“Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental”
Kalimat tersebut tertulis di laman World Health Organization (WHO) saat menyambut Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025. Setiap tahunnya, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental pada 10 Oktober. Tahun ini, Hari Kesehatan Mental Sedunia hadir dengan mengangkat tema: “Akses Layanan: Kesehatan Mental dalam Bencana dan Keadaan Darurat”. Kampanye tahun ini berfokus pada kebutuhan mendesak untuk mendukung kesehatan mental dan kebutuhan psikososial masyarakat yang terdampak darurat kemanusiaan.
WHO menyatakan bahwa satu dari lima orang di dunia mengalami gangguan kondisi kesehatan mental. Krisis seperti bencana alam, konflik, dan darurat kesehatan masyarakat merupakan beberapa faktor yang menyebabkan tekanan emosional pada individu. WHO menegaskan bahwa mendukung kesejahteraan mental individu selama krisis sangat penting untuk menyelamatkan nyawa, memberi korban kekuatan untuk bertahan, ruang untuk menyembuhkan, memulihkan, dan membangun kembali, tidak hanya sebagai individu tetapi juga sebagai bagian dari komunitas.
Beberapa hari lalu, pada 7 Oktober 2025, tepat dua tahun penuh Israel telah membombardir Jalur Gaza. Selama terjadi krisis, hampir semua orang mengalami tekanan dan gangguan mental. Rumah hilang, keluarga terpisah, dan masyarakat terpecah belah. Ancaman terus dihadapi penduduk Gaza, antara kehilangan nyawa karena ledakan bom, atau meregang nyawa karena kekurangan gizi dan wabah penyakit, keduanya sama buruknya. Kehilangan orang-orang tercinta, menyaksikan potongan tubuh di jalanan, serta pengungsian yang terus berulang telah menjadi trauma mendalam bagi penduduk Gaza. Pada Hari Kesehatan Mental Sedunia ini, kita diingatkan kembali bahwa Israel bukan hanya melakukan genosida fisik di Jalur Gaza, melainkan juga melakukan perang psikologis terhadap penduduknya, dan disaksikan oleh dunia.
Pengungsian Berulang dan Lingkaran Siklus Kehilangan Tak Berujung

WHO menyatakan bahwa para migran dan pengungsi merupakan kalangan yang menghadapi berbagai tekanan sepanjang perjalanan mereka – mulai dari konflik dan pengungsian hingga perjalanan berbahaya dan tantangan integrasi di negara tuan rumah. Pada akhir 2024, lebih dari 123 juta orang terpaksa mengungsi di seluruh dunia. Sebanyak 71% dari mereka ditampung di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengan kondisi sistem layanan kesehatan yang sudah kewalahan. Di lingkungan seperti ini, akses ke layanan kesehatan mental sangat terbatas, bahkan seringkali tidak menjadi prioritas.
Supervisor kesehatan mental dari Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF), Iman Abu Shawish, juga pernah membahas tentang dampak psikologis dari pengungsian, terkhusus di Jalur Gaza. Beliau mengatakan bahwa sejak Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata pada 18 Maret 2025, pasukan Israel telah mengeluarkan 31 perintah pengungsian yang tercatat hingga bulan Mei 2025. Perintah yang Israel berikan agar penduduk Gaza mengungsi terus-menerus telah berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental penduduk Gaza. Banyak orang kehilangan rumah, terpisah dari orang-orang tercinta, meninggalkan seluruh kenangan yang bertahun-tahun mereka bangun di tempat tinggal mereka.
Dokter Abu Shawish menerangkan bahwa dampak psikologis dari kehilangan melewati lima tahap kesedihan: penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, hingga mencapai titik penerimaan. Terdapat banyak perbedaan pada setiap individu dalam urutan tahapan yang mereka alami, hal tersebut tergantung pada kepribadian, pengalaman masa lalu, sistem pendukung, dan kemampuan individu untuk mengatasinya. Satu fase bisa jadi hanya berlangsung selama satu jam pada satu individu, atau bisa jadi bertahun-tahun pada individu yang lain, tergantung pada seberapa dalam rasa kehilangan tersebut dan kemampuan individu untuk memulihkan luka psikologisnya.
Dokter Abu Shawish menambahkan bahwa dalam memproses rasa kehilangan, ada beberapa individu yang dari luar terlihat stabil dan tidak menunjukkan reaksi apa pun, tetapi jauh di lubuk hatinya, ada berbagai emosi yang berkecamuk. Dalam kasus penduduk Gaza, dokter menceritakan bahwa kasus yang ia temukan cukup beragam. Sejumlah orang bisa menjadi sangat agresif, baik secara verbal maupun fisik, dan ada juga yang menunjukkan sisi ekstrem: mereka benar-benar terisolasi, tidak ingin memiliki hubungan, tidak suka bergaul, bahkan menarik diri dari segalanya, hingga merasa depresi.
