Pada 21 Agustus 1969, kobaran api menyala di Masjid Al-Aqsa, melahap atap, karpet, dan dan furnitur serta dekorasi kuno di Masjid Al-Aqsa. Peristiwa ini bukanlah kecelakaan, sehingga tak layak disebut sebagai kebakaran, melainkan pembakaran yang disengaja oleh Israel. Kejadian tersebut kemudian membuka bab-bab baru dari serangkaian serangan Israel terhadap Masjid Al-Aqsa untuk menghapus identitas Islamnya dan melakukan pembagian secara temporal dan spasial terhadap Masjid Al-Aqsa.
Sejak saat itu, serangan terhadap Masjid Al-Aqsa oleh Israel menjadi semakin intensif. Setiap harinya puluhan hingga ratusan pemukim diizinkan untuk masuk dan menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di bawah perlindungan polisi Israel, sedangkan jemaah Muslim selalu dipersulit untuk bisa masuk dan beribadah di dalam area masjid, terutama setiap Jumat dan ketika Ramadan. Di saat para pemukim diberikan akses dan jalanan khusus untuk menodai Masjid Al-Aqsa yang diberkahi, warga Palestina justru terpaksa beribadah di depan gerbang karena tidak diberikan izin untuk memasuki area masjid.
Pada hari-hari besar Yahudi, keadaan seringkali menjadi semakin tidak terkendali. Bendera Israel dikibarkan di kompleks masjid, nyanyian Taurat bergema diiringi tarian provokatif oleh para pemukim, bahkan kelompok pemukim yang disebut sebagai Temple Mount menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban di sekitar area masjid.
Peristiwa pembakaran Masjid Al-Aqsa memang telah berlalu 56 tahun yang lalu, namun rasa panas dan kobaran apinya seolah masih menyala dan semakin membesar hingga saat ini, di tengah berbagai pelanggaran dan penodaan yang dilakukan Israel terhadap Masjid Al-Aqsa.
Baca juga https://adararelief.com/kaleidoskop-penyerangan-israel-terhadap-masjid-al-aqsa-sepanjang-2024/
Peristiwa Pembakaran Masjid Al-Aqsa

Penduduk Palestina mengingat tanggal 21 Agustus sebagai momen kepedihan, ketika Masjid Suci Al-Aqsa dibakar dengan keji oleh Zionis. Tepat 54 tahun yang lalu, pada 21 Agustus 1969, para jemaah dan penjaga Masjid Al-Aqsa yang saat itu baru selesai salat Subuh dikejutkan dengan alarm yang tiba-tiba berbunyi. Begitu selesai salat, jemaah mendapati asap telah membumbung tinggi dari kubah perak Masjid Al-Aqsa, tepatnya di ruangan salat yang berada di sayap tenggara masjid.
Umat Islam dengan bantuan umat Nasrani berusaha memadamkan api yang terlanjur membesar. Akan tetapi, tentara Zionis Israel menghalangi usaha mereka, hingga menimbulkan bentrokan. Zionis dengan sengaja membuat penduduk kesulitan untuk memadamkan api karena alat pemadam kebakaran dan pompa air telah mereka rusak, dan selang air mereka putuskan. Di tengah keterbatasan, para penduduk menggunakan segala cara agar dapat memadamkan api. Mereka membentuk rantai manusia, lantas saling mengoper air menggunakan ember atau wadah kecil lainnya ke bagian masjid yang terbakar.
Sementara itu, mobil-mobil pemadam kebakaran baru berdatangan beberapa jam kemudian dari kota-kota sekitar Tepi Barat, seperti Nablus, Ramallah, Al-Bireh, Bethlehem, Hebron, Jenin, dan Tulkarem. Zionis lagi-lagi sengaja mempersulit masuknya bantuan dengan cara menghalangi mobil pemadam untuk mencapai lokasi. Api kemudian berhasil dipadamkan setelah lebih dari tiga jam. Namun, api telah melalap mimbar kayu hadiah dari Shalahuddin Al-Ayyubi, panel mosaik di dinding dan langit-langit, serta jendela yang tepat berada di bawah kubah.
Pelaku Pembakaran

Mengenai peristiwa ini, Zionis berdalih itu merupakan “kecelakaan yang tidak disengaja”. Akan tetapi, alasan Zionis Israel tidak dapat diterima. Melalui siaran Radio Kairo, Mesir bahkan menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan “kejahatan yang direncanakan”. Penyelidikan pun dilakukan untuk mengidentifikasi siapa sebenarnya pelaku pembakaran Masjid Suci Al-Aqsa.
