Kehidupan anak Palestina sudah dikelilingi atmosfer gelap sejak mereka lahir akibat penjajahan Israel. Terlebih lagi bagi anak difabel[1] Palestina yang menjalani hari-hari mereka dengan keterbatasan sekaligus menghadapi situasi kehidupan yang menyeramkan. Penjajahan dan agresi yang Israel lakukan telah menghancurkan infrastruktur dan perekonomian, mengakibatkan minimnya pelayanan bagi penderita difabel. Agresi juga menyebabkan anak-anak Palestina yang normal dan sehat menjadi difabel hanya dalam hitungan hari. Komisi Penyelidikan PBB menemukan bahwa selama agresi militer Israel tahun 2014, hampir 10% dari 11.000 penduduk Palestina yang terluka, mengalami disabilitas fisik.[2]
Berdasarkan sensus penduduk pada 2017, 92.170 penduduk Palestina merupakan difabel. Sementara itu, sekitar 20% di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 18 tahun.[3] Berdasarkan data Palestinian Multiple Indicator Cluster Survey 2019–2020 (PMICS6), sebanyak 2,4% anak dalam kelompok usia 2-4 tahun dan sekitar 15% di antara anak-anak dalam kelompok usia 5–17 tahun, setidaknya menderita satu jenis disabilitas.[4] Adapun jenis disabilitas yang paling banyak dialami anak-anak adalah disabilitas komunikasi dan disabilitas mobilitas.[5]
Persentase anak difabel (2–17 tahun) menurut kelompok umur dan jenis kelamin (2019–2020)
Sumber: Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS) 2020
Persentase jenis disabilitas pada anak difabel dalam kelompok usia (2–17 tahun)
Sumber: Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS) 2020
Anak difabel Palestina juga sering mendapat stigma negatif, terdiskriminasi, terisolasi, dan teraniaya, terlebih remaja difabel perempuan yang berisiko tinggi dengan tindakan pelecehan. Kesadaran dan pengetahuan akan hak dan layanan untuk anak difabel Palestina masih tergolong rendah. Oleh karena itu, menjadi orang tua dari anak difabel tentu tidaklah mudah. Orang tua dari anak-anak difabel Palestina menghadapi berbagai tantangan dan kendala dalam merawat anaknya.
Tantangan dan kendala orang tua dan anak difabel Palestina
1-Diagnosis yang tidak akurat dan kekurangan layanan bagi anak difabel
Kurangnya identifikasi dini atau diagnosis yang tidak akurat serta para dokter dan staf medis yang tidak memiliki perlengkapan yang memadai membuat banyak orang tua harus berjuang untuk mencari layanan medis dan evaluasi psikologis yang berbeda. Sebagian besar penyedia layanan primer pun tidak terlatih untuk mendiagnosis disabilitas dan hanya sedikit yang memiliki pemahaman tentang jenis layanan yang dapat memenuhi kebutuhan individu anak.
Skrining untuk mendeteksi kesulitan pendengaran dan penglihatan, misalnya, tidak dilakukan pada masa bayi hingga usia dini, tetapi pada saat anak memasuki jenjang sekolah dasar. Dalam suatu kasus, orang tua diberitahu oleh seorang dokter bahwa anaknya tidak memiliki masalah. Namun, setahun kemudian, terdeteksi bahwa anak itu hampir buta. Hal ini sungguh sangat membahayakan. Sementara itu, diagnosis yang andal dan akurat untuk spektrum autisme biasanya sulit dicapai sebelum anak berusia usia 3 atau 4 tahun, meskipun orang tua mungkin menyadari gejalanya lebih awal. Selain itu, berdasarkan survei UNICEF pada 2016, terdapat 33,7% keluarga anak difabel di Gaza, 42,4% di Tepi Barat, dan 37,8% di wilayah Palestina lainnya, yang sangat kesulitan mendapat obat-obatan yang diperlukan.
