Sudah 73 tahun negara Israel berdiri dan diakui keberadaannya oleh dunia. Artinya, selama 73 tahun itu pula bangsa Palestina hidup dalam penjajahan. Kondisi ini menyebabkan mereka mengalami banyak keterbatasan, baik di dalam wilayahnya sendiri maupun di kawasan pengungsian atau negara diaspora.
Pengungsi Palestina merupakan pengungsi dengan populasi terbesar di dunia, yaitu mencapai 5,9 juta orang. Kebanyakan dari mereka mendiami kawasan negara-negara perbatasan yang berada di sekitar Palestina; sebanyak 39% mendiami kamp di Yordania, 10,5% mendiami kamp di Suriah, dan 9,1% mendiami kamp di Lebanon.[1]
Eksodus pengungsi Palestina terbanyak terdapat di Yordania, yaitu sekitar dua juta pengungsi yang terdaftar dalam data badan pengungsi khusus Palestina (UNRWA). Mereka tersebar di 10 kamp pengungsian di berbagai wilayah di negara tersebut. Pemerintah Yordania adalah satu-satunya negara yang memberikan status kewarganegaraan kepada pengungsi Palestina. Namun demikian, pada kenyataannya, dalam tatanan kehidupan sosial, pengungsi tetap diperlakukan sebagai warga kelas dua. Pemerintah Yordania membatasi hak-hak dasar para pengungsi Palestina, meski sebagian besar dari mereka sudah merupakan generasi kedua atau ketiga yang telah lahir dan besar di negara tersebut.
Sebagai contoh pada sektor pendidikan. Para mahasiswa yang merupakan pengungsi Palestina tidak diperlakukan setara warga lokal, sehingga harus masuk ke jenjang pendidikan tinggi dengan status ‘mahasiswa internasional’. Ini mengakibatkan mereka harus membayar dana pendidikan dua kali lebih tinggi dibanding penduduk asli Yordania. Keterbatasan akses ke pendidikan tinggi ini kemudian mengakibatkan sulitnya akses ke lapangan kerja. Pada akhirnya, kebanyakan profesi pengungsi Palestina di Yordania terbatas sebagai pekerja kasar, seperti tukang las, pembersih, dan buruh pertanian yang bergaji rendah. Sementara itu, tingkat pengangguran juga tergolong tinggi, yaitu mencapai 38%.
(Pemandangan di kamp Baqaa, Yordania. Sumber: peacewadi.com)
Negara tujuan kedua para pengungsi Palestina adalah Suriah. Menurut catatan UNRWA, terdapat 568,730 pengungsi yang menempati sekitar 12 kamp pengungsian di Suriah. Namun, akibat konflik berkepanjangan yang terjadi di negara tersebut, setidaknya 120.000 pengungsi telah meninggalkan Suriah untuk mengungsi ke wilayah lain, kebanyakan dari mereka pergi ke kawasan Eropa, Lebanon, Mesir, dan Turki. Data dari UNRWA menunjukkan bahwa 95% pengungsi membutuhkan bantuan untuk keperluan dasar sehari hari.
Masalah pengungsian di Suriah juga menciptakan gelombang permasalahan trans-nasional yang kompleks dan rumit, terlebih dengan adanya perang saudara di negara itu. Kondisi pengungsi Suriah yang berada di negara-negara lain juga dalam kondisi yang sangat memprihatinkan jika dibandingkan dengan pengungsi dari negara lainnya.
Sementara itu, di Lebanon, kondisi pengungsi Palestina juga tidak lebih baik. Krisis ekonomi yang berawal dari perang saudara pada 1975—1990 menjadi semakin larut, terlebih sejak terjadinya ledakan di Beirut pada 4 Agustus 2020. Hal ini tentu saja berdampak langsung bagi pengungsi Palestina di Lebanon yang berjumlah 479,000 jiwa. Menurut perhitungan Economic and Social Commission for Western Asia (ESCWA), tingkat kemiskinan multidimensi di Lebanon mencapai 82%, sementara kemiskinan ekstrem mencapai 40%.[2]
Selain krisis secara ekonomi, Lebanon juga mengalami krisis sosial yang kompleks. Masuknya pengungsi Palestina secara terus-menerus dari Suriah ke Lebanon mengakibatkan angka kekerasan yang tinggi di perbatasan, sehingga membuat pemerintah Lebanon menutup pintu perbatasan tersebut. Sementara itu, konflik sektarian hingga saat ini masih sering terjadi dan menyebabkan represi dan marjinalisasi hak pengungsi dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Pengungsi Palestina tidak dapat memperoleh kewarganegaraan Lebanon, sehingga memiliki status hukum yang tidak jelas. Marjinalisasi status ini menyebabkan pengungsi Palestina di kamp Lebanon tidak dapat bekerja di 72 profesi penting dan tidak dapat memiliki hak properti. Dengan marjinalisasi status dan diperparah dengan krisis ekonomi yang melanda seluruh negeri, para pengungsi Palestina di Lebanon hidup di bawah garis kemiskinan dan sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.
