Pada masa keemasan Islam, perpustakaan berkembang pesat karena para pemimpin muslim memiliki komitmen kuat terhadap literasi dan ilmu. Lebih dari 12 abad yang lalu, tepatnya pada tahun 859 M seorang muslimah asal Tunisia bernama Fatimah al-Fihri membangun salah satu universitas tertua di dunia, yaitu Universitas al-Qarawiyyin di Kota Fez, Maroko. Kampus tersebut juga memiliki sebuah perpustakaan yang memainkan peran penting dalam pertukaran budaya dan pengetahuan antara umat Islam dan Eropa.
Hingga kini, Perpustakaan al-Qarawiyyin masih hidup, dengan lebih dari 4000 koleksi manuskrip tua, termasuk manuskrip Al-Quran dari abad ke-9 yang ditulis di atas kulit unta dengan menggunakan aksara kufi (bentuk aksara Arab tertua yang dimodifikasikan dari aksara Nabataea dan Akkadia kuno). Selain itu, terdapat pula manuskrip hukum Islam yang ditulis oleh Ibnu Rushd atau Averroes.
Selain Perpustakaan al-Qarawiyyin, ada pula Perpustakaan Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) di Bagdad, Irak, yang didirikan oleh Khalifah Abasiyyah Harun al-Rashid (786–809) dan berfungsi sebagai pusat penelitian dan pendidikan. Puncaknya terjadi pada masa pemerintahan putranya, Khalifah Al-Mamun (813–833 M) yang menjadikan Bayt al-Hikmah sebagai lembaga formal dan berkembang dari abad ke-9 hingga ke-13.
Perpustakaan penting lainnya ditemukan di Mesir, yaitu Daar al-Hikmah. Didirikan oleh Dinasti Fatimiyah pada masa pemerintahan Khalifah al-Hakim bi Amrillah. Pada masa kejayaannya, perpustakaan ini menampung hingga 100.000 karya tulisan, dengan 18.000 di antaranya merupakan manuskrip dari peradaban kuno. Di Spanyol terdapat Perpustakaan Cordoba yang menampung 400.000 koleksi naskah. Lubna of Cordoba merupakan seorang perempuan yang bertugas untuk mengelola perpustakaan, sekaligus menulis dan menerjemahkan naskah baru. Dia juga merupakan sekretaris istana Khalifah Abd al-Rahman III dan putranya al-Hakam.
Tradisi membangun perpustakaan ini terus terpelihara pada masa-masa selanjutnya, hingga masa Mamluk dan Utsmani (Ottoman). Di Kota Lama Al-Quds (Yerusalem) terdapat sebuah perpustakaan tua yang bernama Maktabah al-Khalidiyyah. Bangunannya telah berdiri sejak masa Kesultanan Mamluk (1389) dan telah menyaksikan berbagai periode pemerintahan, dimulai dari masa Kesultanan Mamluk, Kekhalifahan Utsmani, Mandat Inggris, dan berdiri saat ini di bawah penjajahan Israel.
Keluarga Khalidi, keturunan Khalid ibn Walid di Al-Quds

Asal usul keluarga Khalidi dikaitkan dengan sahabat Rasulullah saw., yakni Khalid ibn Walid, seorang panglima muslim yang dijuluki “Saifullah al-Maslul” atau “Pedang Allah yang Terhunus” karena kecakapannya dalam mengatur taktik militer dan menaklukkan lawan di medan perang.
Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar ibn Khattab, Amr ibn al-Ash dan Shurahbil ibn Hasana diberi kepemimpinan untuk membebaskan Syam (Levantina). Namun, perjalanan tersebut amat berat, terutama ketika mereka berhadapan dengan pasukan Romawi di Palestina dan di selatan Syam. Mereka kemudian mengirimkan pesan yang meminta Khalifah Umar untuk mengirimkan bantuan. Khalifah Umar memerintahkan Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Khalid ibn Walid memimpin pasukan tambahan hingga berhasil membuka seluruh wilayah untuk menuju tempat Masjid Suci Al-Aqsa berada yaitu di Baitulmaqdis.
