Bukan yang pertama, melainkan untuk ketiga kalinya rumah keluarga al-Sabbagh dihancurkan oleh Israel. Pada pagi hari Kamis, 26 Januari 2023, menurut video yang dirilis oleh tentara Israel, mereka menembakkan peluncur roket ke arah rumah keluarga al-Sabbagh dari jendela dapur rumah Abu Siriya. Ledakan mengakibatkan kerusakan parah pada rumah-rumah tetangga, melukai banyak warga dengan pecahan kaca dan atap yang runtuh.
Kisah tersebut memunculkan kembali ingatan-ingatan ketika Israel menghancurkan rumah mereka pada waktu-waktu sebelumnya. Tahun 1991 menandai kali pertama rumah keluarga al-Sabbagh menjadi target penghancuran Israel. Saat itu, di tengah berkecamuknya Intifada pertama, Israel menangkap Mohammad al-Sabbagh yang terlibat dalam gerakan perlawanan Palestina, kemudian menghancurkan rumah keluarganya. Selama 22 tahun, Israel menahan Mohammad di penjara sebagai tawanan politik.
Kemudian, pada November 2002 atau tahun ke-11 Mohammad di penjara, Israel membunuh Alaa, saudara laki-lakinya yang juga terlibat dalam perlawanan. Tidak cukup dengan itu, Israel kemudian menghancurkan rumah keluarga itu untuk kedua kalinya.
Dua puluh satu tahun telah berlalu, tetapi perlawanan keluarga itu tidak pernah redup. Pada Kamis pagi, 26 Januari 2023, Ziad, putra Alaa al-Sabbagh yang lahir hanya 2 pekan sebelum kematian ayahnya, membarikade diri dan teman-temannya sesama pejuang Palestina, saat tentara Israel datang menyerbu. Tiga di antara mereka tewas, tetapi Ziad al-Sabbagh berhasil keluar hidup-hidup dari kepungan tersebut meski kemudian ditangkap Israel. Setelah penangkapan Ziad, rumah keluarga al-Sabbagh kembali dihancurkan.
“Kamu tidak akan terbiasa dengan apa pun. Kehilangan itu sulit,” kata Mohammad al-Sabbagh. “Kehilangan rumah dengan segala sejarah dan kenangannya tidaklah mudah. Tapi inilah nasib rakyat Palestina. Selama ada pendudukan, akan ada perlawanan. Selama ada razia, akan ada pembelaan diri.”
Tetangganya, Abu Siriya, mengatakan hal yang serupa. “Rumah kami, semua rumah tetangga, terkena dampaknya. Kaca di semua jendela pecah, sejak kemarin orang baru saja membersihkan rumah. Bagaimana perasaan kami? Tentu saja, kami sedih, tapi tidak apa-apa. Itu semua untuk kepentingan tanah air, dan pemuda, dan untuk seluruh Palestina.”

Bagi Abu Siriya, sebagaimana juga para penduduk di Kamp Jenin lainnya, apa yang dialami keluarga al-Sabbagh juga merupakan realita mereka sehari-hari. Operasi pencarian orang, penggerebekan, penyerbuan, dan segala pembatasan adalah konsekuensi hidup di bawah penjajahan Israel. Dan hari itu merupakan salah satu yang paling mematikan. Dalam hitungan hanya beberapa jam, operasi pengepungan rumah keluarga al-Sabbagh yang juga disertai penyerbuan atas seluruh kamp telah mengakibatkan kematian 10 orang dan puluhan yang terluka.
“Adegan di Kamp Jenin membawa kami kembali ke tahun 2002, ketika kamp menjadi sasaran operasi militer besar-besaran yang mengakibatkan penghancuran sebagian besar rumahnya,” kata Assem Muslim, seorang penghuni kamp, “Selama empat jam, suara peluru dan ledakan tidak berhenti. Kamp menjadi saksi pertempuran sesungguhnya,” tambahnya.
