• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Kisah Nyata Para Perempuan Palestina Penyintas Agresi Israel ke Gaza (bagian 4): Ia yang Terpaksa Berpisah dengan Suami Tercinta

by Adara Relief International
Juli 4, 2024
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 3 mins read
0 0
0
Kisah Nyata Para Perempuan Palestina Penyintas Agresi Israel ke Gaza (bagian 4): Ia yang Terpaksa Berpisah dengan Suami Tercinta

(Ibu Maryam Rachmayani bersama Ibu Maryam asal Gaza dan anaknya)

63
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Perempuan dengan tatapan yang teduh itu bernama Maryam. Beberapa bulan sebelum agresi, ia baru saja melahirkan. Ingatannya tentang agresi melayang pada pagi hari di 7 Oktober. Ia baru akan membangunkan anak-anak untuk bersiap menghadiri sebuah acara, tetapi tiba-tiba terdengar suara tembakan.

Seketika itu pula ia mengamankan anak-anaknya ke dapur yang berada di tengah rumah, sebisa mungkin menjauh dari kaca. Tidak lama kemudian terdengar takbir bersahutan. Ia pun mengatakan kepada anak-anaknya bahwa hari itu adalah hari lebaran agar anak-anaknya tetap tenang dan tidak ketakutan. Sementara itu, Maryam segera mengumpulkan surat-surat penting, dokumen berharga, laptop, dan kembali berdiam di dapur.

Bagi Maryam dan keluarganya, agresi Israel bukanlah hal baru. Pada 2021, wilayah rumahnya sempat dijadikan sasaran tembak karena lokasinya berdekatan dengan kantor Ismail Haniya. Tapi kemudian terjadi gencatan senjata. Dalam agresi terbaru Israel, kawasan tempat tinggalnya kembali menjadi sasaran pertama.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Pada hari kedua agresi, Maryam mengungsi ke kawasan Al-Karama, tempat keluarga suaminya tinggal. Mereka membeli bahan makanan untuk persediaan beberapa hari ke depan. Namun, karena semua akses listrik dan air diputus, persediaan yang telah dibeli itu pun rusak.

(Wilayah Al-Karama sebelum dan setelah dihancurkan oleh militer Gaza. (Sumber: Maxar Technologies/BBC)

Esok harinya terdapat peringatan bahwa gedung tempatnya tinggal di Al-Karama akan dihancurkan. Maryam dan keluarganya segera mengungsi. Namun, tidak terjadi apa-apa, mereka pun kembali ke sana. Beberapa hari kemudian ada peringatan lagi, dan terus berulang seperti itu, mereka bolak-balik pergi dan pulang hingga beberapa kali, sampai akhirnya ada yang menyarankan mereka untuk mengungsi ke wilayah selatan.

Akan tetapi, mereka memilih untuk tetap tinggal dan bertahan di utara, tepatnya di sekitar wilayah Rumah Sakit As-Syifa. Di dekat RS tersebut terdapat sebuah sekolah Kristen dan ia berpikir Zionis tidak akan menghancurkan sekolah tersebut. Pihak sekolah mengarahkan mereka untuk menempati ruang musik.

(Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza setelah penarikan pasukan Israel. Sumber: AFP via Getty Images)

Saat menyadari rumah mereka masih ada (tidak hancur), mereka memutuskan untuk kembali, meski tanpa kepastian ketersediaan bahan makanan. Dalam kondisi itu, ia terpaksa memberi makanan instan untuk bayinya, hal yang sebelumnya belum pernah ia lakukan karena pertimbangan gizi.

Tidak lama, Maryam dan keluarganya kembali mengungsi di sekolah Kristen. Namun, beberapa hari kemudian, sekolah yang dijadikannya tempat berlindung, menjadi target pengepungan oleh tank-tank Israel dan mereka dipaksa untuk keluar. Suaminya menggendong ibunya yang lumpuh setengah badan, sementara Maryam bersama anak-anaknya pergi dengan berjalan kaki. Mereka tidur di mana saja.