Hasil penyelidikan mengungkapkan bahwa pelaku pembakaran adalah Michael Dennis William Rohan (28 tahun). Ia merupakan turis asal Australia yang berprofesi sebagai pekerja di peternakan. Saat itu, dia memang sedang berkeliling selama beberapa bulan di wilayah Palestina yang Dijajah Israel. Pada 23 Agustus 1969, ia mengakui bahwa tindakan yang ia lakukan bukanlah kejahatan sebab ia mengaku sebagai “utusan Tuhan”.
Rohan mengatakan bahwa tujuannya melakukan pembakaran adalah karena ingin mempercepat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Menurutnya, hal tersebut hanya bisa tercapai apabila Zionis Israel bisa membangun kuil di wilayah Masjid Al-Aqsa yang diklaim sebagai tempat awal berdirinya Kuil Solomon. Pernyataan yang disampaikannya membuat Rohan dianggap mengalami gangguan jiwa sehingga akhirnya mendapat perawatan di rumah sakit jiwa.
Pembangunan Kembali Mimbar

Selain mengakibatkan hangusnya banyak bagian masjid, pembakaran yang disengaja ini juga menghanguskan mimbar Nuruddin Zanky. Mimbar ini merupakan hadiah dari Shalahuddin Al-Ayyubi dan dibuat atas prakarsa Nuruddin Zanky bin Imaduddin Zanky pada 564 H/1168 M. Ketika membuatnya, beliau bernazar akan meletakkan mimbar tersebut saat pembebasan Al-Aqsa dari pasukan Salib. Sembilan belas tahun berlalu sejak mimbar dibuat, Shalahuddin Al-Ayyubi, yang merupakan penerus perjuangan Nuruddin Zanky, berhasil membebaskan tanah Palestina dan mewujudkan nazar Nuruddin Zanky.
Mimbar Nuruddin Zanky bukan sekadar mimbar, melainkan wujud keyakinan bahwa Al-Aqsa suatu saat akan kembali menjadi milik umat Islam seutuhnya dan menjadi lambang persatuan umat, Sebab, kemenangan tidak akan dapat dicapai secara individual melainkan merupakan buah perjuangan komunal.
Itulah alasan mengapa mimbar yang dibuat Nuruddin Zanky tidak menggunakan perekat seperti lem, paku, atau lainnya. Mimbar dibuat dengan sistem interlock, sehingga kayu-kayu yang menyusun mimbar dapat bersatu secara alami. Mimbar ini, bagi Nuruddin, menjadi simbol akan cita-citanya terhadap persatuan umat Islam pada masa mendatang.
Pembakaran Masjid Al-Aqsa telah menghanguskan mimbar bersejarah hingga menyisakan hanya kepingan-kepingan kecil yang kini tersimpan di arsip Lembaga Wakaf Masjid Al-Aqsa. Pada 28 Agustus 1993, Raja Husein bin Thalal dari Yordania memerintahkan untuk membuat mimbar pengganti dengan bentuk dan cara pengerjaan yang sama persis seperti mimbar Nuruddin Zanky. Setelah Raja Husein bin Thalal wafat, proyek ini dilanjutkan oleh Raja Abdullah II bin Husein.
Fakultas Seni Tradisional Islam Universitas Balqa, Yordan, kemudian mengadakan lomba bagi seluruh ahli ukir dan seniman dari berbagai negara untuk membentuk tim pembuatan mimbar. Indonesia turut ikut serta dalam proyek ini atas prakarsa (alm.) Mahmud Bukhori dan beberapa rekan alumni ITB dari Desenta dan Birano. Indonesia mengirimkan sampel ukiran tangan yang kemudian mengantarkan Indonesia menjadi pemenang dan mendapat kehormatan menjadi bagian dari tim pembuat mimbar bersama perwakilan dari negara-negara lainnya.
Kondisi Al-Aqsa Saat Ini, Terancam oleh Proyek Yahudinisasi Zionis

Pada 24 Agustus 2025, hanya beberapa hari setelah peringatan pembakaran mimbar Masjid Al-Aqsa, ratusan pemukim Israel menyerbu Masjid Al-Aqsa untuk merayakan Bulan Baru Ibrani atau Rosh Chodesh Elul. Di bawah perlindungan pasukan pendudukan Israel, ratusan pemukim melakukan ritual Talmud di Lapangan Al-Buraq, kemudian melakukan tarian dan nyanyian provokatif di depan Kubah Batu dan di sejumlah area lainnya di kompleks Masjid Al-Aqsa. Tindakan ini telah menandai pelanggaran dan penodaan yang dilakukan secara terang-terangan oleh Israel terhadap situs suci ketiga umat Islam tersebut.
