Surah Al-Israa’ yang berarti “perjalanan di malam hari” adalah surah ke-17 dan permulaan juz ke-15 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk dalam golongan Makkiyyah (turun sebelum hijrah). Nama lain dari Surah Al-Israa’ adalah Surah Bani Israil dikarenakan isinya membahas tentang kaum tersebut.
Terdapat beberapa keutamaan Surah Al-Israa’, yakni:
Pertama, satu-satunya surah di dalam Al-Qur’an yang diawali dengan سُبْحَانَ yang artinya Maha Suci Allah.
Kedua, salah satu wirid Rasulullah Saw. karena Rasulullah Saw. selalu membaca surah ini setiap malam. Istri beliau, Aisyah ra. berkata bahwa,“Nabi tidak tidur di atas tempat tidurnya, kecuali berliau membaca surah Bani Israil (Al-Israa’) dan surah Az-Zumar pada setiap malamnya.” (HR. Ahmad)
Ketiga, satu-satunya tempat yang Allah menyebutkan kata الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى (Masjid al-Aqsha) secara eksplisit di dalam Al Qur’an dan satu-satunya ayat yang menyebutkan perjalanan Isra’ Nabi Muhammad Saw. Ayat pertamanya menjelaskan tentang kejadian Isra’ Mi’raj yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau diperjalankan Allah pada malam hari dari Masjid al-Haram di Kota Makkah menuju Masjid al-Aqsa di Palestina. Rasulullah kemudian bertemu langsung dengan para nabi dan rasul selama perjalanan menuju langit hingga akhirnya bertemu Allah di Sidratul Muntaha atau langit tertinggi. Ketika itulah beliau Saw. menerima perintah langsung dari Allah untuk salat lima waktu dalam sehari. Gambaran peristiwa tersebut tertuang jelas dalam firman Allah Swt:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Surah Al-Israa’ ayat 1)
Keempat, terdapat beberapa kandungan di dalam surah Al-Israa, misalnya kisah perjalanan Isra’ Nabi Muhammad Saw., kisah Bani Israil, dan lainnya. Kandungan lainnya adalah mengenai akhlak, seperti adab berinteraksi dengan orangtua, tetangga, dan masyarakat. Persoalan tauhid pun dibahas melalui perintah mengesakan Allah dan penyebutan nama Allah yang baik, juga larangan berzina, larangan membunuh, dan lain sebagainya.
Kandungan ayat 1—3
Di dalam ayat pertama Surah Al-Israa’ terdapat beberapa poin-poin penting yaitu, Allah berfirman dengan kata سُبْحَانَ Maha Suci Allah sehingga menjauhkan Allah dari segala sifat kekurangan dan hendaknya umat Islam ketika menyaksikan sesuatu yang menakjubkan atau luar biasa mengucapkan kalimat tasbih tersebut. Kemudian أَسْرَى yang berarti perjalanan Isra’ Nabi Muhammad Saw. terjadi pada malam hari. Kata عَبْدِهِ adalah pujian Allah khusus kepada Nabi Muhammad Saw. karena tidak menyebut nama beliau dengan namanya melainkan pujian tersebut. Terakhir, kata لَيْلًا yang memiliki tanda baca tanwin di akhir kata, yang dalam bahasa Arab disebut dengan nakirah littaqlil (sedikit) sehingga menjelaskan bahwa perjalanan Israa’ Mi’raj terjadi di sebagian malam bukan sepanjang malam.
Dalam ayat kedua, Allah memberi peringatan kepada Bani Israil bahwa apabila mereka ingin selamat, maka wajib berpegang teguh kepada kitab Taurat dan tidak mempersekutukan Allah Swt.