(Kamp Shatila di Beirut, Lebanon. Sumber: middleeasteye.net)
Sementara itu, kondisi yang lebih memprihatinkan justru dialami oleh para pengungsi di dalam wilayah Palestina. Hal ini karena selain terbelit permasalahan sosial-ekonomi, mereka juga berada dalam kondisi terjajah. Mereka adalah orang-orang Palestina yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka ke berbagai kamp pengungsian di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Pengungsi yang berada di Jalur Gaza harus hidup dalam blokade penjajahan Israel, baik dari sisi darat, laut, maupun udara. Berbagai potensi perairan dengan kekayaan laut yang melimpah di kawasan ini tidak bisa dimanfaatkan oleh penduduk dan pengungsi Palestina akibat adanya blokade laut oleh Israel. Sehari-harinya, penduduk Gaza dilarang untuk melaut dan menangkap hasil laut. Selain itu, blokade darat juga secara sistematis mematikan potensi wilayah ini, karena adanya pos pemeriksaan, tembok pemisah, dan perizinan yang berbelit oleh Zionis Israel.
Akibat dari blokade ini, sumber daya di Jalur Gaza menjadi sangat terbatas. Hal paling krusial yang dapat disorot adalah ketersediaan air bersih dan listrik untuk keperluan sehari-hari. Air bersih tidak tersedia untuk 65% populasi dan pasokan listrik hanya menyala selama 4—5 jam per hari. Kurangnya pasokan listrik berdampak buruk secara langsung terhadap berbagai sektor, seperti rumah tangga, pelayanan kesehatan, ketersediaan air, dan sanitasi. Pada akhirnya, blokade dan hal-hal yang lahir akibat blokade ini memukul perekonomian Gaza, sehingga tingkat pengangguran mencapai 49%. Akibatnya, 80% penduduk Gaza bergantung pada bantuan internasional dan menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di dunia.
Pengungsi Palestina di Gaza merupakan 66% dari populasi, yaitu sebanyak 1,4 juta jiwa dari total 2,25 juta penduduk Gaza. Terdapat 8 kamp pengungsian di Gaza yang dihuni oleh 1,4 juta jiwa. UNRWA mencatat bahwa 50% populasi yang tinggal di pengungsian Gaza yang berusia di bawah usia 25 tahun adalah pengangguran—sementara seharusnya dalam usia ini mereka masih bersekolah. Tingkat kemiskinan yang tinggi juga menyebabkan rendahnya taraf kehidupan dan tingkat pendidikan pengungsi.
Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh 871.000 pengungsi yang tersebar di 19 kamp pengungsian di Tepi Barat. Wilayah Tepi Barat dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu Area A, Area B, dan Area C. Kawasan terakhir atau Area C sepenuhnya dikuasai Israel sedangkan Area A dan B dihuni oleh Palestina. Namun demikian, pengungsi yang mendiami Area A dan Area B mengalami kesulitan dalam mengakses pekerjaan akibat adanya pembatasan oleh pemerintah Israel bagi mereka untuk memasuki Area C. Selain itu, seringkali terjadi konfrontasi antara penduduk kamp pengungsian dengan militer Israel yang sering melakukan serangan dengan menggunakan gas air mata, peluru logam berlapis karet, dan peluru tajam. Siswa yang bersekolah pun tidak luput dari serangan. Mereka sering terpapar gas air mata, bom suara, dan bentuk serangan lainnya oleh militer Israel dalam kesehariannya.
Hingga saat ini, Palestina masih menjadi negara dengan jumlah pengungsi terbesar di dunia akibat penjajahan Israel. Dengan semakin intensifnya pembangunan permukiman ilegal Yahudi di wilayah Tepi Barat, saat ini terdapat sekitar 650,000—750,000 pemukim Yahudi yang menempati wilayah Palestina. Melalui aneksasi merayap ini, Israel telah membangun 160 permukiman ilegal. Pembangunan dan penempatan pemukim ilegal ini juga mengubah komposisi demografi wilayah Palestina yang menyebabkan penduduk dan pengungsi yang menempati wilayah penjajahan harus melakukan eksodus ke tempat lain yang dianggap lebih aman. Apalagi, Zionis Israel seringkali melakukan penggusuran secara paksa. Terhitung sejak 1967 hingga kini, Israel telah menghancurkan lebih dari 27.000 rumah warga Palestina.
Nasib rakyat Palestina, khususnya pengungsi tidak akan menjadi lebih baik tanpa adanya intervensi dunia terhadap strategi-strategi Israel yang bertujuan untuk melakukan yahudinisasi terhadap Palestina. Blokade, penggusuran dan penyerangan merupakan bagian agar penduduk Palestina meninggalkan tanah air mereka. Penduduk Palestina dengan sengaja dan tersistematis dibuat terhimpit dengan persoalan-persoalan sosial dan ekonomi. Mereka dibuat ‘terperangkap‘ dengan keadaan, dan dipaksakan untuk menghadapi kenyataan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah meninggalkan Palestina.
