Mohammad Saif Wasif Hanani, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dari Kota Beit Furik, sebelah timur Nablus, tidak menyangka bahwa kepulangannya ke rumah akan berubah menjadi pengalaman traumatis. Kamera warga merekam kejadian ketika tentara Israel menyerangnya secara brutal selama penyerbuan di kota itu dua malam lalu.
Hanani, seorang siswa kelas enam, sedang mengunjungi rumah pamannya ketika penyerbuan terjadi. Penyerbuan tersebut menciptakan kepanikan di antara warga yang bergegas berlindung di dalam rumah mereka. Saat Hanani kembali ke rumah, tentara mencegatnya, memerintahkannya untuk berhenti sebelum memukulinya dengan brutal, menurut kakeknya, Wasif Hanani.
“Orang-orang berhamburan meninggalkan jalanan, dan Mohammad sedang dalam perjalanan pulang ke rumah ayahnya. Tiba-tiba, para tentara meneriakinya, lalu menyerang dan memukulinya,” kata kakeknya. Sementara itu, seorang warga berhasil merekam penyerangan itu dalam video.
Baca juga : “Tragis! Tawanan Anak Palestina di Bawah Umur Disiksa di Penjara Megiddo“
Keluarga tidak berada di lokasi kejadian dan mereka mengetahui insiden itu melalui media sosial. Di dalam video, Mohammad muncul dalam kondisi sedang dipukuli dan ditahan. Rekaman tersebut membuat keluarganya syok dan sangat cemas akan nasibnya.
Beberapa jam setelah penahanannya, pasukan Israel membebaskan Mohammad di pos pemeriksaan militer Beit Furik dengan tangan terikat. Tanda-tanda penyerangan terlihat jelas, termasuk memar di bawah matanya dan beberapa luka di tubuhnya. Di samping itu, Mohammad menderita tekanan psikologis yang terus berlanjut, berdasarkan konfirmasi dari kakeknya.
Meskipun Israel mengumumkan pembentukan komite investigasi atas insiden tersebut, kakek Mohammad menyatakan keraguannya bahwa para tentara akan dimintai pertanggungjawaban. “Kami tidak mengharapkan pertanggungjawaban apa pun. Kami telah melihat banyak kasus penyerangan anak-anak dan tidak terjadi apa-apa; para tentara berada di atas hukum,” katanya.
Insiden ini terjadi di tengah penyerbuan berulang di Beit Furik, terkadang lebih dari sekali dalam sehari. Kondisi ini telah meninggalkan dampak jangka panjang pada kehidupan penduduk, khususnya anak-anak. Mereka semua terus hidup dalam keadaan takut dan penuh kekhawatiran.
Di tengah penyerbuan rumah, konfrontasi, cedera, dan penahanan, keluarga menghadapi pembatasan ketat terhadap pergerakan dan mendapat ancaman terhadap keselamatan mereka. Sementara itu, anak-anak — seperti dalam kasus Mohammad — tetap menjadi korban paling rentan dalam siklus yang terus berlanjut tanpa pertanggungjawaban.
Kasus ini bukanlah kasus terisolasi. Laporan hak asasi manusia, baik lokal maupun internasional mendokumentasikan pola pelanggaran yang berulang terhadap anak-anak Palestina. Menurut organisasi seperti Defense for Children International – Palestine (DCIP), ratusan anak Palestina ditahan dan diadili setiap tahunnya. Banyak di antara mereka yang mengalami perlakuan buruk, termasuk pemukulan saat penahanan atau selama dalam tahanan, dan larangan mengakses keluarga atau pengacara mereka selama interogasi.
Organisasi hak asasi manusia juga mencatat bahwa penggunaan kekerasan berlebihan terhadap anak-anak selama penyerbuan dan penahanan terus berlanjut di tengah hampir tidak adanya pertanggungjawaban.
Sumber: Wafa







