Israel semakin banyak menggunakan teknologi pengenalan wajah bertenaga AI atau kecerdasan buatan untuk melacak warga Palestina dan membatasi pergerakan mereka melalui pos pemeriksaan tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka, menurut laporan Amnesti Internasional yang diterbitkan pada Senin (1/5).
Menyusul penelitian yang dilakukan di kota-kota Hebron dan Al-Quds (Yerusalem) Timur di Tepi Barat, Amnesti menemukan bahwa militer menggunakan sistem kamera yang disebut Red Wolf sejak 2022. Mereka menyebarkannya di pos pemeriksaan sebagai bagian dari program yang “bergantung pada basis data yang secara eksklusif terdiri dari data individu Palestina. ” Laporan tersebut berjudul Automated Apartheid, “shows how this surveillance is part of a deliberate attempt by Israeli authorities to create a hostile and coercive environment for Palestinians,” kata organisasi hak asasi itu.
Sistem pengawasan Red Wolf digunakan untuk melacak warga Palestina dan mengotomatisasi pembatasan pergerakan mereka, laporan itu menjelaskan. Ketika seorang Palestina melewati pos pemeriksaan tempat Red Wolf dipasang, wajah mereka akan dipindai tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka. Hasil pemindaian wajah tersebut kemudian akan dibandingkan dengan entri biometrik dalam basis data yang secara eksklusif berisi informasi tentang warga Palestina.
Agnes Callamard, sekretaris jenderal Amnesty International, mengatakan: “Otoritas Israel menggunakan alat pengawasan canggih untuk meningkatkan segregasi dan mengotomatisasi apartheid terhadap warga Palestina. Di area H2 Hebron, kami mendokumentasikan bagaimana sistem pengenalan wajah baru yang disebut Red Wolf memperkuat pembatasan yang kejam tentang kebebasan bergerak warga Palestina. Mereka menggunakan data biometrik yang diperoleh secara tidak sah untuk memantau dan mengontrol pergerakan warga Palestina di sekitar kota.”
Dalam sebuah pernyataan kepada New York Times, tentara Israel mengatakan pihaknya melakukan “operasi keamanan dan intelijen yang diperlukan, sambil melakukan upaya signifikan untuk meminimalkan kerusakan pada aktivitas rutin penduduk Palestina.” Namun, Amnesti mengatakan “tidak yakin” dengan alasan “yang dikutip Israel sebagai dasar perlakuannya terhadap warga Palestina, termasuk membatasi kebebasan bergerak mereka, membenarkan pembatasan parah yang telah diberlakukan oleh otoritas Israel.”
Kamera tersebut diproduksi oleh perusahaan China bernama Hikvision, serta oleh perusahaan solusi Keamanan TKH Belanda, dan terhubung ke infrastruktur polisi. Berita ini muncul setelah pasukan pendudukan Israel ditemukan telah memasang senapan mesin yang dikendalikan AI di sebuah pos pemeriksaan di Hebron untuk melacak dan menembak warga Palestina. Diproduksi oleh perusahaan Israel, Smart Shooter, senjata ini menembakkan granat setrum dan peluru berujung spons, dan juga mampu menembakkan gas air mata.
Warga Palestina di Hebron dilecehkan setiap hari oleh pemukim ilegal dan tentara pendudukan yang bertujuan untuk memaksa mereka pergi dari rumah mereka agara Israel dapat mendirikan permukiman ilegal khusus Yahudi di daerah tersebut. Laporan tersebut meminta komunitas internasional untuk mengatur perusahaan sehingga mereka dilarang menyediakan teknologi pengawasan ke Israel dan memberlakukan larangan global atas penjualan senjata dan peralatan militer ke Israel. “Otoritas Israel menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk memperkuat apartheid,” laporan itu menekankan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