Wakil Gubernur Jenin, Kamal Abu Al-Rub, menuding otoritas Israel melakukan pembantaian di Kamp Jenin. “Apa yang terjadi di Jenin adalah invasi terbesar sejak 2002, ini adalah pembantaian resmi,” tegasnya. “Apa yang kami lihat pada hari ini serupa dengan kehancuran yang ditinggalkan oleh pembantaian Israel pada Nakba 1948, ” tambahnya. Nakba diperingati oleh rakyat Palestina pada 15 Mei setiap tahun untuk mengenang pengusiran Israel terhadap ratusan ribu warga Palestina dari rumah dan daerah mereka pada tahun 1948 setelah berdirinya Israel.
“Manusia, harta benda, bahkan anak-anak pun tidak luput (dari serangan),” imbuhnya, “Pasukan sengaja membunuh. Mereka menembak tanpa pandang bulu.”
Kefaya Obeid, salah seorang penghuni kamp turut bercerita, “Semua orang di kamp ini menderita hal yang sama. Jika Anda pergi dari rumah ke rumah, kisahnya akan sama: jika tidak ada yang mati terbunuh, maka ada yang ditawan, jika tidak ada yang ditawan, ada orang yang terbunuh. Ini realita hidup kami.” Lebih lanjut, ia meyakini bahwa tentara Israel bukan hanya menyasar para pejuang Palestina, tetapi juga warga sipil lainnya. Penyerbuan atas rumah keluarga al-Sabbagh hari itu adalah salah satu buktinya, karena ia menyaksikan sendiri bagaimana ibunya menjadi salah seorang korbannya.
Majida Obaid, yang berusia 61 tahun dan tinggal di bagian lain dari Kamp Jenin sedang duduk di rumahnya, membaca Al-Quran dan beribadah, sebelum ia ditembak melalui jendela lantai atas rumahnya. Putrinya, Kefaya sedang berada di dekatnya saat pembunuhnya itu terjadi.
“Ibuku berdiri di sini setelah dia salat, dia ingin melihat ke luar dan melihat apa yang terjadi. Aku masih di bawah. Dia berdiri untuk melihat, tetapi ia langsung ditembak di leher dan satu tembakan lagi di jantungnya. Pelurunya mengarah ke sini dan menembus TV,” kata Kefaya.
“Dia jelas seorang perempuan tua. Apakah penembak jitu tidak melihat ibuku tidak bersenjata?” Kefaya bertanya dengan marah, “Mungkin peluru pertama salah, tapi bagaimana dengan peluru kedua?”
Selain Majida, dua orang anak juga turut menjadi korban: Abdullah Mousa yang berusia 17 tahun, dan Waseem al-Ja’es yang berusia 16 tahun. Abdullah ditembak oleh penembak jitu, sementara Waseem tewas ditabrak oleh kendaraan militer Israel. Selain itu, Israel juga memblokade seluruh pintu masuk dan keluar kamp, termasuk melarang ambulans untuk masuk.
Khaled al-Ahmad dan tim medis dari Bulan Sabit Merah Palestina telah berada di lokasi setelah penyerbuan Kamp Jenin dimulai. Namun demikian, dia mengatakan bahwa selama lebih dari satu setengah jam, tentara Israel mencegah petugas medis dan ambulans memasuki kamp untuk merawat yang terluka.
“Di pintu masuk kamp ada banyak pasukan, sangat banyak. Tidak ada cara untuk masuk sama sekali tanpa koordinasi keamanan. Kami mencoba masuk berkali-kali, tetapi usaha kami gagal. Kami tidak diperbolehkan masuk. Tidak mungkin,” kata al-Ahmad, “Jika ambulans mencoba memasuki kamp, kami akan diblokir, atau ditembak.”
