Tentara Israel mengerahkan pasukan besar di seluruh Tepi Barat pada Jumat (27/02), khususnya di pos-pos pemeriksaan menuju Al-Quds (Yerusalem). Tujuannya adalah untuk memperketat pembatasan terhadap warga Palestina yang ingin salat di Masjid Al-Aqsa pada Jumat kedua bulan Ramadan.
Ribuan warga Palestina berkumpul sebelum fajar di pos pemeriksaan militer Qalandia di utara Yerusalem dalam upaya untuk mencapai kota suci tersebut untuk beribadah. Namun, tindakan ketat Israel mencegah puluhan orang untuk masuk. Tentara berdalih mereka tidak memenuhi syarat yang telah Israel tetapkan, sementara para jemaah mengatakan mereka “dipulangkan meskipun tiba lebih awal.”
Pembatasan Israel Terhadap Jemaah Palestina di Bulan Ramadan
Israel membatasi jumlah jemaah Palestina yang dapat masuk untuk salat Jumat menjadi 10.000 orang sepanjang bulan Ramadan, berdasarkan rekomendasi keamanan Israel.
Pembatasan ketat tersebut menyebabkan warga Palestina harus mendapatkan izin harian khusus untuk setiap salat. Israel membatasi izin masuk ke masjid untuk pria berusia 55 tahun ke atas, wanita berusia 50 tahun ke atas, dan anak-anak di bawah usia 12 tahun dengan pendamping kerabat tingkat pertama.
Militer Israel menyatakan bahwa semua izin memerlukan persetujuan keamanan terlebih dahulu. Para jemaah juga harus menyelesaikan prosedur verifikasi digital di perbatasan saat kembali ke Tepi Barat.
Ramadan adalah magnet yang menarik ratusan ribu warga Palestina dari Tepi Barat ke Masjid Al-Aqsa. Ini menciptakan suasana meriah di Al-Quds (Yerusalem) saat masjid penuh dengan jemaah dan pasar-pasar menjadi ramai.
Sejak awal genosida Gaza pada Oktober 2023 dan berlanjut selama dua tahun, Israel telah memperketat pembatasan pergerakan di pos pemeriksaan militer menuju Al-Quds. Selama dua tahun terakhir, otoritas Israel hanya mengizinkan sejumlah kecil warga Palestina memasuki kota setelah mereka memperoleh izin dari militer, yang sangat sulit mereka dapatkan.
Warga Palestina memandang Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) sebagai ibu kota negara masa depan mereka. Di sisi lain, Israel menganggap kota itu, termasuk sektor timur dan baratnya, sebagai ibu kotanya.
Sumber: Palinfo, Middle East Monitor