Video:
https://t.me/adararelief/35304
https://t.me/adararelief/35301
Sebelumnya, Pada 3 Agustus 2025, bertepatan dengan Tisha b’Av pada kalender Yahudi, yang merupakan peringatan penghancuran dua kuil Yahudi kuno, polisi Israel mengizinkan enam kelompok pemukim Yahudi memasuki halaman Masjid al-Aqsa dengan jarak waktu hanya enam menit terpisah. Hasilnya, lebih dari 3.500 pemukim Yahudi menyerbu Masjid Al-Aqsa dalam satu hari. Namun, lebih dari itu, prosedur tersebut menjadi bukti bahwa Israel bisa kapan saja melanggar instruksi yang mereka buat sebelumnya, yang menetapkan interval setengah jam antara masing-masing kelompok yang memasuki masjid. Dua kejadian tersebut barulah segelintir dari banyaknya pelanggaran yang selama ini dilakukan Israel terhadap Masjid Al-Aqsa.
Pada peringatan 56 tahun serangan pembakaran yang memusnahkan sebagian area Masjid Al-Aqsa, Lembaga Internasional Al-Quds merilis edisi ke-19 dari laporan tahunannya yang diberi nama: “Eye on Al-Aqsa”. Laporan ini mendokumentasikan kondisi yang digambarkan sebagai realitas paling berbahaya yang dihadapi oleh Al-Aqsa sejak 1967 di bawah serangan intensif oleh pasukan pendudukan Israel. Laporan ini juga memperingatkan bahwa Al-Aqsa saat ini tidak lagi dilestarikan sebagai situs suci murni milik umat Islam, melainkan telah berubah menjadi ruang yang diperebutkan karena Israel memaksa untuk menegakkan kehadiran umat Yahudi dengan cara mengorbankan identitas Islam.
Menurut temuan dalam laporan tersebut, sejak awal 2025, Israel telah melancarkan serangan dalam dua cabang: genosida di Jalur Gaza dan kampanye agresif untuk menghapus identitas Islam di Masjid Al-Aqsa, yang keduanya digambarkan sebagai “hambatan untuk proyek permukiman Zionis.” Laporan tersebut telah mendokumentasikan 10 serangan bermotif politik ke dalam kompleks Masjid Al-Aqsa dalam satu tahun terakhir yang melibatkan menteri kabinet dan anggota Knesset Israel.
Data yang dipaparkan dalam laporan tersebut juga menunjukkan peningkatan 36 persen dalam serbuan pemukim selama tujuh bulan pertama tahun 2025 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Hal ini menunjukkan eskalasi paling ekstrem sejak Israel pertama kali mengizinkan para pemukim melakukan perambahan pada 2003. Selain itu, hanya dalam tujuh bulan pertama tahun 2025, Israel telah mengeluarkan 293 perintah pengusiran terhadap warga Palestina dari Masjid Al-Aqsa serta melarang itikaf, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadan.

Peneliti urusan Yerusalem, Ziad Bhais, menyebutkan bahwa Israel berencana mengubah Al-Aqsa melalui tiga jalur: pembagian temporal, pembelahan spasial, dan pembentukan simbolis Bait Suci melalui ritual berbasis Taurat. Oleh sebab itu, pasukan pendudukan Israel terus memfasilitasi serangan dengan memperpanjang jam kunjungan untuk pemukim, mengizinkan ratusan pemukim menyerbu dalam satu waktu, dan memberikan perlindungan untuk ritual provokatif seperti ritual sujud epik, pengorbanan hewan, dan pengibaran bendera Israel di dalam kompleks Masjid.
Israel juga telah melakukan berbagai upaya untuk membatasi kehadiran jemaah Palestina ke Masjid Al-Aqsa. Pertama, Israel membatasi akses masuk dari Tepi Barat. Tiga pos pemeriksaan untuk memasuki Al-Quds (Yerusalem) dari Tepi Barat seringkali ditutup berminggu-minggu, dan kalaupun dibuka, izin masuk jarang diberikan. Kedua, Israel menetapkan batas waktu dan usia yang ketat untuk masuk ke Masjid Al-Aqsa. Di beberapa titik, bahkan hanya warga berusia di atas 70 tahun yang diberi izin memasuki masjid, itu pun ketika pemukim Israel sedang tidak berada di area masjid.