Orang tua juga kesulitan mendapatkan hak atas pelayanan untuk anak mereka. Salah seorang ibu menceritakan pengalamannya, “Saya mendapatkan hak anak saya atas layanan medis karena saya mengancam mereka untuk membawa pers.”[6] Berdasarkan survei UNICEF pada 2016, persentase kesulitan dalam mengakses layanan medis di Palestina adalah 40,6% di Gaza, 45,3% di Tepi Barat, dan 42,8% di wilayah Palestina lainnya.[7]
2-Sarana, prasarana transportasi, dan alat bantu kesehatan
Kurangnya transportasi umum atau pribadi, biaya transportasi, serta jarak tempuh yang jauh ke tempat pelayanan kesehatan atau sekolah, merupakan hambatan utama bagi anak-anak difabel untuk melanjutkan kehidupan, terutama mereka yang memiliki disabilitas mobilitas. Sebagian besar keluarga mengungkapkan kesulitannya atas ketiadaan sarana untuk mengangkut anak-anak difabel dengan jarak jauh secara berkelanjutan atau bahkan satu kali. Survei pada 2016 mencatat banwa sebanyak 36,6% keluarga di Gaza, 48,7% di Tepi Barat, dan 42,3% di wilayah Palestina lainnya, sangat kesulitan mendapatkan transportasi untuk membawa pergi anak penyandang difabel.[8]
“Masalahnya kami adalah penduduk desa, dan kami tidak memiliki layanan khusus yang cukup. Mengapa kami harus melakukan perjalanan jarak jauh hanya untuk pemeriksaan pendengaran? Tidak bisakah kami memiliki layanan seperti itu di desa kami?” keluh seorang ayah.[9] Belum lagi blokade yang diberlakukan atas Jalur Gaza menyebabkan sering terjadinya penolakan izin perawatan medis di luar wilayah Gaza.
Selain itu, anak difabel juga menghadapi kesulitan mengakses alat bantu kesehatan, seperti kursi roda dan alat bantu dengar. Sebanyak 40,9% anak difabel di Gaza, 50,3% di Tepi Barat, dan 45,3% di wilayah Palestina lainnya, dilaporkan kesulitan mendapatkan alat bantu kesehatan.[10] Hal tersebut sebagian besar karena pembatasan impor Israel sehingga Palestina kekurangan persediaan perangkat yang diperlukan, padahal bagi para penyandang difabel, alat bantu kesehatan sudah seperti bagian dari anggota tubuh mereka. Namun, menurut kelompok hak asasi Israel, Gisha, Israel membatasi masuknya suku cadang dan baterai untuk mengoperasikan alat bantu, ke wilayah Palestina.
Persoalan lain yang dihadapi penyandang difabel, terutama yang menggunakan kursi roda, adalah akses mereka terhadap gedung bertingkat karena kebanyakan gedung bertingkat tidak memiliki lift atau sarana yang dapat memudahkan mereka. Selain itu, akibat penjajahan Israel, para penyandang difabel juga harus menjalani hidup dengan kesulitan yang berlipat karena krisis listrik (kesulitan untuk mengisi daya alat bantu), kekurangan alat bantu kesehatan, dan lingkungan yang tidak dapat diakses. Hal-hal tersebut menghalangi para penyandang difabel untuk mampu hidup mandiri dan berpartisipasi penuh dalam komunitas mereka.
3-Pendidikan dan lingkungan sekolah
Pendidikan sangat penting bagi semua anak, tidak terkecuali penyandang difabel, baik untuk kehidupan pada umumnya maupun untuk mengembangan kepribadian mereka. Tingkat buta huruf yang tinggi pada anak-anak difabel adalah akibat langsung dari rendahnya ketersediaan dan aksesibilitas pendidikan. Pada jurnal Health Education Public Health tahun 2018, dilaporkan bahwa di Gaza saja terdapat 45,5% anak difabel yang buta huruf, 23,3% laki-laki dan 22,2% perempuan.[11] Namun, sayangnya guru pendidikan khusus difabel juga masih jarang dan kebanyakan guru kelas reguler juga tidak memiliki kemampuan untuk mengajar anak difabel.
