Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa serangan militer Israel di Jalur Gaza telah membunuh sedikitnya 19 warga Palestina sejak Sabtu (31/10). Dari jumlah tersebut, enam orang terbunuh dalam kurun waktu 24 jam terakhir, menyusul 13 korban jiwa sepanjang akhir pekan. Eskalasi mematikan ini terjadi di tengah catatan pelanggaran gencatan senjata yang hampir terjadi setiap hari sejak kesepakatan tersebut mulai berlaku pada Oktober 2025.
Pada Selasa, serangan pesawat nirawak Israel menghantam tenda pengungsi di dekat Taman Kota Gaza. Serangan tersebut membunuh seorang anak perempuan serta melukai sejumlah orang. Di Khan Younis, serangan Israel membunuh Khaled Shalouf, seorang perwira keamanan internal, dan melukai 11 orang lainnya. Serangan lainnya menghantam sekelompok warga di sekitar University College of Applied Sciences (UCAS), Khan Younis. Seorang warga Palestina juga meninggal akibat luka dari serangan Israel di kamp pengungsian sehari sebelumnya.
Hampir 1.600 Korban Jiwa Sejak Gencatan Senjata
Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, serangan Israel telah membunuh hampir 1.600 warga Palestina dan melukai sekitar 5.700 lainnya. Jika dikalkulasi sejak mulainya genosida pada Oktober 2023, jumlah korban terbunuh telah mencapai sedikitnya 74.600 orang.
Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat 5.989 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, termasuk serangan udara, penembakan, penghancuran rumah, penggerebekan, dan penangkapan terhadap warga sipil. Israel juga terus membatasi masuknya bantuan kemanusiaan. Rata-rata hanya 200 truk bantuan yang mendapat izin masuk setiap hari, jauh di bawah kesepakatan 600 truk.
Padahal, gencatan senjata yang Amerika Serikat mediasi sejak Oktober 2025 bertujuan menghentikan serangan Israel dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke Gaza. Namun, serangan dan pembatasan bantuan masih terus berlangsung.
Sektor Pendidikan Menjadi Sasaran
Sedikitnya 14 siswa dan delapan pekerja pendidikan terbunuh akibat serangan Israel di Jalur Gaza sepanjang Oktober 2026, menurut Kementerian Pendidikan Palestina pada Selasa (3/11). Para siswa yang terbunuh berusia antara 6 hingga 16 tahun. Sementara itu, delapan pekerja pendidikan terdiri atas empat guru, tiga pegawai Universitas Islam yang terbunuh dalam serangan di area kampus. Di samping itu, seorang akademisi perempuan juga menjadi korban serangan terhadap apartemen tempat tinggalnya.
Ini menambah catatan sebelumnya dari data Kementerian Pendidikan yang mereka rilis pada Juli 2026 mencatat lebih dari 20.051 siswa usia sekolah dan 532 guru terbunuh sejak Oktober 2023 hingga Juli 2026.
Kementerian juga melaporkan bahwa sejumlah siswa, mahasiswa, dan pekerja pendidikan mengalami luka-luka akibat serangan yang menyasar sekolah dan tenda-tenda belajar darurat. Tembakan Israel ke kawasan permukiman dan fasilitas pendidikan turut menyebabkan kegiatan belajar mengajar tertunda atau terpaksa berhenti di sejumlah wilayah. Wilayah yang terdampak di antaranya Khan Younis bagian selatan, Deir al-Balah bagian timur, Kamp Pengungsi Bureij, dan Gaza utara.
Blokade Israel dan penutupan perlintasan juga menghambat pendidikan warga Palestina. Penerima beasiswa di luar negeri tidak dapat bepergian, bahkan sebagian kehilangan kesempatan melanjutkan studi. Selain itu, pembatasan masuknya bahan bangunan, tenda kelas darurat, perlengkapan sekolah, serta peralatan pendidikan vokasi menghambat pemulihan fasilitas pendidikan yang rusak.
Krisis bahan bakar turut menyulitkan ribuan siswa dan mahasiswa untuk mencapai sekolah maupun universitas. Kekurangan pasokan listrik juga mengganggu operasional generator di berbagai institusi pendidikan.
Kementerian Pendidikan menyerukan intervensi komunitas internasional, badan-badan PBB, serta organisasi kemanusiaan dan HAM untuk melindungi siswa dan guru, menghentikan serangan terhadap fasilitas pendidikan, serta memastikan masuknya kebutuhan sekolah.








