Perjalanan ke sekolah bagi anak-anak Palestina adalah tentang pertaruhan keselamatan. Langkah mereka dihantui pos pemeriksaan atau penutupan jalan hingga harus berputar jauh. Belum lagi jika tentara Israel mencegat mereka, menginterogasi, menahan mereka hingga mengalami heat stroke atau kenaikan suhu tubuh secara berlebihan. Ketika tiba di sekolah, anak-anak Palestina belum juga bisa merasa aman. Bom suara yang mengganggu dilemparkan untuk membuat gaduh. Belum lagi gas air mata atau air berbau busuk yang disemprotkan ke sekolah hingga mengakibatkan lemas, sesak napas, hingga penutupan sekolah sementara waktu demi keselamatan.
Arah permainan tentara Israel dengan anak-anak Palestina memang mengerikan. Seolah tidak puas dengan apa yang selama ini dilakukan, militer Israel kini memasang mesin tembak otomatis yang disebut Smart Shooter atau sistem yang dikendalikan dari jarak jauh, mencakup kemampuan untuk menembakkan granat kejut, gas air mata, dan peluru berujung spons. Instalasi pertama ini telah dipasang di Kota Hebron atau Al-Khalil.

Pekan ini (24/9), militer Israel telah selesai memasang smart shooter di pos pemeriksaan pintu masuk Jalan Shuhada, Kota Hebron. Jalan ini merupakan titik kumpul penduduk Palestina di Hebron dan digunakan untuk keluar-masuk kota oleh ratusan warga Palestina, termasuk oleh anak-anak sekolah. Letaknya juga berdekatan dengan Masjid Ibrahimi, yang di dalamnya terdapat makam nabi-nabi dan istrinya, yaitu Nabi Ibrahim a.s. dan Sarah, Nabi Ishak a.s. dan Ribka, serta Nabi Yakub a.s. dan Leah.
Menurut militer Israel, sistem yang masih dalam tahap uji coba tersebut dikembangkan dengan cara memproses gambar berdasarkan kecerdasan buatan serta memiliki akurasi yang membanggakan dalam mendapatkan target yang telah ditandai oleh sistemnya dan dapat dikendalikan dari jarak jauh. Berdasarkan klaim militer, mesin tembak otomatis ini dipasang untuk “menyebarkan” konsentrasi massa. Pada tahap percontohan, sistem “hanya” akan menggunakan peluru berujung spons, meskipun dalam banyak insiden, peluru berujung spons telah menyebabkan cedera serius. Hebah Jamal, seorang warga Palestina pengguna Twitter mengatakan, “Israel selalu memiliki cara inovatif untuk membunuh warga kami (orang Palestina-red).”
“Sistem itu ditempatkan di tengah-tengah daerah padat penduduk, dengan ratusan orang lewat. Kegagalan teknologi ini dapat berdampak pada banyak orang,” kata Issa Amro, seorang aktivis hak asasi manusia dari Hebron. “Saya melihat ini sebagai bagian dari transisi dari kontrol manusia ke teknologi. Kami sebagai orang Palestina telah menjadi objek percobaan dan pelatihan untuk industri teknologi tinggi militer Israel, yang tidak bertanggung jawab atas apa pun yang dilakukannya,” tegasnya.
Pada November 2021 atau hampir setahun sebelumnya, militer Israel telah melakukan upaya pengawasan luas di Tepi Barat yang diduduki untuk memantau warga Palestina dengan mengintegrasikan pengenalan wajah dengan jaringan kamera dan teknologi telepon pintar bernama Blue Wolf yang menangkap foto wajah warga Palestina dan mencocokkannya dengan database gambar. Aplikasi telepon akan berkedip dalam warna yang berbeda untuk memperingatkan tentara jika seseorang harus ditahan untuk interogasi, ditangkap, atau dibiarkan.
Dalam rangka mengembangkan database Blue Wolf, militer Israel menggelar kompetisi bagi tentara untuk memotret warga Palestina, termasuk anak-anak dan orang tua, dengan iming-iming hadiah bagi unit yang mengumpulkan foto terbanyak.
Yaser Abu Markhyah (49), ayah dari empat anak, mengatakan bahwa keluarganya telah tinggal di Hebron selama lima generasi dan telah belajar untuk mengatasi pos pemeriksaan, pembatasan pergerakan, dan interogasi. Namun, pengawasan terhadap orang Palestina terus-menerus ditingkatkan dan telah melucuti privasi mereka.
“Kami tidak lagi merasa nyaman bersosialisasi karena kamera selalu merekam kami,” kata Abu Markhyah. Dia mengatakan bahwa putrinya yang berusia 6 tahun pernah secara tidak sengaja menjatuhkan satu sendok teh dari dek atap keluarga. Tidak lama kemudian, tentara datang ke rumahnya dan mengatakan putrinya akan dihukum karena melempar batu.
Pos pemeriksaan telah menjadi monster bagi penduduk Palestina di Hebron, terlebih bagi anak-anak yang setiap hari harus melewatinya setiap pergi dan pulang sekolah. Hal ini diperberat dengan teknologi kecerdasan buatan “Blue Wolf” yang merampas privasi mereka. Kini, sistem yang lebih menakutkan kembali dihadirkan di depan wajah mereka: Smart Shooter. Dengan sistem ini, anak-anak sekolah yang melewati Jalan Shuhada akan semakin dibayangi kekhawatiran ketika harus keluar dan masuk pos pemeriksaan. Perjalanan ke sekolah bagi mereka tidak ubahnya serupa pertaruhan keselamatan.
Referensi:
https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-hebron-students-deliberate-tear-gas-schools
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