Hampir setengah dari anak-anak difabel Palestina, yaitu 46% anak berusia 6–17 tahun, tidak terdaftar dalam satuan pendidikan pada 2017.[12] Dalam sebuah laporan UNICEF pada 2018, tercatat anak-anak difabel rentan putus sekolah pada usia 15 tahun, yaitu sebanyak 25% anak laki-laki dan 7% anak perempuan putus sekolah. Selain itu, sebanyak 22,5% anak laki-laki dan 30% anak perempuan penyandang disabilitas usia 6–15 tahun, tidak pernah bersekolah.[13] Sementara itu, menurut data Palestina Multiple Indicator Cluster Survey 2019–2020 (PMICS6), sekitar 10% anak dari total jumlah anak difabel pada kelompok usia 5–17 tahun, tidak terdaftar dalam satuan pendidikan.[14]
Namun demikian, lingkungan sekolah juga tidak serta-merta menjadikan anak difabel merasa tenang atau aman. Tidak jarang mendapatkan perilaku diskriminatif. Beberapa orang tua menggambarkan lingkungan sekolah dan kondisi ruang kelas anak-anak mereka yang berbahaya. “Sekolah tidak memperlakukan anak dengan benar, bahkan ruang kelasnya pun dapat membuat Anda tertekan. Anda tidak dapat melihat cuaca di luar sana. Anda tidak dapat melihat matahari atau hujan.”[15]
Sebuah SLB Israel memperlakukan seorang anak Palestina yang memiliki cacat mental, dengan sangat buruk. Seorang anak bernama Muhammad mendapat pukulan, pengusiran, dan serangan secara brutal di sekolahnya. Orang tua Muhammad menemukan bahwa anaknya mendapat perlakuan rasis di sekolah Israel. “Mereka membawa Muhammad keluar dari kelas. Dia berjam-jam menangis sendirian di koridor, tanpa belas kasih sedikit pun. Anak saya diserang oleh siswa dan guru di sekolah. Mereka mengeluarkannya ke halaman sekolah dan menyerangnya berulang kali.” Orang tua Muhammad melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi setempat, tetapi polisi tidak memperhatikannya, “Sepertinya mereka tahu bahwa saya adalah orang Arab” ucap sang Ayah.[16]
4-Finansial
Situasi ekonomi penduduk Palestina yang buruk juga menyebabkan para keluarga Palestina yang memiliki anak difabel, kesulitan dalam membiayai pengobatan anak mereka. Hal ini karena mereka membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatan dan pelayanan kesehatan sang anak. Berdasarkan survei UNICEF pada Desember 2016, sekitar 71,6% keluarga dengan anak difabel di Gaza, 81% di Tepi Barat, dan 76% di wilayah Palestina lainnya, kesulitan memenuhi kebutuhan pengobatan anak mereka.[17]
Tantangan dan kendala yang dialami oleh orang tua dari anak-anak difabel menjadikan penyebab utama stress bagi keluarga. Mereka mengalami kekhawatiran, frustrasi, juga tekanan psikologi karena tidak mampu memenuhi kebutuhan anak mereka, juga tidak mendapat dukungan sarana dan layanan, baik untuk sang anak maupun untuk orang tua itu sendiri.
Kelebihan dalam keterbatasan
Demikian beratnya hari yang harus dilewati oleh anak-anak difabel dan keluarganya, terlebih dalam kondisi terjajah, tetapi mereka terus berjuang menjalani kehidupan mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka mencari kepercayaan dan kemampuan diri untuk membuktikan bahwa mereka juga memiliki kelebihan. Mereka adalah anak istimewa dan mampu mengukir prestasi. Seorang pelajar, Enas Muhammad Khalifa, dari Desa Budrus di Tepi Barat mampu mengatasi kondisinya dan melawan keterbatasannya. Meskipun harus belajar di kursi rodanya, perempuan muda tersebut berhasil memperoleh nilai rata-rata 97,3 di bidang sastra. Di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, juga terdapat seorang pelajar difabel yang berprestasi. Ia adalah Saeed Jawdat Al-Najjar, seorang tunanetra yang memperoleh rata-rata 90,8 di bidang sastra sekolah menengah.[18]
Selain itu, di Sekolah Tunarungu Pemerintah, Mustafa Sadiq Al-Rafei, pada 16 Maret 2022 lalu di Kota Gaza, mengadakan pameran seni dan kerajinan tangan. Siswa tunarungu di bidang pendidikan kejuruan sekolah tersebut membuat kerajinan artistik kelas atas seperti gaun untuk anak-anak dan orang dewasa, gaun bordir Palestina, kerajinan tangan, desain infografis, desain pakaian, dan berbagai identitas visual. Seorang perempuan penyandang disabilitas pendengaran mengatakan, “Orang-orang tidak mengerti arti disabilitas, mereka berpikir bahwa kami tidak memiliki kemampuan untuk melakukan apa pun. Saya memiliki disabilitas dan saya bangga dengan disabilitas saya.”[19]