Namun, dokter menegaskan kenyataan pahit yang sesungguhnya dari pengungsian adalah, tepat ketika seseorang telah melewati seluruh tahap kesedihan hingga mencapai titik penerimaan, perintah evakuasi lainnya datang, membuat mereka terus mengulang siklus kehilangan tersebut bagai sebuah lingkaran, tak ada ujungnya. Emmanuel Kosadinos, anggota jaringan kesehatan mental berbahasa Prancis di Palestina, menegaskan bahwa trauma yang dialami warga Gaza bersifat berkelanjutan karena tidak ada “pasca” dalam kekerasan yang terus berlangsung. Trauma yang dialami warga Palestina tidak dapat dijelaskan dengan konsep gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang umum digunakan.
Fakta lain dari pengungsian adalah, kekejaman Israel tak hanya terletak pada perintah evakuasi itu sendiri, tetapi juga pada cara penyampaiannya. Ini bukan perintah militer yang lugas; melainkan jebakan psikologis. Tentara Israel tak sekadar menyuruh orang-orang pergi; mereka memutarbalikkan simbol-simbol yang dulu memberikan rasa aman bagi warga Palestina: Ayat-ayat Al-Qur’an tentang ‘hukuman ilahi’ tercetak di selebaran evakuasi; Puisi Arab klasik tentang pengasingan digunakan dalam peringatan di media sosial; bahkan pemberitahuan Israel telah berubah menjadi pemberitahuan kematian mendadak, tanpa jangka waktu yang jelas, hanya ancaman samar yang disiarkan kepada jutaan orang yang sudah trauma.
Perintah pengungsian tidak dapat diprediksi dan datang dalam tenggat waktu yang sangat singkat, menempatkan orang-orang dalam situasi yang mustahil dapat dikendalikan. Orang-orang menerima selebaran, unggahan media sosial, atau panggilan telepon tentang serangan yang akan datang, sehingga mereka hanya punya sedikit waktu untuk mengumpulkan barang-barang dan mencari perlindungan. Tindakan memaksa orang untuk terus-menerus mengungsi—seringkali di tengah malam tanpa tujuan—sangat membebani fisik dan psikologis.


Israel menggunakan ayat Al-Qur’an dan bahasa Arab dalam selebaran perintah untuk evakuasi (MSF)
Selain menimbulkan rasa kehilangan, perintah pengungsian juga memicu kecemasan. Cemas akan perjalanan yang jauh, cemas akan keamanan selama perjalanan, juga cemas akan kondisi di lokasi pengungsian yang baru. Kecemasan dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk serangan panik atau gangguan panik. Ada juga reaksi traumatis, yang biasa dikenal dengan sebutan gangguan stres pascatrauma (PTSD) atau gangguan stres akut yang mencakup banyak hal, misalnya disosiasi, yaitu fenomena psikologis yang membuat seseorang merasa terputus dari pikiran, perasaan, ingatan, atau identitas dirinya, serta dari lingkungan sekitar.
Di Jalur Gaza, seluruh penduduknya terus menerima perintah pengungsian dan melakukan perjalanan berulang kali. Di tempat baru, mereka harus membangun tenda baru, beradaptasi dengan lingkungan baru, menjalani hidup dengan segala sesuatu yang baru. Meskipun kondisi hidup mereka di pengungsian cukup buruk—tinggal di tenda, nyaris tak mampu memenuhi kebutuhan—evakuasi berarti memulai kembali dari nol. Penduduk Gaza, sama seperti manusia normal lainnya, mendambakan stabilitas dalam hidup, tetapi perintah untuk mengungsi terus menerus memicu kekacauan, perubahan, dan kehilangan. Dengan kata lain, pengungsian bukan sekadar perintah untuk memindahkan fisik penduduk Gaza, melainkan juga metode penghancuran mental yang dilakukan terus-menerus oleh Israel.
“Kali ini saya tidak ingin berkemas,” kata Sabreen Al-Massani, seorang psikoterapis MSF yang telah mengungsi beberapa kali. “Tidak ada tas, tidak ada kertas, tidak ada apa-apa. Saya tidak tahu kenapa—mungkin pola pikir saya salah, tetapi saya tidak bisa membayangkan bahwa saya harus kembali meninggalkan rumah.”
