Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan pada Senin (3/5) bahwa dia “belum siap untuk menghentikan” perang yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, dan mengklaim bahwa pernyataan Presiden Joe Biden tentang proposal gencatan senjata tidak akurat, Anadolu Agency melaporkan.
“Saya belum siap menghentikan perang,” lembaga penyiaran publik Israel, KAN mengutip ucapan Netanyahu dalam diskusi rahasia di Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset.
Netanyahu mengklaim rincian proposal gencatan senjata yang disampaikan Biden tidak akurat. “Garis besar yang disampaikan Biden bersifat parsial. Perang akan dihentikan dengan tujuan pengembalian sandera dan kemudian kita akan berdiskusi,” ujarnya.
“Ada detail lain yang dirahasiakan. Kami dapat berhenti berperang selama 42 hari untuk memfasilitasi kembalinya para sandera, namun kami tidak akan menyerah pada tujuan kami untuk meraih kemenangan penuh.”
Perdana Menteri Israel menolak membahas jumlah tahanan Palestina yang akan dibebaskan sebagai bagian dari usulan kesepakatan pertukaran sandera.
“Kami tidak akan setuju untuk mengakhiri perang tanpa mencapai tujuan kami,” kata Netanyahu. “Jumlah sandera yang akan dibebaskan pada tahap pertama kesepakatan belum ditentukan.”
Pada Jumat (31/5), Biden mengatakan Israel mengajukan kesepakatan tiga fase yang akan mengakhiri permusuhan di Gaza dan menjamin pembebasan sandera yang ditahan di wilayah pesisir tersebut.
Biden meminta kelompok Perlawanan Palestina, Hamas, untuk menerima proposal tersebut dan mendesak Netanyahu untuk tidak memedulikan anggota koalisi pemerintahannya yang menolak rencana tersebut.
Namun, kantor Netanyahu menegaskan kembali pada Jumat bahwa Israel bermaksud untuk melanjutkan serangan mematikannya di Gaza sampai semua “tujuan” perang Tel Aviv tercapai.
Hamas mengatakan pihaknya akan menanggapi secara positif setiap usulan yang mencakup gencatan senjata permanen, penarikan penuh dari Jalur Gaza, upaya rekonstruksi, pemulangan pengungsi, dan penyelesaian kesepakatan pertukaran sandera yang komprehensif. Namun Hamas menegaskan bahwa hal itu baru akan terjadi jika Israel menyatakan komitmennya secara terbuka.
Lebih dari 36.400 warga Palestina telah terbunuh di Gaza, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 82.600 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.
Hampir delapan bulan setelah perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur akibat blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan yang melumpuhkan.
Sumber: https://www.#
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








