Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengonfirmasi bahwa pasukan pendudukan Israel telah melakukan serangkaian tindakan kejam terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan, satu-satunya fasilitas kesehatan yang masih beroperasi di Gaza utara. Penyerangan ini mencakup pembakaran berbagai bagian rumah sakit, termasuk departemen bedah, laboratorium, unit pemeliharaan, unit ambulans, dan gudang obat-obatan. Api yang menyebar cepat telah melahap seluruh bangunan rumah sakit, menyebabkan hilangnya layanan kesehatan di wilayah tersebut.
Pasukan pendudukan Israel menyerbu rumah sakit pada Jumat (27/12) pagi, memaksa pasien, staf medis, dan warga yang tinggal di sekitar rumah sakit untuk berkumpul di halaman RS. Mereka kemudian dipindahkan secara paksa ke Sekolah Al-Fakhoura di bawah ancaman senjata. Di sekolah tersebut, para tawanan mengalami perlakuan yang tidak manusiawi, termasuk diinterogasi, dipaksa menanggalkan pakaian, dan sebagian dari mereka ditangkap. Direktur rumah sakit, Dr. Hussam Abu Safiya, bersama puluhan staf medis lainnya, dibawa ke pusat penahanan untuk diinterogasi lebih lanjut.
Pasien dari Rumah Sakit Kamal Adwan yang dipindahkan ke Rumah Sakit Indonesia kini menghadapi kondisi yang sangat sulit akibat kekurangan pasokan medis, air bersih, obat-obatan, listrik, dan generator. Dalam situasi ini, banyak pasien yang berisiko kehilangan nyawa setiap saat. Kementerian Kesehatan Palestina menggambarkan situasi ini sebagai “hitungan mundur menuju kematian” bagi para pasien.
Selain itu, infrastruktur Rumah Sakit Indonesia telah mengalami kerusakan berat akibat serangan sebelumnya, yang semakin memperparah kemampuan fasilitas tersebut untuk menangani pasien. Pihak Kementerian Kesehatan meminta bantuan segera dari lembaga-lembaga internasional untuk mengatasi situasi darurat ini dan memberikan perlindungan bagi para korban luka serta pasien.
Menurut Kementerian Kesehatan dan Gerakan Hamas, pembakaran Rumah Sakit Kamal Adwan serta penyiksaan terhadap pasien, staf medis, dan warga sipil merupakan kejahatan kemanusiaan yang mencolok. Hamas menegaskan bahwa tindakan tersebut melanggar hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan.
Gaza utara telah berada di bawah pengepungan ketat selama 85 hari berturut-turut, diiringi pengeboman udara dan serangan artileri yang intens. Operasi militer ini, yang dimulai pada 5 Oktober 2024, telah menyebabkan kehancuran besar-besaran pada infrastruktur kesehatan, penghentian layanan ambulans Bulan Sabit Merah Palestina (PCRS), dan penghentian total operasi pertahanan sipil. Kementerian kesehatan menyatakan bahwa rumah sakit telah dijadikan target militer oleh pasukan pendudukan Israel.
Dengan dukungan Amerika Serikat, Israel telah melakukan genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023. Akibatnya, lebih dari 153.000 warga Palestina menjadi korban, termasuk anak-anak dan perempuan, sementara 11.000 lainnya dinyatakan hilang. Pengepungan ini juga menyebabkan kelaparan yang telah merenggut nyawa puluhan anak-anak dan orang tua, menjadikannya sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.
Kementerian Kesehatan Palestina dan Kantor Media Pemerintah Gaza (GMO) menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera bertindak. Mereka meminta tekanan global terhadap Israel untuk menghentikan agresi, mengakhiri genosida, dan memberikan bantuan darurat berupa tempat tinggal, makanan, dan layanan kesehatan bagi keluarga yang terkena dampak.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








