Jangan membaca tentang generasi kita yang kalah, Nak
Kita telah membuat harapan kecewa
Terpinggirkan layaknya kulit semangka
Usang dan dipukuli layaknya alas sepatu
(Nizar Qabbani, 1967)
Di sebuah komunitas Badui Khirbet al-Hama yang terletak di Lembah Yordan utara di Tepi Barat yang terjajah, Rafi Faqha (74 tahun), tidak pernah melewatkan satu pun hari tanpa permadani tradisional miliknya. Di rumahnya yang sederhana, ia memulai aktivitasnya dengan menghamparkan permadaninya yang berwarna cerah lalu menyikatnya hingga bersih. Kemudian ia akan menyeduh kopi dan mengambil Al-Qur’an besar miliknya dan membacanya di atas permadani tersebut.
Permadani tradisional miliknya adalah salah satu barang yang berhasil ia dan keluarganya bawa ketika Zionis mengusir mereka dari kampung halaman mereka di desa Bissan saat peristiwa Nakba pada tahun 1948[1]. Faqha dan keluarganya kemudian mengungsi ke Lembah Yordan tempat mereka menetap hingga sekarang, namun masih tetap menyimpan kenangan baik akan kampung halaman mereka. Salah satu kenangan tersebut adalah permadani tradisional miliknya.
Dari tempat tinggalnya sekarang, Faqha masih bisa melihat gedung-gedung yang berada di kampung halamannya. Ia mengatakan bahwa pada tahun 1948 ia sempat mengunjungi rumahnya di desa Bissan, namun yang ia dapat hanya kekecewaan. “Tanah dan toko kami semua masih tetap seperti semula, tetapi penduduknya adalah pemukim. Saya merasa sangat sedih setiap kali saya mengunjunginya,” ungkap Faqha.
Rafi Faqha dan permadani yang ia bawa dari kampung halamannya di desa Bissan
(Shatha Hammad/MEE)
Sebagai penduduk tertua di komunitasnya, Faqha telah merasakan semua kepahitan penjajahan Zionis. Usianya baru dua tahun saat terjadi peristiwa Nakba ‘48 yang membuat ia dan keluarganya terusir dari tempat tinggal mereka bersama dengan 300.000 penduduk desa Bissan lainnya. Jalan pikiran kanak-kanaknya membuatnya berpikir bahwa mereka hanya akan pergi selama beberapa hari, kemudian kembali pulang. Namun, kenyataannya, kedua orang tua Faqha bahkan meninggal dan pemakamannya jauh dari kampung halaman mereka sendiri.
Baca juga “Perjuangan Mahasiswa Palestina Menegakkan Keadilan di Universitas-Universitas” di sini
Tahun 1967, peristiwa Naksa terjadi. Seakan belum puas dengan Nakba pada tahun 1948, Zionis kembali melancarkan serangan hingga mereka berhasil mengambil alih wilayah-wilayah Palestina yang tidak bisa mereka rebut pada tahun 1948. Al-Quds (Yerusalem) Timur, Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta Dataran Tinggi Golan Suriah dan Semenanjung Sinai Mesir adalah beberapa wilayah yang berhasil Zionis kuasai.
Wilayah yang dikuasai Zionis pada tahun 1967, diarsir dengan warna hijau (AlJazeera)
Lembah Yordan tempat Faqha tinggal menjadi salah satu wilayah yang Zionis rampas. Faqha kemudian pindah ke Yordania, namun memutuskan untuk kembali lagi setelah 20 hari. “Kami masih di sini. Kami menolak untuk dipindahkan lagi.” demikian Faqha mengatakan. Setelah ia kembali, Zionis semakin gencar menyerang komunitasnya, menghancurkan sebagian besar rumah penduduk.
“Kami tinggal di sini tanpa infrastruktur dasar, tanpa air, tanpa listrik. Semua rumah terancam pembongkaran dan kami selalu menghadapi serangan harian oleh pemukim,” kata Faqha. “Satu tahun yang lalu, tentara membakar pohon zaitun di tanah kami sebagai bagian dari latihan militer yang mereka lakukan di daerah ini. Mereka menolak untuk mengizinkan kami mencapai pohon dan memadamkan api,” tambahnya
Ketika ada pertanyaan bagaimana nasib mereka apabila Zionis benar-benar mengambil alih Lembah Yordan, Faqha tertawa dan menjawab: “Apa lagi yang akan mereka ambil? Mereka mengendalikan segala sesuatu di Lembah Yordan. Mereka sepenuhnya mengendalikan air dan menyerahkannya kepada para pemukim, sama seperti mereka mengendalikan setiap inci tanah di sini. Apa lagi yang akan mereka ambil? Hanya udara yang tersisa untuk kami. Mereka belum menyitanya dari kami,” jawab Faqha.
Baca juga “Krisis Kemanusiaan di Gaza Derita Pengungsi Palestina dalam Blokade Israel” di sini
Faqha hanyalah satu dari banyak penduduk Palestina yang merasakan sakitnya berkali-kali terusir dari kampung halaman oleh Zionis baik itu saat peristiwa Nakba, Naksa, dan pengusiran yang terus berlangsung hingga saat ini. Jika ibarat sebuah buku, Nakba dan Naksa layaknya kisah bersambung yang saling terkait dan kemudian menyusun episode-episode penjajahan selanjutnya.
Nakba dan Naksa merupakan dua peristiwa yang tidak terpisahkan, namun tulisan ini akan lebih banyak membahas tentang Naksa. Nakba memang merupakan peristiwa yang sangat menyakitkan dan meninggalkan trauma mendalam bagi penduduk Palestina, tetapi Naksa adalah tragedi yang seakan menutup seluruh celah harapan bagi penduduk Palestina untuk kembali.