Namun, dalam kondisi apa pun, ayat-ayat Al-Qur’an senantiasa terlantun. Anak sulungnya hafal 10 juz Al-Qur’an. Sebagaimana ibu lainnya di berbagai penjuru dunia, Maryam juga senantiasa memanjatkan doa untuk anaknya. Khusus bagi anak sulungnya, ia berdoa, “Ya Allah, jadikan anakku ini sebagai penghafal Al-Qur’an dan jadikan dia bagian dari tentara-Mu. Ya Allah, pakailah dia, dan jangan gantikan anakku dengan orang lain untuk menjadi tentara-Mu.”

Perjalanan panjang ditempuh oleh Maryam dan keluarganya dengan berjalan kaki tanpa alas. Ia pergi ke wilayah timur yang menjadi bagian dari pengeboman sabuk api. Ia saksikan semua bangunan di wilayah tersebut telah rata dihancurkan; puing, kaca, dan besi berserakan sepanjang jalan.

Mereka mengungsi dari satu tempat ke tempat yang lain hingga tiba di satu sekolah, yang satu ruangannya dihuni oleh 50 sampai dengan 70 orang. Saking padat dan sesaknya, bahkan menyelonjorkan kaki pun sulit. Kondisinya semakin parah saat anak-anaknya terserang diare dan tidak ada air untuk membersihkan kotoran. Selama 1,5 bulan ia tidak menggunakan air, dan terpaksa berwudu dengan cara bertayamum.

(Para pengungsi Gaza yang mengungsi di sekolah UNRWA. Sumber: Anadolu Agency)

Maryam dan anaknya akhirnya dapat keluar dari Gaza karena ia berkewarganegaraan Turki dan namanya termasuk dalam daftar 1500 orang yang dievakuasi oleh pemerintahan Turki.

Pertama kali Maryam melepaskan kerudung dan menyisir setelah agresi adalah ketika ia tiba di Istanbul. Ia kaget karena rambutnya rontok oleh sikat sisirnya. Ia tidak sendirian, ada banyak perempuan Gaza yang akhirnya memilih untuk membotakkan rambutnya karena tidak bisa dirawat akibat tidak pernah membuka hijabnya sepanjang agresi.

Jangankan perempuan, lelaki pun banyak yang berkoreng kepalanya karena langkanya air bersih di Gaza. Saat Maryam mengalami kerontokan parah, agresi telah berlangsung selama 1,5 bulan. Ia tidak dapat membayangkan apa yang dirasakan oleh para perempuan Gaza yang sudah melewati 7 bulan agresi.

Tidak hanya itu, berat badannya turun 10 kilo selama satu setengah bulan. Meskipun suaminya sengaja membawakan makanan bergizi untuk menambah tenaga, terlebih Maryam masih menyusui bayinya, tapi Maryam tidak sanggup untuk makan. Ia memikirkan anak-anaknya yang tidak makan secara layak. Berat badan suaminya bahkan turun drastis sebanyak 20 kilogram.

Suami Maryam adalah teknisi elektronik yang bertugas membetulkan alat-alat medis di ambulans. Selama agresi berlangsung, suaminya tetap melakukan pekerjaannya meskipun dibayangi bahaya dan belum mendapatkan gaji. Awalnya, Maryam sempat protes karena pekerjaan suaminya sangat berisiko. Pikirnya, percuma alat-alat itu diperbaiki jika nantinya akan rusak terkena bom. Namun suaminya menjawab, “Jangan sampai ada orang yang meninggal karena saya tidak menjalankan tugas.” Hingga kini suaminya masih berada di Gaza dan tetap berkeliling untuk memperbaiki ambulans.

(Para perempuan penyintas agresi Gaza bersama dengan pengurus, komunitas dan mitra Adara yang melakukan perjalanan kemanusiaan ke Turki pada Mei 2024 lalu.)

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

ShareTweetSendShare
Previous Post

Update Hari ke-269: “Tidak ada tempat dan tidak seorang pun yang aman di Gaza”

Next Post

Tentara Israel Kuasai 26% Wilayah Jalur Gaza

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
24

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
21
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
28
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
115
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Tentara Israel Kuasai 26% Wilayah Jalur Gaza

Tentara Israel Kuasai 26% Wilayah Jalur Gaza

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630