Sepak bola tunanetra diketahui sudah dimulai sejak satu abad lalu, dan kompetisi internasional berlangsung secara rutin setiap tahun. Oki Kurnia (27 tahun), penyandang tunanetra sejak lahir merupakan pelopor tim Indonesian Blind Football. Oki dan sahabatnya sejak kecil, Muhammad Irfan Bahri, berlatih futsal bersama dengan menggunakan bola khusus. “Ini bola khusus buatan lokal untuk tunanetra, harganya 200 ribuan,” kata Oki sambil menambahkan kualitasnya tidak sebaik bola impor dari Eropa yang harganya hampir 1 juta–belum termasuk ongkos kirim. Bola khusus tunanetra ini berbunyi jika terguncang karena berisi semacam lonceng kecil di dalamnya. “Dulu waktu masih SD, saya malah bermain pakai bola plastik yang diisi sama biji kacang hijau,” kenang Oki sambil tertawa.
Setibanya Oki, Irfan, dan rekan-rekannya di lapangan futsal, Rizal Muhammad Zaid ikut serta dalam sesi pelatihan dua mingguan ini. Rizal adalah guru di SLB-A Pembina Tingkat Nasional, sekaligus pelatih mereka. “Sepak bola harus jadi olahraga yang menyatukan, apa pun latar belakang suku, agama, ras, bahkan jenis disabilitas. Karena senang dengan sepak bola, saya jadi bergabung dengan teman-teman sepak bola tunanetra,” kata Rizal.
Tim tunanetra yang bergabung dalam sepak bola ini memiliki beragam latar belakang, dari pelajar, pedagang, karyawan, mahasiswa, sampai seniman. Sepak bola menyatukan mereka. “Kami bikin grup dan ingin serius, tidak sekadar main-main. Kami mulai untuk beli rompi, lalu beli blindfold [penutup mata], dan bola yang harganya terhitung mahal,“ katanya.
Berdasarkan aturan khusus sepak bola tunanetra, setiap tim terdiri atas lima orang. Sepak bola tunanetra bisa dikatakan permainan inklusif, karena penjaga gawangnya adalah orang yang bisa melihat. Namun, ‘kiper awas’ ini tak boleh keluar dari garis gawang, sehingga geraknya terbatas. Sebelum pertandingan dimulai, seluruh pemain melakukan hompimpa untuk membagi menjadi dua tim. Rompi dengan warna oranye dan biru dikenakan agar bisa dikenali penjaga gawang.
Seluruh pemain, kecuali penjaga gawang, menggunakan penutup mata. Penggunaan tutup mata ini bertujuan untuk pertandingan yang adil, karena tidak semua tunanetra mengalami kebutaan total. Selain menjadi penjaga gawang, orang yang dapat melihat juga bisa ikut sebagai pemain bertahan atau penyerang. Namun, tugasnya hanya memberi umpan kepada pemain tunanetra dan dilarang mencetak gol. “Tapi itu untuk fun football saja,” kata Oki.
Keterampilan anggota tim Indonesian Blind Football dalam menggiring bola, menggocek, merebut bola, dan menembak ke arah gawang tak bisa disepelekan. Indonesian Blind Football terbentuk pada 2020, sebagai klub sepak bola tunanetra yang berupaya disiplin dengan aturan internasional. Awalnya, kata Oki, IBF terlahir dari permainan sepak bola tunanetra di jalanan. “Saya sering main iseng-iseng di depan jalan, seperti biasa, mengganggu, ya,” kata Oki sambil tertawa. “Kok, kayaknya seru, ya, main bola. Ketika itu kami bermain tiga lawan tiga. Akhirnya, terpikir mengapa tidak diseriusi, atau dibuat satu perkumpulan dulu saja,” tambahnya.
Keseriusan untuk membentuk tim sepak bola tunanetra ini semakin kuat karena pada 2018. Oki mengikuti pelatihan sepak bola yang pelatihnya berasal dari Austria. “Akhirnya, saya diberi tahu peraturan sepak bola atau blind football di internasional. Pemainnya lima orang, dengan satu penjaga gawang yang harus dapat melihat. Ada pelatihnya juga yang bertugas memberikan instruksi di samping, atau di belakang gawang,” tambah Oki.
Akhirnya terbentuklah Indonesian Blind Football atau IBF. Ia mengklaim IBF adalah komunitas sepak bola tunanetra pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menggunakan peraturan internasional. “Saya rasa banyak [tunanetra] juga punya hobi bermain sepak bola. Tapi mereka masih bingung, bagaimana caranya atau harus gabung ke mana. Salah satunya, kami mau tunjukkan kalau kami ada, dan mereka bisa bergabung di sini,” kata Oki.