وَءَاتَيْنَا مُوسَى ٱلْكِتَٰبَ وَجَعَلْنَٰهُ هُدًى لِّبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا۟ مِن دُونِى وَكِيلًا
“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku”
Sementara itu, pada ayat ketiga Allah menjelaskan bahwa Bani Israil adalah keturunan Nabi Nuh a.s. dan Allah memberi Nabi Nuh gelar عَبْدًا شَكُورًا atau hamba (Allah) yang banyak bersyukur.
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
“(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.”
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut Allah mengingatkan Bani Israil akan nikmat dan karunia-Nya. Dengan kata lain, ayat ini seakan-akan mengatakan, “Hai keturunan orang-orang yang Kami selamatkan dan Kami bawa bersama-sama Nuh di dalam kapal, bertindaklah sebagaimana orang tua kalian!” Tindakan yang Allah maksud adalah bersyukur.
“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.”
Di dalam hadis dan atsar atau ucapan ulama salaf disebutkan bahwa Nabi Nuh as. selalu memuji Allah dalam semua perbuatannya. Oleh karena itulah, beliau dijuluki sebagai hamba Allah yang banyak bersyukur.
Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik, ia bercerita, Rasulullah Saw. bersabda:
إن الله ليرضى عن العبد أن يأكل الأكلة، فيحمده عليها، أو يشرب الشَّربة، فيحمده عليها
“Sesungguhnya Allah akan meridai seorang hamba yang menyantap makanan lalu memuji Allah atas makanan itu atau minum lalu memuji Allah atas minuman itu.”
(HR. Muslim, At Tirmidzi, dan An Nasa-i)[1]
Sementara itu, dalam Tafsir al-Azhar karya terbesar Prof. Dr. Hamka dijelaskan bahwa menurut Ibnu Mardawaihi, yang diterimanya dari Abdullah bin Zaid Al-Anshari, Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Tidak ada bersama Nuh melainkan empat anak: yaitu Ham, Sam, Yufits, dan Kusy. Dari keempat anak itulah turun sekalian makhluk.”
Dengan demikian, beberapa tafsir yang mu’tamad menjelaskan bahwa ayat 3 ini berisi tentang seruan atau panggilan kepada umat-umat yang didatangi oleh Nabi Muhammad Saw. dan Nabi Musa bahwa mereka adalah satu keturunan.[2]
Nabi Nuh as. merupakan manusia istimewa dengan kesabaran yang juga istimewa. Beliau berdakwah mengajak kaumnya untuk menyembah Allah kurang lebih selama 950 tahun, tetapi hanya sedikit yang mau beriman kepada Allah.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ وَهُمْ ظَٰلِمُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”
(Surah Al-Ankabut ayat 14)
Lalu, dengan kesabaran Nabi Nuh yang seolah tanpa batas itu, mengapa dalam ayat ketiga surah Al-Israa’ Allah memberi gelar Nabi Nuh sebagai hamba yang paling banyak bersyukur, bukan sebagai hampa yang paling sabar? Hal ini sebab Nabi Nuh selalu mengucapkan syukur kepada Allah atas makanan, minuman, pakaian dan segala hal yang terkait dirinya. Rasa syukur itulah yang membuat seseorang menaati Allah dalam segala situasi, baik ketaatan yang terkait dengan hati, lisan, maupun perbuatan.
