Seorang tawanan anak Palestina berusia 17 tahun, Walid Khaled Abdullah Ahmad, meninggal di dalam Penjara Megiddo, Israel, pada 23 Maret 2025. Ia mengalami sakit kepala hingga terjatuh, dan kepalanya terbentur pagar. Namun, respons dari sipir penjara sangat lambat. Rekan-rekannya harus membawanya ke gerbang sebelum akhirnya dijemput oleh penjaga. Otoritas Palestina mengonfirmasi kematiannya, tetapi penyebab pasti belum diumumkan.
Walid, yang berasal dari Silwad, Tepi Barat, ditangkap oleh pasukan Israel pada 30 September 2024 dalam penggerebekan malam hari. Ia dipindahkan ke pusat interogasi sebelum ditahan di Penjara Megiddo dalam kondisi yang buruk, tanpa akses yang memadai ke pengacara atau keluarganya. Ia juga mengalami penyakit kudis dan disentri.
Organisasi hak asasi manusia mengutuk kematiannya sebagai bukti dari kondisi brutal di penjara Israel, termasuk penyiksaan, penelantaran medis, dan penahanan tanpa proses hukum yang jelas. Sejak Oktober 2023, jumlah tawanan Palestina yang meninggal dalam tahanan Israel telah mencapai 63 orang, termasuk 40 dari Gaza. Secara keseluruhan, lebih dari 300 tawanan Palestina telah terbunuh sejak Israel menduduki Tepi Barat dan Gaza pada 1967.
Di bawah hukum internasional, penahanan anak harus menjadi upaya terakhir dan mereka berhak mendapatkan perlindungan khusus. Namun, Israel terus melakukan penangkapan dengan sewenang-wenang dan bersikap tidak manusiawi terhadap anak-anak Palestina. Kematian Walid menandai tragedi baru dalam sejarah panjang pelanggaran hak asasi manusia di wilayah pendudukan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