Di Al-Quds (Yerusalem), benteng Bizantium (Romawi Timur) terakhir yang berada Levantina selatan, menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerahkan diri kecuali kepada Khalifah. Maka, Khalifah Umar pun datang bersama dengan seorang pelayannya. Khalifah Umar kemudian menerima kunci Kota Al-Quds dan mengikat perjanjian damai dengan penduduk setempat melalui sebuah dokumen yang dikenal dengan nama Al ‘Uhdah Al ‘Umariyah. Dengan adanya perjanjian tersebut, Khalifah Umar memberikan jaminan keselamatan bagi masyarakat Yahudi dan Kristen di wilayah itu bahwa mereka tidak akan diganggu dan rumah ibadah mereka tidak akan dirusak. Salah satu sahabat yang menjadi saksi adanya perjanjian tersebut adalah Khalid ibn Walid.
Jejak Khalid ibn Walid hingga kini masih dapat disaksikan di Al-Quds, yakni melalui keberadaan keluarga al-Khalidi, penduduk Al-Quds yang jika ditelusuri silsilahnya maka nasabnya tersambung hingga ke Khalid ibn Walid. Keluarga inilah yang mendirikan sekaligus menjaga Maktabah al-Khalidiyyah, sebuah perpustakaan kuno di bilangan Kota Tua Al-Quds, dekat dengan Bab al-Silsilah, salah satu gerbang masuk menuju kompleks Masjid Al-Aqsa.
Pada 1899, Haji Raghib al-Khalidi yang merupakan seorang hakim Palestina, mendirikan Maktabah al-Khalidiyah setelah neneknya, Khadijah al-Khalidi, mewariskan kepemilikan manuskrip dan buku-buku keluarga yang dikumpulkan selama beberapa generasi. Perpustakaan tersebut kemudian dibuka untuk umum dengan tujuan untuk mendorong penyebaran ilmu, menghidupkan kembali minat terhadap pembelajaran Islam klasik dan mata pelajaran modern, serta menjadi aset bagi Palestina, khususnya Al-Quds (Yerusalem).
Saat ini, Perpustakaan Khalidi memiliki 1.200 manuskrip tulisan tangan, sebagian besar dalam bahasa Arab. Di antara koleksinya, banyak yang berusia hampir 1000 tahun, termasuk sekitar 200 teks Islam yang sangat langka, dan dihias secara rumit dengan motif geometris dengan tinta berwarna.

Maktabah al-Khalidiyyah membantah narasi palsu Zionis
Palestina sebelum tahun 1948 merupakan pusat bagi para intelektual, kritikus sastra, penulis dan musisi. Namun, Nakba mengubah semuanya. Bersamaan dengan penyerangan pasukan paramiliter Zionis yang memaksa sejumlah besar penduduk Palestina untuk mengungsi, kekayaan budaya Palestina pun tercerai berai. Penulis dan cendekiawan terkenal Palestina, seperti Khalil al-Sakakini dan Nasser Eddin Nashashibi, berbicara dengan getir tentang hilangnya buku-buku mereka, benda-benda penting dalam sejarah dan keagamaan yang tidak tergantikan.
“Selamat tinggal, buku-bukuku. Selamat tinggal rumah kebijaksanaan,” tulis al-Sakakini dalam sebuah catatannya. “Berapa banyak minyak yang kubakar bersamamu; membaca dan menulis dalam keheningan malam ketika orang-orang sedang tidur. Selamat tinggal, bukuku!” Khalil al-Sakakini terpaksa meninggalkan rumahnya di Qatamon pada April 1948 setelah Palmach, pasukan paramiliter Zionis, menyerbu desanya. Sejumlah bukunya yang dijarah kini berada di Perpustakaan Nasional dengan namanya yang terlihat jelas, ditulis dengan tinta hitam. Di sebuah buku yang ditemukan tertulis nama putra sulungnya, “Sari Sakakini, Al-Quds 1940.”