Salah satu cara seorang hamba mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menggunakannya untuk beribadah. Diriwayatkan oleh Ath-Thabari bahwasannya Nabi Nuh senantiasa berpuasa setiap hari sepanjang tahun, kecuali pada saat Idulfitri dan Iduladha. Dari Abu Zanba’ Ruh bin Faraj, dari Amru bin Khalid Al Hizani, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu Qinnan, dari Yazid bin Rabah Abu Firas, dari Abdullah bin Amru, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, Nabi Nuh berpuasa satu tahun penuh, kecuali pada hari Idulfitri dan Iduladha, sedangkan Nabi Daud berpuasa setengah tahun (yakni satu hari berpuasa satu hari berbuka), dan Nabi Ibrahim berpuasa tiga hari setiap bulan, berpuasa satu tahun dan berbuka satu tahun.”[3]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُونَ: يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو البَشَرِ، خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ، وَأَمَرَ المَلاَئِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ، وَأَسْكَنَكَ الجَنَّةَ، أَلاَ تَشْفَعُ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلاَ تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ وَمَا بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ: رَبِّي غَضِبَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلاَ يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَنَهَانِي عَنِ الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ، نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا إِلَى نُوحٍ، فَيَأْتُونَ نُوحًا، فَيَقُولُونَ: يَا نُوحُ، أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ، وَسَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا، أَمَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ، أَلاَ تَرَى إِلَى مَا بَلَغَنَا، أَلاَ تَشْفَعُ لَنَا إِلَى رَبِّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّي غَضِبَ اليَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلاَ يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، نَفْسِي نَفْسِي، ائْتُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَأْتُونِي فَأَسْجُدُ تَحْتَ العَرْشِ، فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ، وَسَلْ تُعْطَهْ
“Maka mereka menemui Adam Alaihissalam dan berkata; “Wahai Adam, kamu adalah bapak seluruh manusia. Allah menciptakan kamu langsung dengan tangan-Nya dan meniupkan langsung ruh-Nya kepadamu dan memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu dan menempatkan kamu tinggal di surga, tidakkah sebaiknya kamu memohon syafaat kepada Rabbmu untuk kami? Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kami hadapi?”. Adam Alaihissalam menjawab; “Rabbku pernah marah kepadaku dengan suatu kemarahan yang belum pernah Dia marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pula marah seperti itu sesudahnya. Dia melarang aku mendekati pohon namun aku mendurhakai-Nya. Diriku, diriku. Pergilah kalian kepada orang selain aku. Pergilah kepada Nuh”. Maka mereka menemui Nuh Alaihissalam dan berkata; “Wahai Nuh, kamulah Rasul pertama kepada penduduk bumi ini dan Allah menamakan dirimu sebagai ‘Abdan syakuura (hamba yang bersyukur). Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kami hadapi? Tidakkah sebaiknya kamu memohon syafaat kepada Rabbmu untuk kami?. Maka Nuh Alaihissalam berkata; “Pada suatu hari Rabbku pernah marah kepadaku dengan suatu kemarahan yang belum pernah Dia marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pula marah seperti itu sesudahnya. Diriku, diriku. Pergilah kalian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”. Maka mereka menemui aku. Kemudian aku sujud di bawah al-‘Arsy lalu dikatakan; “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu dan mohonkanlah syafa’at serta mintalah karena permintaan kamu akan dikabulkan.”
(HR. Bukhari)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Allah memberikan gelar kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam sebagai hamba yang pandai bersyukur, dan di Padang Mahsyar kelak, manusia mengenali Nabi Nuh ‘alaihissalam sebagai hamba yang bersyukur.
Dengan demikian, intisari surah Al-Israa’ ayat 1 sampai 3 adalah kewajiban beriman kepada Allah karena pengambaan diri terhadap Allah adalah suatu hal yang terpuji. Allah juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. dan Nabi Musa adalah anak keturunan Nabi Nuh, sehingga Allah mengingatkan hamba-Nya tentang salah satu nenek moyang manusia sekaligus hamba-Nya yang salih, yaitu Nabi Nuh agar manusia senantiasa meneladaninya.
Wallahu’alam.
(FAA)
[1] Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5. 2008. Pustaka Imam Syafi’i. (Hal. 273-274)
[2] Tafsir Al-Azhar Jilid 6 oleh Prof. Dr. H. Abdul Malik Abdul Karim Amrullah. 1990. Pustaka Nasional Kyodo Printing Co Singapore Pte Ltd. (Hal. 4013)
[3] Al-Haitsami menyebutkan riwayat ini dalam Majma’ Az-Zawaid (3/195), dan menyandarkannya kepada Thabarani.
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








