Dalam 24 jam terakhir, WHO mengevakuasi lebih banyak pasien kritis dari Rumah Sakit Nasser. Pasukan Israel melakukan 11 pembantaian di berbagai wilayah Jalur Gaza yang menewaskan sedikitnya 118 syuhada Palestina dan melukai 163 orang, kata Menteri Kesehatan Palestina. Selain itu, Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) mengatakan pihaknya mengevakuasi 21 orang lainnya yang terluka dari Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Kompleks medis tersebut telah diserang dan dikepung Israel sejak pertengahan Januari.
Misi evakuasi PRCS dikoordinasikan dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memindahkan pasien dan korban luka ke rumah sakit lapangan di Rafah agar mendapatkan perawatan yang diperlukan. Kantor berita WAFA melaporkan bahwa artileri Israel mengebom sekitar Rumah Sakit Nasser pada Rabu (21/2) pagi, menyebabkan setidaknya 120 orang terluka.
WHO mengunggah rekaman video misi evakuasi dari dalam Rumah Sakit Nasser yang diselimuti kegelapan karena kekurangan bahan bakar untuk mengoperasikan generator listrik. WHO mengatakan bahwa pihaknya memimpin dua misi penyelamatan dalam beberapa hari terakhir dan mengevakuasi 32 pasien kritis dari rumah sakit.
“Pasien yang lemah dipindahkan dari titik konflik aktif ke tempat yang dekat konvoi bantuan. Kondisi jalan raya menghambat laju pergerakan ambulans, sehingga membahayakan kesehatan pasien,” tulis WHO di platform X sekaligus mengunggah video pendukung. WHO menggunakan empat ambulans PRCS untuk memindahkan pasien ke Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, Rumah Sakit Al-Aqsa di Kota Gaza, Korps Medis Internasional, serta Rumah Sakit lapangan UEA dan Indonesia di Rafah.
Pada Selasa (20/2) malam, seorang dokter WHO merekam video di dalam Rumah Sakit Nasser, menggambarkan bagaimana fasilitas medis tersebut beroperasi selama berhari-hari tanpa listrik atau air mengalir.
“Limbah medis dan sampah menjadi tempat berkembang biaknya penyakit. Daerah ini dikelilingi oleh bangunan yang terbakar dan hancur, lapisan puing yang tebal, dan tidak ada jalan yang utuh,” kata WHO .
Unit Perawatan Intensif (ICU) tidak lagi berfungsi di Rumah Sakit Nasser, sementara 130 pasien dan 15 dokter serta perawat masih berada di dalamnya. Dr Ashraf Al-Qudra, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan pada Rabu (21/2) bahwa delapan pasien meninggal di dalam Rumah Sakit Nasser dalam empat hari terakhir karena kurangnya listrik untuk mengoperasikan peralatan medis.
“Jenazah delapan syuhada mulai membengkak dan menunjukkan tanda-tanda pembusukan sehingga membahayakan pasien lain,” kata Dr Al-Qudra di Telegram . “Penjajah Israel menolak untuk memindahkan jenazah syuhada agar mereka dapat dikuburkan, sekalipun itu merupakan hak asasi mereka yang paling dasar.”
Keluarga-keluarga Palestina harus menguburkan kerabat mereka di halaman rumah sakit sejak Oktober, ketika pasukan Israel mengepung dan menyerang fasilitas di Jalur Gaza. Pada akhir Januari, warga Palestina menguburkan 150 jenazah di halaman Rumah Sakit Nasser, meskipun mereka harus melakukannya di bawah risiko penyerangan penembak jitu Israel.
PRCS memperingatkan pada Rabu (22/2) bahwa Rumah Sakit Al-Amal di Khan Younis masih berada di bawah pengepungan pasukan Israel. PRCS juga mengatakan bahwa Israel memblokir untuk kedelapan kalinya upaya pengiriman makanan dan pasokan medis ke Rumah Sakit Al-Amal, yang berisiko kehabisan bahan bakar dan air minum. Tujuh orang staf RS Al-Amal masih ditahan Israel sejak fasilitas tersebut diserbu pada awal Februari.
Selain itu, Israel terus mengganggu sinyal seluler dan mengganggu komunikasi telepon rumah dan internet dengan dunia luar selama 36 hari terakhir, WAFA melaporkan.
sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