Saat ditanya tentang bagaimana perasaannya sebagai tenaga medis yang melihat orang terluka tetapi tidak dapat membantu mereka, Ahmad menjawab, “Ini perasaan yang tak terlukiskan. Itu membuatmu menangis. Saya memikirkan bagaimana jika itu adalah putra saya, atau paman saya, atau putri saya. Bagaimana perasaan Anda? Tidak ada kata-kata untuk menggambarkan perasaan itu,” katanya, “Ini benar-benar mengerikan karena Anda tahu bahwa mungkin mereka masih hidup, dan jika kami menghentikan pendarahannya atau membantunya, mungkin dia akan hidup.”
Akibatnya, hanya dalam beberapa jam di pagi itu, sembilan orang tewas. Beberapa hari kemudian, seorang warga Palestina ke-10 meninggal karena luka yang dideritanya. Korban bertambah bukan semata-mata karena serangan yang terjadi, tetapi juga karena upaya Israel yang menghambat para petugas medis. Oleh karenanya, orang Palestina selalu menganggap operasi seperti ini sebagai operasi pembantaian yang juga merupakan upaya pembersihan etnis.

Tahun 2022, bagaimanapun, telah menjadi tahun paling mematikan di Tepi Barat, karena Israel telah membunuh lebih dari 170 warga Palestina, termasuk 53 anak-anak. Namun, tahun 2023 baru berjalan selama hampir tiga bulan, saat jumlah warga Palestina yang dibunuh oleh pasukan Israel mencapai 88 orang, termasuk 16 anak-anak dan seorang perempuan tua.
Sejarah Perlawanan Kamp Jenin

Terletak di utara Tepi Barat, Kamp Pengungsian Jenin memiliki sejarah panjang perjuangan melawan penjajahan Israel. Dengan populasi sebanyak 14,000 jiwa, kamp yang hanya berluaskan 0,42 km persegi itu telah menjadi tempat penderitaan yang signifikan semenjak berada di bawah penjajahan Israel. Para pengungsi kamp merupakan mereka yang melarikan diri dari pembantaian Israel pada Nakba 1948, mereka menempati kamp pengungsian Jenin yang didirikan UNRWA pada 1953 setelah kamp asli di daerah itu hancur dalam sebuah badai salju. Pada 2002, Kamp Jenin sangat terpengaruh oleh intifada kedua, saat Pasukan Pertahanan Israel menduduki kamp tersebut setelah sepuluh hari pertempuran intensif. Lebih dari 50 orang Palestina menjadi korban dalam peristiwa tersebut, sementara 400 rumah hancur dan ratusan lainnya rusak parah sehingga lebih dari seperempat populasi kehilangan tempat tinggal.
Hingga kini, Kamp Jenin tidak pernah lagi sama. Dampak invasi Israel pada 2002 masih terus memengaruhi kondisi sosial ekonomi maupun keamanan di kamp. Militer Israel terus meningkatkan penggerebekan yang mematikan, penangkapan, dan pembunuhan yang ditargetkan di dalam dan di sekitar kota. Pada akhirnya, ini tidak pernah membawa perdamaian, sebaliknya menciptakan lebih banyak kebencian dan memotivasi lebih banyak orang untuk mengangkat senjata. Apalagi, selain melakukan penyerbuan militer, Israel juga menerapkan sanksi ekonomi dengan mencabut izin perjalanan bagi penduduk yang bekerja di luar kota serta menutup jalan yang menghubungkan Jenin ke bagian lain di Tepi Barat sehingga menutup banyak mata pencaharian penduduk.
“Setiap orang yang ingin mengetahui kebenaran harus bertanya, apakah perlawanan itu merupakan akibat ataukah sebab? Penyebabnya adalah adanya penjajahan. Penyebabnya adalah keberadaan kamp pengungsi dan pemindahan orang-orang Palestina serta masih adanya masalah pengungsi,” kata Jamal Hweil, salah seorang penduduk Jenin.
“Penyebabnya adalah adanya pencaplokan atas tanah kami. Perlawanan bukanlah penyebabnya. Perlawanan adalah hasilnya.” pungkasnya.