Rasa Bersalah: Penghancur Mental yang Menghantui Penduduk Gaza

Salah satu kasus yang memilukan adalah saat dokter Abu Shawish menceritakan bahwa seorang anak Gaza menatapnya, kemudian berkata: “Aku rasa aku sudah mati, tetapi jika kamu bisa mendengarku, mungkin aku masih hidup”. Dalam kasus ini, kemungkinan otak sudah tidak bisa lagi membedakan antara kenyataan dan imajinasi. Siklus kehilangan dan kecemasan dari pengungsian berulang telah menimbulkan reaksi stres, mencakup gambaran atau ingatan detail dari perintah evakuasi sebelumnya dan menjadi mengganggu. Stres dan kecemasan juga dapat memicu reaksi dalam tubuh, misalnya nyeri otot dan perut, gemetar, dan kelelahan.
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh Program Kesehatan Mental Komunitas Gaza (GCMHP), mereka menyebutkan bahwa genosida yang sedang berlangsung telah menimbulkan krisis kesehatan mental yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dapat bertahan selama beberapa generasi. Laporan tersebut menemukan bahwa anak-anak di Gaza hidup dalam tragedi tidak berkesudahan. Banyak di antara mereka kesulitan tidur, berjalan dalam tidur, mimpi buruk, gemetar terus-menerus, dan mengompol. Dalam satu wawancara, seorang perempuan mengatakan dia terus membayangkan jenazah dan mengingat tubuh putranya dengan ususnya yang terburai. Traumanya terwujud dalam kegelisahan dan sikap agresif, yang mendorongnya untuk berteriak dan memukul anak-anaknya tanpa alasan.
Dalia, seorang ibu di Gaza, mengatakan kepada Save the Children bahwa “Anak-anak ketakutan, marah, dan tidak bisa berhenti menangis. Bahkan banyak orang dewasa yang melakukan hal serupa. Hal ini terlalu sulit untuk dihadapi oleh orang dewasa, apalagi anak-anak.” “Beberapa anak saya tidak bisa lagi berkonsentrasi pada tugas-tugas dasar. Mereka langsung melupakan hal-hal yang saya ceritakan kepada mereka dan tidak dapat mengingat hal-hal yang baru saja terjadi. Saya tidak akan mengatakan bahwa kesehatan mental mereka memburuk, sebab kesehatan mental mereka telah dilenyapkan. Hal ini merupakan kehancuran psikologis total,” tambah Amal, ibu dari empat anak di Gaza.
Dalam pernyataan pers pada akhir Agustus 2025, Direktur Regional Advokasi dan Komunikasi UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara menyatakan bahwa selain mengakibatkan kematian dan cedera, pengeboman Israel juga menyebabkan sekitar 1,1 juta anak mengalami trauma psikologis dan emosional yang tak tertahankan, hingga berdampak parah pada perkembangan mereka. “Selama periode ini, pelanggaran berat telah merajalela. Anak-anak kehilangan akses terhadap bantuan, menderita kelaparan, terpaksa mengungsi, ditambah kehancuran tempat tinggal, rumah sakit, sekolah, dan jaringan saluran air. Pelanggaran ini telah menjadi kenyataan sehari-hari bagi anak-anak,” ujarnya.“Apa yang kita saksikan di Gaza bukan sekadar genosida terhadap anak-anak, melainkan penghancuran kehidupan itu sendiri,” lanjutnya.
Dalam banyak kasus di Gaza, ada juga kondisi ketika seluruh anggota keluarga meninggal akibat serangan Israel, namun menyisakan satu orang yang bertahan. Dalam banyak kondisi, banyak juga individu yang terpaksa meninggalkan orang-orang terkasih mereka, misalnya untuk mencari makanan dan air, dan ketika kembali, yang mereka temukan hanya jenazah. Perasaan semacam ini juga dirasakan oleh diaspora Palestina yang menghadapi rasa bersalah sebagai penyintas karena ketidakberdayaan dan keterpisahan mereka dari tanah air. Dalam kondisi seperti ini, banyak individu di Gaza sering menyalahkan diri sendiri. “mengapa aku bertahan?” “mengapa aku tidak pergi?” dan jutaan “mengapa” lainnya sebagai bentuk penyangkalan.
Tapi yang penduduk Gaza tidak sadari, rasa bersalah ini tidaklah rasional karena mereka tidak punya pilihan lain yang aman. Meski begitu, otak terus mencari penjelasan, menciptakan tanggung jawab palsu, mengaburkan fakta bahwa sesungguhnya apa yang terjadi sama sekali bukan kesalahan mereka. “Pasukan Israel menghancurkan semua sarana kehidupan penduduk Palestina di Gaza melalui perang psikologis dan fisik,” kata Claire Manera, koordinator darurat MSF. “Pemindahan paksa merupakan bagian dari kampanye pembersihan etnis yang dilakukan oleh pasukan dan otoritas Israel terhadap rakyat Palestina. Mereka tidak punya tempat lain untuk berlindung.”
