Pada peringatan ke-50 Hari Tanah, para pejabat Palestina memperingatkan tentang peningkatan aktivitas permukiman Israel dan penguasaan lahan yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh Tepi Barat.
Moayyad Shaaban, kepala Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman, mengatakan bahwa tindakan Israel saat ini bertujuan untuk membentuk kembali realitas geografis dan demografis. Dengan kata lain, Israel berusaha melemahkan prospek negara Palestina yang layak. Ia mencatat bahwa Israel kini secara efektif mengendalikan lebih dari 42 persen wilayah Tepi Barat melalui permukiman, pos terdepan, jalan pintas, dan zona militer. Sementara itu, sekitar 61 persen wilayah tersebut berada di bawah kendali penuh Israel.
Jumlah permukiman dan pos terdepan saat ini telah melampaui 542, yang menampung lebih dari 780.000 pemukim ilegal Israel. Di samping itu, terdapat perluasan berkelanjutan melalui unit perumahan baru dan proyek infrastruktur, kata Shaaban.
Ia menggarisbawahi bahwa sejak 7 Oktober, serangan para pemukim telah menyebabkan pengusiran puluhan komunitas Badui. Di sisi lain, ratusan perintah pembongkaran dan pembatasan pembangunan terhadap warga Palestina telah meningkatkan tekanan pada penduduk.
Shaaban menyerukan tindakan internasional yang lebih kuat dan perlawanan rakyat. Ia menekankan bahwa tanah tetap menjadi inti perjuangan dan sangat penting bagi identitas Palestina.
Baca juga : “Israel Memajukan 20 Proyek Permukiman Baru di Al-Quds (Yerusalem)“
Sementara itu, di Jalur Gaza, Hari Tanah secara tradisional diperingati dengan demonstrasi publik dan peringatan resmi. Namun, untuk tahun ketiga berturut-turut, peringatan Hari Tanah ini datang di tengah kondisi yang lebih sulit bagi penduduk Gaza. Setelah lebih dari dua setengah tahun genosida, kehancuran yang meluas, dan pengungsian massal, ribuan warga Palestina di Gaza telah kehilangan atau terputus dari tanah dan rumah mereka.
Sebagian besar wilayah kini tidak dapat diakses oleh penduduk, baik karena kerusakan maupun akibat pembatasan geografis militer. Perkiraan menunjukkan bahwa pasukan Israel kini menguasai lebih dari setengah total luas wilayah Gaza. Sementara itu, lahan pertanian, yang dulunya merupakan tulang punggung ketahanan pangan, telah hancur atau sebagian besar terisolasi.
Di pusat transformasi ini terdapat “garis kuning” yang membentang dari utara ke selatan, dengan kedalaman mulai dari 2 km hingga 7 km (1,2 mil hingga 4,3 mil). Di luar garis ini, yang terkenal dengan penghalang beton berwarna kuning, terbentang area luas yang merupakan “zona tempur” terlarang bagi warga Palestina. Area ini mencakup seluruh lingkungan perumahan dan sebagian besar lahan pertanian di Gaza timur.
Menurut berbagai perkiraan, antara 52 persen dan 58 persen wilayah Gaza kini berada di bawah kendali langsung Israel. Hal ini secara efektif membatasi penduduk di kurang dari setengah wilayah tersebut.
Realitas baru ini tidak hanya membentuk kembali geografi, tetapi juga mendefinisikan kembali makna Hari Tanah. Meskipun peringatan ini secara historis terkait dengan hak untuk kembali ke tanah yang hilang pada tahun 1948, kini peringatan ini juga berkaitan dengan akses ke tanah dan rumah yang hilang selama genosida di Gaza, juga meningkatnya perampasan tanah dan perluasan permukiman di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem).
Sumber: Palinfo, Al Jazeera