Lembaga-lembaga kemanusiaan dunia beberapa kali membuat program untuk anak-anak difabel Palestina. Program-program tersebut menjadi wadah bagi anak difabel untuk mengekspresikan dan mengembangkan dirinya, juga sebagai trauma healing bagi anak-anak yang hidup di negara konflik. Sebagai bagian dari lembaga kemanusiaan Palestina, Adara pernah menyelenggarakan sebuah program “Super Camp 2021” untuk anak-anak, yang menjadi bagian dari program trauma healing pasca-Agresi Mei 2021.[20]
Super Camp 2021 adalah kelas musim panas di Azhaar Palestine Model Primary School for Special Education. Kegiatan yang berlangsung di kelas musim panas ini meliputi pendidikan karakter, hiburan, olahraga, cara bersosialisasi, dan pengayaan wawasan. Melalui program ini, para peserta, yang merupakan anak-anak difabel, diharapkan dapat mengekspresikan diri melalui berbagai kegiatan, memberikan peluang kepada mereka agar mendapatkan pendidikan karakter, dan menumbuhkan kepercayaan diri sekalipun mereka mengalami disabilitas fisik akibat agresi. Selain itu, Adara juga menyalurkan “Hadiah Hari Raya” untuk anak-anak Gaza pada 28 April 2022. Hadiah ini disalurkan untuk 100 anak yang sebagian dari mereka merupakan anak-anak difabel akibat agresi di Gaza.[21]
Dengan demikian, dapat dilihat bahwa kesejahteraan anak difabel Palestina masih jauh di bawah kata tercukupi. Hidup sebagai anak Palestina saja sudah tertekan, terlebih lagi mereka yang menyandang disabilitas. Anak difabel Palestina bersama orang tuanya berjuang menciptakan kehidupan yang layak di tengah gempuran agresi Israel. Seperti anak-anak lainnya, anak difabel Palestina juga membutuhkan fasilitas dan wadah untuk menunjukkan dan membuktikan eksistensinya yang istimewa. Anak difabel Palestina ingin orang-orang melihat mereka seperti melihat anak lainnya. Akan tetapi, orang-orang di sekeliling mereka masih banyak yang tidak menyadari, bahkan mengabaikan.
Pengabaian Israel atas hak Palestina untuk mendapatkan layanan medis dan pengobatan yang layak, seperti pembatasan alat bantu kesehatan, penolakan perawatan medis, dan tindakan pelarangan lainnya, hanya menipiskan harapan anak difabel Palestina. Segala strategi yang Israel buat hanyalah untuk menciptakan kesengsaraan terus-menerus atas penjajahan yang dilakukan terhadap Palestina, bahkan termasuk dalam kategori kejahatan pembunuhan perlahan dan terencana.
Vannisa Najchati Silma, S.Hum
Penulis merupakan Relawan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
[1] Dalam buku manual klasifikasi penyakit WHO, disabilitas adalah keterbatasan atau kekurangan (akibat dari gangguan) kemampuan untuk melakukan suatu aktivitas dengan cara atau dalam kisaran yang dianggap normal bagi manusia (WHO, 1980). Difabel merupakan istilah yang mengacu pada keterbatasan seseorang pada segi fisik, mental, atau intelektual. Keterbatasan tersebut memiliki efek merugikan yang substansial dan jangka panjang pada kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas normal sehari-hari (Booklets Definition of Disability, 2007).
[2] https://www.hrw.org/news/2020/12/03/gaza-israeli-restrictions-harm-people-disabilities
[3] Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS), 2019, hlm. 1. https://www.pcbs.gov.ps/portals/_pcbs/PressRelease/Press_En_3-12-2019-dis-en.pdf
[4] Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS), 2020, The International Day of Persons with Disabilities on December 3rd, hlm. 1. https://www.pcbs.gov.ps/portals/_pcbs/PressRelease/Press_En_2-12-2020-dis-en.pdf
[5] Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS), 2021, hlm. 2 https://www.pcbs.gov.ps/portals/_pcbs/PressRelease/Press_En_2-12-2021-dis-en.pdf
[6] Wahiba Abu-Ras, dkk, 2021, “Challenges and Determination: The Case of Palestinian Parents of Children With Disabilities,” Journal of Family Issues 39(6), hlm. 10, https://www.researchgate.net/publication/323707818_Challenges_and_Determination_The_Case_of_Palestinian_Parents_of_Children_With_Disabilities
[7] UNICEF. 2016. Every child counts: understanding the needs and perspectives of children with disabilities in the State of Palestine, hlm. 43, https://www.humanitarianresponse.info/sites/www.humanitarianresponse.info/files/assessments/unicef_-_every_child_counts_-_children_with_disabilities.pdf
[8] UNICEF. 2016. Every child counts: understanding the needs and perspectives of children with disabilities in the State of Palestine, hlm. 43, https://www.humanitarianresponse.info/sites/www.humanitarianresponse.info/files/assessments/unicef_-_every_child_counts_-_children_with_disabilities.pdf
[9] Wahiba Abu-Ras, dkk, 2021, “Challenges and Determination: The Case of Palestinian Parents of Children With Disabilities,” Journal of Family Issues 39(6), hlm. 10, https://www.researchgate.net/publication/323707818_Challenges_and_Determination_The_Case_of_Palestinian_Parents_of_Children_With_Disabilities