“Mengapa saya tidak mati bersama mereka?” Pertanyaan memilukan tersebut juga seringkali terdengar dari penduduk Gaza yang baru saja kehilangan. Di tempat-tempat lain, mungkin proses berduka terlihat lebih “kondusif” karena biasanya setiap individu yang berduka akan memiliki support system yang hadir untuk menghibur, menguatkan, memberikan pelukan dan kata-kata yang menenangkan. Tetapi di Gaza, sangat sulit untuk membuat seseorang yang berduka kembali merasa positif, sebab sistem pendukung mereka telah runtuh. Di Gaza, semua orang hidup dalam kondisi yang sama, merasakan duka yang sama dalam satu waktu. Nyaris tak ada yang bisa mengambil peran untuk menguatkan individu yang berduka, sebab semua orang tengah terluka secara mental, meninggalkan pertanyaan retoris tersebut mengambang tanpa jawaban maupun respon dari siapa pun.
Kecemasan, depresi, kondisi emosi negatif, ketidakmampuan untuk menghayati emosi positif—penduduk Gaza tidak punya waktu untuk mengatasinya dengan cara yang tepat, karena otak mereka tidak bisa bebas berpikir, atau menilai situasi dengan baik. Setiap detiknya, otak penduduk Gaza memikirkan banyak hal dalam satu waktu—bagaimana mendapatkan makanan, air, obat-obatan; bagaimana jika ada perintah evakuasi lagi; bagaimana nasib orang-orang terkasih yang saat ini terpisah. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala, menyusun banyak rencana dan ribuan kemungkinan untuk bertahan, membuat penduduk Gaza seringkali telah kewalahan dengan isi kepala mereka sendiri, tidak lagi memiliki kekuatan untuk menghibur atau menguatkan diri sendiri, apalagi orang lain.
Dalam Setiap Tetes Air Mata, Ada Makna yang Tumbuh

Mungkin kita seringkali melihat di media sosial ada cuplikan penduduk Gaza yang terlihat sangat kuat, menolak untuk pergi dari tanah mereka meski diusir berulang kali, tampak tabah setelah kehilangan banyak orang terkasih, semuanya terlihat seolah mereka memiliki ketahanan yang melebihi manusia normal. Pada faktanya, penduduk Gaza juga sama seperti kita, mereka juga merasakan sedih, duka, cemas. Mereka juga menangis, bertanya-tanya, dan runtuh setelah kehilangan orang-orang tercinta. Tapi yang membedakan adalah, ketahanan dan kekuatan iman mereka telah teruji begitu lama di Gaza, membuat mereka menemukan jalan baru dalam memproses duka, yaitu dengan menumbuhkan makna.
Dokter Abu Shawish menjelaskan bahwa ada istilah dalam psikologi yang disebut pertumbuhan pascatrauma (PTG). Sebagai manusia, kita selalu belajar menghadapi trauma, mengadopsi perubahan positif dalam cara berpikir dan berperilaku setelah menghadapi trauma. Kita mengadopsi ciri-ciri kepribadian baru, cara berpikir berbeda, perilaku berbeda. Hal ini juga yang membentuk ketahanan penduduk Gaza. Setiap kehilangan, setiap trauma, setiap kenangan, telah membentuk makna baru dalam perjalanan hidup mereka, membuat mereka terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Ada hari-hari yang berat ketika rasa kehilangan dan duka memuncak, tetapi setelah melewatinya, ada kekuatan yang tumbuh dan makna baru yang hadir untuk menguatkan diri mereka.
Dua tahun bertahan dari genosida telah membuat penduduk Gaza merasakan nyaris seluruh bentuk penderitaan dalam hidup. Dari kelaparan, kehausan, kehilangan tempat tinggal, ketakutan, hingga ketidakpastian hidup. Pada Hari Kesehatan Mental Sedunia ini, dunia menyaksikan bahwa kesehatan mental di Gaza telah menjadi medan perjuangan sekaligus bentuk perlawanan. Jika di sana mereka ditempa untuk terus menjadi kuat, maka di sini kita pun harus menguatkan mental untuk menumbuhkan empati. Jika mereka di sana bertahan untuk tidak meninggalkan tanah mereka, maka kita juga harus lebih tahan untuk bersuara menuntut hak-hak saudara kita. Dua tahun genosida mungkin akan membuat mental kita terguncang, hancur, tak sanggup lagi melihat kekejaman Israel di Jalur Gaza, namun hal tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk berhenti berjuang. Sebab di sana, saudara-saudara kita tidak memiliki pilihan untuk berbalik badan dan menutup mata. Mereka di sana menyaksikan genosida dengan mata dan melawan dengan fisik mereka, maka kita dituntut untuk terus bersuara dan melawan dengan cara apa pun yang kita mampu.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
WHO
Doctors Without Borders
Palinfo
Wafa
Middle East Eye
Save the Children