Naksa, yang berarti kemunduran, merupakan tragedi pengusiran besar-besaran yang terjadi pada 5 Juni 1967. Zionis melancarkan serangan terhadap Mesir, Yordania, Irak dan Suriah. Setelah merobohkan pertahanan udara negara-negara tersebut, Zionis kemudian mengambil alih Al-Quds (Yerusalem) Timur, Tepi Barat dan Jalur Gaza, serta Dataran Tinggi Golan Suriah dan Semenanjung Sinai Mesir. Melibatkan beberapa negara, dapat dikatakan bahwa Naksa bukan hanya tragedi yang melibatkan Palestina, tetapi juga seluruh negara Arab.
Meskipun begitu, sebagai negara yang secara langsung terjajah oleh Zionis Israel, Palestina menerima dampak paling buruk dari peristiwa Naksa. Wilayah-wilayah Palestina yang tersisa sejak tragedi tahun 1948 membuat sekitar 300.000 penduduk Palestina kembali terusir dari tempat tinggal mereka ketika terjadi Naksa. Ditambah lagi dengan diambil alihnya kota suci Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa semakin memperburuk kondisi Palestina.
Baca juga “Pawai Yahudi, Parade Bendera yang Memicu Emosi Palestina” di sini
Pemimpin Israel David Ben-Gurion dan Yitzhak Rabin memimpin sekelompok tentara melewati Kubba as-Sakhrah di Kota Tua Al-Quds (Yerusalem) Timur pada Juni 1967 (AlJazeera)
55 tahun telah berlalu sejak terjadinya Naksa, namun penjajahan belum juga berhenti hingga detik ini. Sejak awal tahun hingga Juni 2022, Zionis dilaporkan telah menghancurkan 300 bangunan milik penduduk Palestina di Tepi Barat dan Al-Quds, mengusir penduduk Palestina yang menetap di wilayah tersebut dan mengganti bangunan-bangunan Palestina menjadi permukiman-permukiman ilegal. Saat ini tercatat telah ada sekitar 650.000 pemukim yang tinggal di 164 permukiman ilegal, dan 124 pos militer di permukiman yang terletak di Tepi Barat dan Al-Quds.
Di Masafer Yatta, lebih dari 4000 warga Palestina yang tinggal di 12 desa di wilayah tersebut terancam akan terusir setelah Mahkamah Agung Israel menetapkan wilayah tersebut sebagai ‘zona latihan militer’. Selain itu, sebanyak 74 warga Palestina, termasuk 42 anak-anak juga terancam akan terusir dari tempat tinggal mereka di wilayah Silwan di Al-Quds tahun ini. Mengulang kembali Naksa yang terjadi puluhan tahun yang lalu.
Seorang anak Palestina mencari mainannya di antara puing-puing rumahnya di Masafer Yatta
(Shatha Hammad/MEE)
Sejak tahun 2009 hingga 2022, United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs mencatat bahwa Zionis telah menghancurkan sebanyak 8.474 bangunan Palestina dan mengusir 12.586 penduduk dari seluruh wilayah Palestina. Jumlah ini akan terus bertambah apabila dunia internasional dan lembaga-lembaga hak asasi manusia memilih untuk mengesampingkan permasalahan Palestina.
Sejak awal tahun 2022, Zionis juga dilaporkan telah membunuh 70 warga Palestina dari seluruh wilayah Palestina. Tidak hanya membunuh para pejuang Palestina dalam konfrontasi, Zionis juga membunuh 13 anak-anak tak bersalah dan membunuh 5 perempuan tanpa alasan. Zionis bahkan membunuh dua orang jurnalis yaitu Shireen Abu Akleh dan Ghufran Warasneh[2], mengabaikan hukum internasional yang melarang mereka untuk membunuh petugas media meskipun berada di tengah konfrontasi.
Baca juga “Dome of the Rock dan Kisah Abrahah yang Terulang” di sini
Naksa telah berlalu selama 55 tahun, namun atmosfer penjajahan belum juga hilang dari tanah Palestina. Pengusiran dan pembantaian masih berlangsung, bahkan terhadap perempuan dan anak-anak yang merupakan warga sipil yang seharusnya dilindungi. Akan tetapi, sekuat apa pun Zionis berusaha meluluhlantakkan Palestina, penduduknya akan tetap bergeming, memasang pertahanan melindungi tanah air mereka, meski nyawa adalah taruhannya. Seperti yang dikatakan oleh Rafi Faqha: “Kami masih di sini. Kami menolak untuk dipindahkan lagi.”
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
[1] Baca lebih lanjut di https://adararelief.com/nakba-malapetaka-yang-ditanggung-bangsa-palestina-bagian-i-1799-1936/
[2] Baca lebih lanjut di https://adararelief.com/pembunuhan-shireen-abu-akleh-upaya-membungkam-palestina/
Sumber:
https://101.visualizingpalestine.org/resources/glossary/naksa
https://www.ochaopt.org/data/demolition
https://www.addameer.org/statistics
https://www.#/20220605-remembering-the-naksa/
https://english.wafa.ps/Pages/Details/124889
https://www.middleeasteye.net/news/nakba-naksa-annexation-palestinian-family-history-displacement
https://www.trtworld.com/middle-east/why-do-palestinians-observe-naksa-36999
https://english.alaraby.co.uk/opinion/how-1967-naksa-changed-game-palestine
https://www.alhaq.org/advocacy/16942.html
https://www.arabnews.com/node/1685466/middle-east
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