Ketiga, Israel melarang segala pekerjaan restorasi. Menurut Departemen Wakaf, larangan ini ditetapkan Departemen Purbakala Israel untuk memastikan tidak adanya pekerjaan yang dilakukan di sebelah timur Al-Aqsa. Di sisi lain, Israel justru membangun lift untuk pemukim Yahudi di dekat Tembok Al-Buraq Masjid Al-Aqsa, dengan dalih sebagai fasilitas untuk pemukim lansia atau disabilitas.
Laporan tersebut juga memaparkan upaya intensif Israel untuk mengubah ruang doa Bab al-Rahma dan halaman timur menjadi sinagog Yahudi. Pakar Yerusalem menunjukkan bahwa pusat perkembangan paling penting terdapat di daerah timur Al-Aqsa, khususnya di sekitar Bab al-Rahma. Dalam laporan penelitiannya yang berjudul “Wilayah Timur Masjid Al Aqsa dalam Proyek Gerakan Zionis”, Dr. Abdullah Marouf menjelaskan bahwa area tersebut memiliki makna strategis dan religius, menjadikannya titik masuk simbolis potensial untuk mengendalikan Masjid karena kaitannya dengan “Mesias” dalam keyakinan Yahudi. Marouf mencatat bahwa kelompok-kelompok ekstremis Zionis, seperti Temple Mount, memandang gerbang ini dan sekitarnya sebagai benteng untuk menghapus identitas Islam dan menghidupkan kembali ritual Yahudi di kompleks Al-Aqsa.
Api Pembakaran Telah Padam, Namun Al-Aqsa Masih Membara

Montaser Abdul Rahman, seorang warga Palestina berusia 72 tahun, menceritakan bahwa pada awal tahun ini, ia sempat memasuki Masjid Al-Aqsa yang diberkahi dari Gerbang Singa. Namun, di situs suci tersebut, dia justru langsung dihadapkan dengan pasukan Israel yang berseru, “Jika Anda tidak segera pergi sekarang, kami akan menangkap Anda!” Abdul Rahman kemudian menjawab, “Apa yang saya lakukan di al-Aqsa? Saya berdiri untuk menarik napas dan melihat orang-orang yang melanggar kesucian tempat suci itu. Mereka bernyanyi dan menari di area masjid.”
Apa yang disaksikan oleh Abdul Rahman kini telah menjadi pemandangan sehari-hari di Masjid Al-Aqsa. Ia adalah satu dari sekian banyak warga Palestina yang dilarang masuk ke tempat ibadahnya sendiri, sedang pemukim Israel bebas menodai situs suci dengan perlindungan polisi Israel. Setiap hari, tak terhitung berapa jumlah warga Palestina yang ditolak oleh Israel untuk dapat beribadah di Masjid Al-Aqsa. Ancaman ini menimbulkan ketakutan baru: suatu hari nanti anak-anak muda di Palestina, terkhusus di Al-Quds, bisa jadi lupa bagaimana bentuk Masjid Al-Aqsa, karena sepanjang hidup tidak sekalipun mereka dapat mengunjunginya. Proyek yahudinisasi yang Israel lakukan telah sepenuhnya menghalangi mereka dari beribadah di masjid yang diberkahi di kota mereka sendiri.
Pada hari peringatan pembakaran mimbar Masjid Al-Aqsa, kalimat dari Khatib Masjid Al-Aqsa, Sheikh Ikrima Sabri, telah menjadi peringatan bagi kita semua: “Masjid Al-Aqsa bukan hanya milik rakyat Palestina, tetapi untuk semua Muslim di seluruh dunia”. Kalimat tersebut mengingatkan kita bahwa Masjid Al-Aqsa adalah situs suci dan bersejarah bagi seluruh umat Muslim di dunia, sehingga pelanggaran dan penodaan terhadap situs suci tersebut seharusnya menjadi ancaman serius bagi kita. Kala Al-Aqsa diserang, kita dituntut untuk segera bertindak. Berbicaralah, sebarkan pada dunia bahwa masjid suci kita terancam, sebelum kita benar-benar kehilangan kendali atas Masjid Al-Aqsa yang diberkahi.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
‘
https://www.abc.net.au/news/2019-08-24/denis-rohan-and-the-al-aqsa-mosque-50-years/11429332
https://english.palinfo.com/jerusalem/2025/08/21/346070/
https://english.palinfo.com/jerusalem/2025/08/22/346158/
https://english.palinfo.com/jerusalem/2024/11/05/328243/
https://english.palinfo.com/news/2025/01/01/331499/
https://english.palinfo.com/news/2024/09/23/325830/
https://www.middleeasteye.net/news/israel-blocks-access-al-aqsa-mosque-after-iran-strike