IBF merupakan klub sepak bola tunanetra rintisan, dan memiliki mimpi menjadi timnas Indonesia yang bisa berkompetisi di kancah internasional. Sejauh ini, belum ada organisasi yang menaunginya. Khusus sepak bola penyandang disabilitas, Indonesia telah memiliki Timnas Amputasi Indonesia, yang tahun ini ikut dalam Piala Dunia Sepak Bola Amputasi 2022. Timnas Amputasi Indonesia yang dikenal dengan Garuda INAF berada di bawah Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI). Federasi ini menjadi pembinaan sepak bola bagi penyandang disabilitas fisik, yaitu amputasi kaki, tangan, dan lainnya. Salah satu kompetisi yang menjadi wadahnya adalah Liga 1 Amputasi Nasional.
“Harapannya kita ingin ada kompetisi internal antar-tunanetra, setidaknya di DKI Jakarta dulu,” kata pelatih IBF, Rizal M. Zaid yang juga salah satu pendiri IBF. Rizal berkata, tantangan yang dihadapi untuk membesarkan IBF antara lain SDM-nya tidak banyak, lingkungan keluarga yang kurang mendukung karena masih menganggap sepak bola tunanetra sebagai olahraga yang “sering tabrak-tabrakan”. Tapi pandangan ini mereka coba patahkan, salah satunya dari pengakuan Taufik Zulfikri, tunanetra yang juga ikut di klub IBF. Baginya, tabrakan antara pemain sepak bola tunanetra merupakan sesuatu yang wajar, dan tidak menyebabkan cedera serius. “Orang awam khawatir, tapi kami sudah biasa. Pernah sekali benturan muka sama muka, tapi itu sudah biasalah,” kata mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.
Menurut Federasi Olahraga Tunanetra Internasional (IBSA), sepak bola tunanetra dipelopori Spanyol pada 1920-an. Lalu, berkembang di Brasil pada 1960-an yang dilanjutkan dengan kejuaraan nasional pertama pada 1974. Namun, sepak bola tunanetra selama puluhan tahun berjalan tanpa adanya organisasi yang menaungi, masing-masing negara punya aturan main sendiri terkait jenis bola, luas lapangan, dan permukaan yang berbeda-beda. Hingga pada 1996, IBSA memayungi sepak bola tunanetra dan membuat regulasi yang seragam.
Pada 2004, sepak bola tunanetra mengukir debut pertamanya di Paralimpiade. Timnas Brasil membuat sejarah di Athena dengan memenangkan gelar Paralimpiade perdana, setelah masuk final melawan timnas Argentina. Di Asia, negara yang telah memiliki tim resmi untuk pertandingan internasional sepak bola tunanetra antara lain Jepang, China, dan Thailand. Dalam lima tahun terakhir, sepak bola tunanetra juga mulai dikembangkan untuk perempuan. Di Indonesia, sepak bola tunanetra baru mulai dirintis oleh Oki dan rekan-rekannya. “Kami berharap Indonesia dapat ikut turnamen-turnamen seperti itu, dan bisa didukung oleh penduduk Indonesia, oleh pemerintah, dan oleh organisasi-organisasi terkait,” tutup Oki.
IBSA memiliki sekitar 100 anggota organisasi di seluruh dunia, salah satunya Indonesia untuk Komite Paralimpiade Nasional Indonesia (NPC Indonesia). Namun, Ketua Komite Paralimpiade Nasional Indonesia, Senny Marbun, mengaku sepak bola tunanetra tidak masuk dalam binaan lembaganya. “Kami ke mana-mana tidak pernah membawa football tunanetra,” katanya. Senny justru menyarankan agar tunanetra yang bergabung di IBF untuk beralih ke cabang olahraga lainnya. “Bisa di renang, atletik, goal ball, atau judo,” katanya.
Ia mengatakan salah satu alasan belum membidik dan membina sepak bola tunanetra karena “orang tunanetra disuruh sepak bola, jatuh-jatuh diketawain orang, tidak enak.” Selain itu, Senny tetap mempersilakan tim IBF ini untuk berkompetisi di tingkat lokal, dan jika ingin mengikuti kejuaraan internasional “mereka mau berangkat sendiri nggak apa-apa. Seperti sepak bola amputasi itu kan berangkat sendiri, tanpa kita.”
Bagaimana pun, negara-negara lain sudah membuktikan sepak bola tunanetra terus berkembang, dan melaju berkompetisi di tingkat internasional. Bagi Oki, kesempatan dan dukungan adalah hal yang berharga bagi timnya saat ini. “Bagaimana kita mau berprestasi kalau kita belum diberikan kesempatan?” tanyanya retoris.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