Dalam film dokumenter “The Great Book Robbery”, Sejarawan Israel Ilan Pappé menyatakan bahwa penjarahan buku dan manuskrip Palestina bertujuan untuk mengalahkan narasi Palestina dan menghapus orang Palestina dari sejarah. Pappé mengidentifikasi dua kelompok penjarah buku selama periode Nakba: individu yang bertindak sendiri dan membawa pulang harta benda yang mereka peroleh, dan penjarah kolektif atau formal yang bertindak atas nama negara yang mengambil buku-buku tersebut untuk dibawa ke Perpustakaan Nasional. Sejarah mencatat setidaknya ada 30.000 buku dan masnuskrip yang dijarah oleh Zionis-Israel pada Nakba 1948.
Bagi warga Palestina, perpustakaan adalah bukti hidup yang mendukung klaim historis mereka atas Palestina dan membantah “narasi palsu Zionis” yang mendaku sebagai pemilik Palestina. “Kami memiliki manuskrip yang berbicara tentang status budaya dan sosial masyarakat Al-Quds (Jerusalemites), dan ini merupakan indikasi kehadiran orang Palestina di tanah ini selama berabad-abad,” kata Khader Salameh, pustakawan yang mengelola koleksi Maktabah al-Khalidiyyah.
“Isi perpustakaan ini menggagalkan klaim Zionis yang menyatakan bahwa tanah ini adalah tanah kosong,” tambahnya, mengacu pada pernyataan umum Zionis bahwa Palestina merupakan tanah tidak berpenghuni sebelum berdirinya Israel pada tahun 1948. Padahal ketika itu, untuk menciptakan Israel, Zionis mendorong migrasi besar-besaran Yahudi dari penjuru dunia menuju Palestina sekaligus mengusir lebih dari 750.000 warga Palestina dari rumah dan tanah air mereka dalam tindak kejahatan yang dinamakan Nakba atau Malapetaka.
Pada tahun 1967, properti milik keluarga Khalidi di Kota Tua mulai disita oleh Israel satu per satu. “Ada kekhawatiran serius bahwa kami akan kehilangan perpustakaan ini meskipun telah terdaftar sebagai warisan keluarga yang dilindungi,” kata Raja Khalidi kepada Arab News. Selama dua puluh tahun, keluarga Khalidi berjuang keras di pengadilan Israel untuk mempertahankan perpustakaan tersebut. Mereka akhirnya menang meskipun sebagian dari perpustakaan itu “disita” oleh pemukim kolonial Israel untuk membangun yeshiva (sekolah agama Yahudi).
Sejak adanya upaya penyitaan atau perampasan tersebut, Maktabah al-Khalidiyyah terus melakukan upaya restorasi dan digitalisasi naskah. Shaimaa al-Budeiri, petugas digitalisasi arsip mengatakan bahwa hingga saat ini, ia telah memotret sekitar 2,5 juta halaman manuskrip, surat kabar, buku langka, dan dokumen lainnya dari empat perpustakaan swasta di Al-Quds. Hal ini dilakukan untuk merawat dan menyelamatkan dokumen Palestina dari bayang-bayang penjarahan. (LMS)
Referensi
https://www.arabnews.com/node/1800226/middle-east
https://www.aljazeera.com/features/2013/1/29/israels-great-book-robbery-unravelled
https://www.baytalfann.com/post/libraries-in-the-islamic-golden-age
https://digitalprojects.palestine-studies.org/jps/fulltext/42473
https://www.middleeasteye.net/discover/arab-world-five-most-impressive-libraries
https://www.khalidilibrary.org/en
https://marcellodicintio.com/2012/06/20/the-khalidi-library/
https://www.middleeasteye.net/discover/arab-world-five-most-impressive-libraries
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








