Musim dingin yang ekstrem di Jalur Gaza memperparah krisis kemanusiaan yang dihadapi warga Palestina, khususnya keluarga pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat tanpa perlindungan memadai. Sejumlah bayi dan anak-anak dilaporkan meninggal dunia akibat hipotermia di tengah hujan lebat, angin kencang, dan suhu yang terus menurun.
Salah satu korban adalah Mahmoud al-Aqraa, bayi berusia tujuh hari yang meninggal dunia di Deir al-Balah setelah tubuhnya mengalami penurunan suhu drastis saat badai besar melanda wilayah tersebut. Bayi lain, Mohamed Abu Harbid yang berusia dua bulan, juga meninggal di Kota Gaza akibat paparan dingin ekstrem. Keluarga korban menyebut ketiadaan pemanas, selimut yang terbatas, serta tenda yang rapuh membuat mereka tidak mampu melindungi anak-anak dari cuaca ekstrem.
Pemerintah Gaza dan otoritas kesehatan Palestina mencatat sedikitnya 25 orang, termasuk bayi dan anak-anak, meninggal akibat hipotermia sejak awal musim dingin. Sejak Oktober 2023, total korban jiwa akibat paparan dingin mencapai 21 orang, dengan 18 di antaranya adalah anak-anak. Ribuan tenda pengungsi rusak atau tersapu banjir dan angin kencang, menyebabkan lebih dari 250.000 orang terdampak.
Pertahanan Sipil Gaza menegaskan bahwa situasi ini bukan semata bencana alam, melainkan akibat langsung dari pembatasan Israel terhadap masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk bahan bangunan dan tempat tinggal layak. Lebih dari 80 persen bangunan di Gaza telah hancur akibat agresi militer, memaksa ratusan ribu warga mengungsi ke tenda-tenda darurat, termasuk di kawasan pesisir yang sangat rentan terhadap badai.
Badan-badan kemanusiaan internasional, termasuk UNRWA, memperingatkan bahwa pembatasan bantuan telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa, baik akibat runtuhnya bangunan rusak maupun paparan dingin. Mereka mendesak agar bantuan kemanusiaan diizinkan masuk ke Gaza tanpa hambatan dan dalam skala besar.
Di tengah gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober, Israel tetap melanjutkan pembatasan bantuan dan bahkan menangguhkan izin puluhan organisasi kemanusiaan internasional. Langkah ini menuai kecaman luas karena dinilai akan berdampak katastrofik terhadap layanan kesehatan, tempat tinggal darurat, air bersih, dan gizi anak-anak di Gaza.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penderitaan warga Gaza, khususnya anak-anak, terus berlanjut bukan hanya akibat perang, tetapi juga akibat upaya yang menghambat penyelamatan nyawa di tengah krisis kemanusiaan yang semakin parah.
Sumber:
Qudsnen, MEMO