Meski demikian, penduduk Palestina tetap teguh bertahan. Meski mengalami berbagai himpitan hidup, juga berbagai kenyataan pahit, mereka tetap tinggal. Memilih untuk mempertahankan tanah air. Kini, pilihan hanya tinggal pada kita, akankah tetap membiarkan mereka berjuang sendiri?
Anisa Salma Shinta Pramono
[1] UNRWA. (2021). PALESTINE REFUGEES. Retrieved from Palestine refugees | UNRWA, pada 2022, 24 Juni.
[2] Multidimensional poverty in Lebanon 2019-2021, Painful reality and uncertain prospects. ESCWA. E/ESCWA/CL3.SEP/2021/POLICY BRIEF.2
Referensi:
Admin Peacewadi.com. (2016). Palestinian refugee camps in Yordania. Retrieved from Palestinian refugee camps in Yordania – PeaceWadi, pada 2022, 20 Juli.
Al Faqir. (2021). Palestine refugees face ‘dire’ humanitarian conditions amid ongoing clashes in southern Syria: UNRWA. Retrieved from Palestine refugees face ‘dire’ humanitarian conditions amid ongoing clashes in southern Syria: UNRWA | | UN News, pada 2022, 24 Juni.
Aljazeera. (2022). Israeli settler stabs Palestinian man to death: Health Ministry. Retrieved from Israeli settler stabs Palestinian man to death: Health Ministry | Israel-Palestine conflict News | Al Jazeera, pada 2022, 24 Juni.
Barghouti, Anees Suheil. (2018). Palestinians make up world’s largest refugee population. Retrieved from Palestinians make up world’s largest refugee population (aa.com.tr), pada 2022, 24 Juni.
Blair, Edmurd. (2022). Explainer: Lebanon’s financial crisis and how it happened. Retrieved from Explainer: Lebanon’s financial crisis and how it happened | Reuters, pada 2022, 01 Agustus.
Dowling, Padding. (2018). Yordania‘s Palestinian refugee camps. Retrieved from Jordan’s Palestinian refugee camps | The Independent | The Independent, pada 2022, 20 Juli.
Grandi, Fillipe. (2011). PALESTINE REFUGEES IN TODAY’S MIDDLE EAST. Retrieved from “Palestine Refugees in Today’s Middle East” | UNRWA, pada 2022, 24 Juni.
Irfan, Anne. (2021). The Exclusion of Palestinian Refugees Who Fled Syria. Retrieved from The Exclusion of Palestinian Refugees Who Fled Syria | Institute for Palestine Studies (palestine-studies.org), pada 2022, 19 Juli.
Marefa.org. (2013). فلسطينيون في الأردن. Retrieved from فلسطينيون في الأردن – المعرفة (marefa.org), pada 2022, 20 Juli.
Sulaiman, Jabir. (2013). اللاجئون الفلسطينيون في لبنان بين الماضي والحاضر الواقع القانوني والمعيشي. Retrieved from اللاجئون الفلسطينيون في لبنان بين الماضي والحاضر الواقع القانوني والمعيشي | مؤسسة الدراسات الفلسطينية (palestine–studies.org), pada 2022, 01 Agustus.
Tahhan, Zena. (2021). Israel’s settlements: Over 50 years of land theft explained. Retrieved from Israel’s settlements: Over 50 years of land theft explained | Illegal Israeli Settlements in Palestine (aljazeera.com), pada 2022, 20 Juli.
Tim Aljazeera. (2021). Palestinians decry Israeli plan for settlements near Jerusalem. Retrieved from Palestinians decry Israeli plan for settlements near Jerusalem | Israel-Palestine conflict News | Al Jazeera, pada 2022, 22 Juli.
Tim MAP.ORG. (2022). THE ISSUES FACING PALESTINIANS. Retrieved from What are the issues facing Palestinians today? (map.org.uk), pada 2022, 24 Juni.
Tim PRC.ORG. (2020). Palestinian Refugees in Lebanon Facing Abject Humanitarian Condition. Retrieved from Palestinian Refugees in Lebanon Facing Abject Humanitarian Condition (prc.org.uk), pada 2022, 24 Juni.
UNICEF. (2021). State of Palestine receives its third allocation of COVID-19 vaccines. Retrieved from the State of Palestine receives its third allocation of COVID-19 vaccines (unicef.org), pada 2022, 24 Juni.
UNRWA. (2021). PALESTINE REFUGEES. Retrieved from Palestine refugees | UNRWA, pada 2022, 24 Juni.
ReliefWeb. (2021). A day in the life of a Palestine refugee student in the West Bank. Retrieved from A day in the life of a Palestine refugee student in the West Bank – occupied Palestinian territory | ReliefWeb, pada 2022, 24 Juni.
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