Pada tahun 2022, tentara Israel melakukan puluhan serangan ke kamp pengungsian Jenin sebagai bagian dari Operasi Break the Wave untuk menghentikan perlawanan di Tepi Barat. Sejak momen tersebut, untuk pertama kalinya sejak Intifada Kedua, warga Palestina di Jenin secara kolektif mengangkat senjata atas nama perjuangan melawan penindasan Israel.
Sementara itu, pada 2023 yang baru berjalan hampir tiga bulan, setidaknya tiga penyerbuan besar telah terjadi di Jenin. Serangan pertama pada 26 Januari yang membunuh 10 orang, kemudian pembunuhan 6 orang Palestina pada 7 Maret, serta pembunuhan 4 orang Palestina pada 16 Maret 2023.
“Kami keluar dari rahim ibu kami ke dunia ini untuk melawan penjajah ini, yang telah mencuri agama kami, adat istiadat kami, tradisi kami, dan yang telah membunuh ayah dan saudara kami,” kata salah seorang pejuang Palestina di Jenin. “Dunia perlu tahu bahwa kami bukan teroris. Penjajah adalah satu-satunya teroris di dunia ini.”
“Kami dibesarkan sebagai anak-anak di tengah-tengah (penjajahan) ini, setiap hari ada penyerbuan tentara, setiap hari ada operasi militer, setiap hari seseorang ditangkap, setiap pemuda dieksekusi, perempuan juga dieksekusi. Penjajah memasuki kamp dan kota tanpa membedakan antara yang tua dan yang muda, membunuh siapa pun yang menghalangi jalan mereka,” lanjutnya, “Ini adalah realita yang kami tumbuh bersama sebagai anak-anak, jadi tentu saja kami akan menjadi petarung, kami tidak akan duduk di meja kerja.”

Selama bertahun-tahun, menurut Buttu, Israel dan Otoritas Palestina telah berupaya keras untuk membawa Jenin berada di bawah kendali. Salah satunya melalui operasi penangkapan di kamp pada Desember yang lalu dengan dalih melakukan pengamanan. Meski demikian, upaya itu tidak pernah berhasil. Para penduduk Jenin, bagaimanapun, tetap mendukung para pejuang Palestina, yang kini jejak-jejak perjuangan mereka banyak diikuti oleh generasi muda. Mereka mengatakan bahwa perlawanan Palestina akan berlanjut seiring dengan kekerasan dan pendudukan Israel yang terus berlanjut.
“Rakyat Palestina tidak berbeda dengan bangsa lain di dunia. Mereka tidak akan menerima subordinasi, mereka tidak akan menerima penjajahan, mereka tidak akan menerima penghinaan,” kata Jamal Hweil, “Kamp [pengungsi] Jenin akan tetap menjadi simbol kebanggaan, martabat, kebebasan, dan keadilan bagi semua orang di dunia.”
Ihdal Husnayain, SE, MSi.
Penulis merupakan anggota Departemen Resource Development and Mobilization Adara Relief International yang mengkaji tentang realita anak dan perempuan Palestina. Ia merupakan lulusan Fakultas Ekonomi UI dan telah menempuh pendidikan masternya di Universitas Pertahanan Indonesia.
Sumber:
https://mondoweiss.net/2023/03/on-the-brink-jenins-rising-resistance/
https://www.unrwa.org/sites/default/files/jenin_refugee_camp.pdf
https://www.middleeasteye.net/news/palestinian-shot-dead-israeli-military-west-bank
https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-west-bank-tensions-what-driving
https://www.#/20230317-israel-kills-4-palestinians-in-latest-raid-on-jenin/
https://www.#/20230126-israel-occupation-forces-kill-9-palestinians-wound-20-others-in-jenin/
https://www.aljazeera.com/news/2022/4/9/one-dead-in-israel-army-raid-on-palestinian-refugee-camp
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








