianat’ sehingga penelitian-penelitian mereka dihapus dari perpustakaan dan mahasiswa lain dilarang untuk sekedar mencari tahu atau membaca penelitian-penelitian Pappe dan Katz[2].
Ilan Pappe, dosen yang diberhentikan dari Universitas Haifa karena meneliti tentang Tantura (ElectronicIntifada)
Baca juga “Kurban sebagai Syariat dan Hikmah bagi Umat” di sini
Serangan-serangan yang kerap Zionis lancarkan kepada para mahasiswa Palestina memiliki beberapa faktor, salah satunya yaitu karena universitas adalah salah satu lembaga pendidikan yang mendapat dana dari Zionis. Beberapa universitas mendapat keuntungan dari kedekatan mereka dengan militer Zionis dan perusahaan senjata. Universitas Technion, Bar-Ilan, dan Ben Gurion adalah beberapa universitas yang bekerja sama dengan militer Israel untuk mengembangkan kendaraan tempur tak berawak, mesin-mesin berat, dan proyek robotika yang bertujuan untuk melakukan kejahatan perang terhadap penduduk Palestina seperti penghancuran rumah-rumah penduduk.
Sejumlah universitas juga menawarkan beasiswa khusus bagi mahasiswa yang juga seorang tentara, khususnya yang ikut menyerang penduduk Palestina ketika terjadi eskalasi di Gaza pada tahun 2014 lalu. Universitas Haifa menawarkan tiga perguruan tinggi bagi para mahasiswanya untuk mendalami pelatihan militer dan menawarkan program setara Sarjana untuk anggota angkatan laut Israel. Sementara itu, Universitas Ibrani juga menyelenggarakan program khusus untuk merekrut para mahasiswanya ke dalam unit militer dan intelijen Israel.
Berbagai macam bentuk penyerangan dan ketidakadilan yang para mahasiswa Palestina dapatkan di universitas-universitas masih terus berlangsung hingga hari ini. Berdasarkan laporan dari Visualizing Palestine, sebanyak 40% mahasiswa Palestina menerima perlakuan rasisme dari fakultas mereka dan sejumlah mahasiswa tidak dapat mendaftar beasiswa karena mereka tidak ingin berpartisipasi dalam program militer Zionis. Sulitnya mengakses pendidikan bagi para pemuda Palestina membuat hanya 4% mahasiswa Palestina yang dapat berkuliah di universitas-universitas yang terakreditasi. Dari jumlah yang sedikit tersebut, mereka juga tidak mendapatkan hak yang setara dengan mahasiswa Israel, bahkan mendapat perlakuan yang sangat buruk dari pihak universitas.
Baca juga “Pembunuhan Shireen Abu Akleh, Upaya Membungkam Palestina” di sini
Universitas seharusnya merupakan tempat bagi para pemuda untuk mengembangkan diri mereka, bukan menjadi tempat yang penuh dengan ancaman dan serangan setiap harinya. Di Palestina, para mahasiswa hingga hari ini masih berjuang untuk menuntut hak seluruh penduduk Palestina agar dapat menjalani kehidupan yang normal layaknya orang-orang di belahan dunia lainnya. Mereka terus menuntut hak untuk dapat menjalani hari-hari tanpa tembakan, gas air mata, bom suara, diskriminasi, dan serangan-serangan lainnya. Seperti pemuda pada umumnya, mereka tidak akan berhenti sebelum mencapai tujuan mereka. Sebab mereka yakin, tanah Palestina sepenuhnya adalah milik mereka, dan penjajah harus angkat kaki secepatnya!
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
[1] Baca lebih lanjut di https://adararelief.com/nakba-hari-ini-pengusiran-yang-tidak-kunjung-berhenti/
[2] Baca lebih lanjut di https://adararelief.com/tragedi-tantura-dan-fakta-sejarah-yang-dikaburkan/
Sumber:
https://visualizingpalestine.org/visuals/academia-apartheid
https://english.wafa.ps/Pages/Details/129291
https://www.wafa.ps/Pages/Details/44903
https://hadfnews.ps/post/100013/قوات–صهيونية–خاصة–تعتقل–طلبة–من–جامعة–بيرزيت
https://english.wafa.ps/Pages/Details/129241
https://www.#/20220516-hamas-condemns-israel-attack-on-palestine-students-at-tel-aviv-university/
https://www.#/20220519-hamas-student-bloc-wins-landslide-victory-in-west-bank-university/
https://english.wafa.ps/Pages/Details/128607
https://english.wafa.ps/Pages/Details/127201
https://www.#/20220516-scores-of-palestinians-wounded-in-israel-crackdown-on-nakba-demonstrations/
https://qudsnen.co/israel-approves-bill-to-ban-raising-palestinian-flag-in-universities/
https://www.alaraby.co.uk/politics/الاحتلال–يقونن–حظر–رفع–العلم–الفلسطيني–فوق–المؤسسات-“الرسمية”
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








