Pemerintah Al-Quds (Yerusalem) telah memperingatkan tentang upaya para pemukim untuk melakukan pengorbanan hewan di Masjid Al-Aqsa. Ia menggambarkan langkah tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang bertujuan untuk memaksakan ritual keagamaan baru di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa.
Dalam pernyataan pada Ahad malam (29/03), Pemerintah Al-Quds (Yerusalem) mengatakan upaya-upaya ini terjadi bersamaan dengan penutupan Masjid Al-Aqsa. Otoritas pendudukan Israel terus melakukan penutupan selama 30 hari berturut-turut dan mencegah umat Islam untuk beribadah di situs suci tersebut.
Hal tersebut dinilai sebagai upaya Israel untuk menggunakan ritual keagamaan sebagai alat yahudisasi Masjid Al-Aqsa. Para pemukim berencana untuk membawa dan menyembelih hewan — seperti domba atau kambing — ke dalam kompleks Masjid Al-Aqsa selama hari raya Paskah Yahudi.
Dalam pernyataan tersebut, pemerintah menyatakan bahwa kelompok ekstremis Yahudi telah memanfaatkan penutupan yang sedang berlangsung untuk mengintensifkan upaya mobilisasi. Hal ini terlihat dalam kampanye yang kelompok Temple Mount lakukan. Mereka menggunakan gambar dan video buatan AI di platform mereka untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut.
Sepanjang tahun 2025, Al-Quds telah menyaksikan tiga upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memaksakan pengorbanan hewan ke dalam kompleks Masjid Al-Aqsa. Upaya ini termasuk insiden penyembelihan hewan atau membawa masuk daging yang berlumuran darah. Pemerintah Provinsi Al-Quds menggambarkan berbagai tindakan ini sebagai bagian dari eskalasi sistematis Israel. Dalam hal ini, Israel bertujuan untuk memaksakan realitas baru di dalam situs suci tersebut.
Pernyataan itu selanjutnya memperingatkan bahwa upaya-upaya kelompok ekstremis pemukim ini terkait erat dengan keyakinan ideologis dalam segmen sayap kanan Israel dan gerakan keagamaan. Mereka berupaya untuk menetapkan praktik-praktik ritual baru di Al-Aqsa dan mengubah status historis dan keagamaannya.
Pernyataan tersebut juga menekankan bahwa periode Paskah Yahudi, yang berlangsung antara tanggal 2 dan 9 April, dapat menyaksikan peningkatan pelanggaran lebih lanjut dan menimbulkan ancaman serius terhadap kesucian dan status Masjid Al-Aqsa.
Sumber: MEMO








