Pasukan pendudukan Israel kembali melakukan serangkaian serangan di Tepi Barat yang diduduki pada Kamis (6/11), membunuh seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dan seorang perempuan lanjut usia berusia 80 tahun, serta menghancurkan sejumlah rumah dan properti warga Palestina di sekitar Al-Quds (Yerusalem) dan Jenin.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Ramallah, Murad Fawzi Abu Seifen (15) ditembak empat kali dalam penggerebekan militer Israel di kota Ya’bad, sebelah barat Jenin. Pasukan Israel dilaporkan mencegah tim medis mendekat. Akibatnya, Murad meninggal akibat kehabisan darah sebelum jasadnya ditahan oleh tentara. Sejak awal 2025, sedikitnya 56 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 200 lainnya terluka di Jenin akibat operasi militer Israel yang berkelanjutan.
Dalam serangan terpisah di al-Mazraa al-Gharbiyya, utara Ramallah, seorang perempuan lansia bernama Haniyya Hanoun (80) meninggal dunia setelah diserang secara brutal oleh pasukan Israel yang menerobos rumah putranya. Menurut anggota dewan kota setempat, Haniyya tidak memiliki riwayat penyakit dan ia meninggal akibat pemukulan brutal. Pasukan Israel juga menahan cucunya, Mohammad Abbas Hanoun, sebelum meninggalkan lokasi.
Di wilayah Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) yang diduduki, pasukan Israel menghancurkan dua rumah milik keluarga Houshieh di Kota Qatana dengan alasan “pembangunan tanpa izin.” Kedua rumah berukuran sekitar 150 meter persegi itu masing-masing menampung sekitar 20 orang, sehingga total sekitar 50 warga kehilangan tempat tinggal. Menurut kantor berita Wafa, keluarga tersebut telah menerima pemberitahuan pembongkaran sejak sepuluh tahun lalu.
Selain itu, pemukim Israel dengan dukungan militer menghancurkan empat bangunan semi permanen milik komunitas Badui Hathrura di kawasan Khan al-Ahmar, timur Al-Quds. Bangunan-bangunan tersebut digunakan sebagai tempat tinggal dan kandang domba. Para pemukim menggunakan buldoser untuk merobohkannya, sementara tentara Israel mencegah warga mendekati lokasi.
Qatana sendiri menjadi sasaran operasi intensif sejak September, ketika otoritas Israel memerintahkan pembongkaran seluruh rumah “tanpa izin” di Qatana dan Qubeiba. Tercatat 25 operasi pembongkaran dilakukan di Qatana, berdampak pada 28 lokasi, termasuk 15 rumah berpenghuni dan 11 fasilitas pertanian.
Sejak awal tahun, pasukan Israel juga telah menghancurkan lebih dari 600 rumah di Kamp Pengungsi Jenin — sekitar 33 persen dari seluruh kamp — dan menyebabkan 22.000 warga kehilangan tempat tinggal.
Gelombang kekerasan di Tepi Barat terus meningkat sejak agresi Israel ke Gaza dimulai pada Oktober 2023. Sejak saat itu, lebih dari 1.000 warga Palestina terbunuh dan sekitar 10.000 lainnya terluka akibat serangan dan kekerasan oleh militer maupun pemukim Israel.
Sumber:
the new arab, arab news
![Tepi Barat telah mengalami peningkatan kekerasan militer dan pemukim Israel selama dua tahun terakhir [Getty]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/2168054311-750x375.jpeg)







