Omar*, seorang pemuda berusia 17 tahun, dulunya tinggal di Eritrea bersama ibu dan dua saudara laki-lakinya. Ketika kakak laki-lakinya terbunuh akibat kekerasan komunal, ibunya membujuknya untuk meninggalkan negara itu agar tidak terjerat dalam siklus balas dendam dan untuk mencari prospek hidup yang lebih baik. Meskipun bertentangan dengan keinginannya dan situasi keuangan yang terbatas, Omar turut pindah ke Sudan. Dalam kondisi tidak berdokumen, keluar dari sekolah, dan tidak dapat menemukan pekerjaan, Omar berisiko dilecehkan dan ditahan. Selain itu, dia juga takut pembunuh saudara laki-lakinya pada akhirnya akan mengejarnya.
Ketika Omar mengetahui bahwa sekelompok teman sebayanya bermaksud untuk bermigrasi ke Libya dengan bantuan seorang penyelundup, dia bergabung dengan mereka. Dia tidak tahu risiko yang akan dia hadapi di sepanjang jalan. Begitu sampai di Libya, anak-anak dipindahkan ke pedagang, ditahan untuk uang tebusan, dan disiksa. Setelah dua bulan, kelompok bersenjata menyerbu lokasi di al-Kufra, tempat mereka ditawan. Omar berhasil melarikan diri dan mencapai Tunisia, sementara kawannya yang lain hilang atau tewas.
Ini bukan hanya cerita Omar. Setiap tahun, puluhan ribu anak melakukan perjalanan berbahaya dari Timur dan Tanduk Afrika ke Eropa di sepanjang Rute Mediterania Tengah (CMR) yang membentang dari Afrika sub-Sahara. Mereka didorong oleh konflik, krisis iklim, penganiayaan, kesulitan ekonomi, dan kurangnya kesempatan di negara asal mereka.
Keluarga yang putus asa mengumpulkan dana berharga untuk membayar para penyelundup, yang seringkali adalah seseorang yang mereka kenal dan percayai di komunitas mereka. Hal tersebut dilakukan untuk membawa mereka dengan aman ke perbatasan internasional menuju kehidupan yang lebih menjanjikan. Tragisnya, banyak dari anak-anak ini harus menanggung akumulasi risiko, seperti kemungkinan kerja paksa, eksploitasi seksual, tebusan, penculikan, dan pelecehan.
CMR adalah perjalanan yang panjang, tidak peduli dari mana dimulainya. Risiko yang dialami lebih sering dan lebih parah selama penyeberangan perbatasan, gurun, dan laut, terutama ketika anak-anak tidak dapat mengakses sistem pendukung mereka. Kamp-kamp yang diawasi dengan buruk, fasilitas penahanan, tawar-menawar dengan penyelundup tanpa kerabat dewasa, dan berhadapan dengan petugas penjaga perbatasan membuat keadaan semakin menantang. Selain itu, kerentanan, sifat, dan latar belakang etnis anak dapat meningkatkan bahaya berbagai bentuk eksploitasi. Penelitian mengungkap mekanisme koping yang digunakan anak-anak untuk melindungi diri dari konsekuensi terburuk eksploitasi. Namun, beberapa dari strategi ini dapat membahayakan anak-anak.
Anak laki-laki dan perempuan yang bermigrasi menghadapi risiko yang berbeda dan membutuhkan mekanisme penanggulangan yang berbeda. Di antara anak perempuan, pelecehan seksual dan pertukaran seks untuk kebutuhan dasar biasa terjadi di pusat-pusat migrasi besar. Praktik-praktik ini berkisar dari layanan seksual yang ditawarkan di kamar terpisah di salon kecantikan dan kedai teh di Khartoum hingga rumah bordil di Libya dan pernikahan kontrak di Mesir. Strategi pencegahan untuk anak perempuan adalah bepergian dengan orang dewasa terpercaya, menjaga kontak dekat dengan keluarga dan diaspora mereka, serta berbaur dengan penduduk setempat agar tidak terlalu terlihat.
Beberapa gadis migran juga mengantisipasi kejadian buruk dan berencana untuk mengurangi konsekuensi yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, banyak di antara gadis yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka diperkirakan akan diperkosa dalam perjalanan sehingga mereka meminum pil kontrasepsi sebelum berangkat sebagai langkah mitigasi. Menurut seorang pekerja sosial di Tunisia, ‘korban (perempuan) menganggap risiko pemerkosaan sebagai hal yang wajar… semacam harga yang harus dibayar’.
Ketika tidak ada rute migrasi resmi; ketika kebijakan anti-perdagangan manusia didelegasikan ke kontrol migrasi; dan ketika ada akses terbatas atau tidak ada sama sekali ke perbatasan, risiko perdagangan anak dan eksploitasi (seksual) meningkat. Keterbatasan atau kurangnya akses yang memadai ke perlindungan dan layanan penting – yang paling umum terjadi di lingkungan yang tidak bersahabat – meninggalkan migran anak di bawah kekuasaan penyelundup dan pedagang.
Sumber:
https://www.savethechildren.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