[10] UNICEF. 2016. Every child counts: understanding the needs and perspectives of children with disabilities in the State of Palestine, hlm. 43, https://www.humanitarianresponse.info/sites/www.humanitarianresponse.info/files/assessments/unicef_-_every_child_counts_-_children_with_disabilities.pdf
[11] Abdelaziz M. Thabet, dkk. (2018). “Social support among Disabled Palestinian Children in the Gaza Stri.” Health Education Public Health 1(1). hlm. 129, https://healtheducationandpublichealth.com/wp-content/uploads/2018/11/HEPH-104.pdf
[12] Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS), 2019, hlm. 1. https://www.pcbs.gov.ps/portals/_pcbs/PressRelease/Press_En_3-12-2019-dis-en.pdf
[13] Nazmi Al Masri, 2021, Inclusive Education in Occupied Palestinian Territories, The Disability Under Siege Network, hlm. 8, https://disabilityundersiege.org/wp-content/uploads/2021/03/Literature-Review-Education-OPT-FINAL.pdf
[14] Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS), 2020, The International Day of Persons with Disabilities on December 3rd, hlm. 1. https://www.pcbs.gov.ps/portals/_pcbs/PressRelease/Press_En_2-12-2020-dis-en.pdf
[15] Wahiba Abu-Ras, dkk, 2021, “Challenges and Determination: The Case of Palestinian Parents of Children With Disabilities,” Journal of Family Issues 39(6), hlm. 10, https://www.researchgate.net/publication/323707818_Challenges_and_Determination_The_Case_of_Palestinian_Parents_of_Children_With_Disabilities
[16] https://adararelief.com/sekolah-israel-lakukan-pemukulan-hingga-rasisme-kepada-anak-autis-palestina/
[17] UNICEF. 2016. Every child counts: understanding the needs and perspectives of children with disabilities in the State of Palestine, hlm. 43, https://www.humanitarianresponse.info/sites/www.humanitarianresponse.info/files/assessments/unicef_-_every_child_counts_-_children_with_disabilities.pdf
[18] https://adararelief.com/pelajar-difabel-berhasil-raih-nilai-tertinggi/
[19] https://www.hrw.org/news/2020/12/03/gaza-israeli-restrictions-harm-people-disabilities
[20] https://adararelief.com/super-camp-disabilitas/
[21] https://adararelief.com/hadiah-hari-raya-untuk-anak-anak-gaza/
Sumber:
Abu-Ras, Wahiba. Dkk. 2021. “Challenges and Determination: The Case of Palestinian Parents of Children With Disabilities.” Journal of Family Issues 39(6). 1-24.
Booklets Definition of Disability. 2007. Northern Ireland: Equality Commission for Northern Ireland, hlm. 2.
Handicap international humanity & inclusion. 2021. Disability-Inclusive Education in the occupied Palestinian territory (oPt): West Bank & Gaza. Factsheet. https://www.hi.org/sn_uploads/document/Factsheet_Inclusive-Education_oPt_HI_2021.pdf
Al Masri, Nazmi. 2021. Inclusive Education in Occupied Palestinian Territories. The Disability Under Siege Network. https://disabilityundersiege.org/wp-content/uploads/2021/03/Literature-Review-Education-OPT-FINAL.pdf
Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS). 2019. https://www.pcbs.gov.ps/portals/_pcbs/PressRelease/Press_En_3-12-2019-dis-en.pdf
Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS). 2020. The International Day of Persons with Disabilities on December 3rd. https://www.pcbs.gov.ps/portals/_pcbs/PressRelease/Press_En_2-12-2020-dis-en.pdf Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS). 2021. https://www.pcbs.gov.ps/portals/_pcbs/PressRelease/Press_En_2-12-2021-dis-en.pdf
Thabet, Abdelaziz M. dkk. (2018). “Social support among Disabled Palestinian Children in the Gaza Stri.” Health Educ Public Health1 (1). 123-130. https://healtheducationandpublichealth.com/social-support-among-disabled-palestinian-children-in-the-gaza-strip
UNICEF. 2016. Every child counts: understanding the needs and perspectives of children with disabilities in the State of Palestine.
UNRWA. Supporting Persons with Disabilities. https://www.unrwa.org/sites/default/files/disability_programme_fact_sheet.pdf
WHO. 1980. International Classification of Impairments, Disabilities, and Handicaps. https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/41003/9241541261_eng.pdf
https://www.hrw.org/news/2020/12/03/gaza-israeli-restrictions-harm-people-disabilities
https://safa.ps/p/329709 https://www.un.org/unispal/document/palestinian-children-with-disabilities-are-determined-to-learn-unicef-report/
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








