• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Kafiyeh: Simbol Perlawanan Palestina Yang Menembus Batas

by Adara Relief International
Oktober 7, 2021
in Artikel, Seni Budaya
Reading Time: 4 mins read
0 0
0
Kafiyeh: Simbol Perlawanan Palestina Yang Menembus Batas

Photo from handmadepalestine.com

76
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Zionis Israel meradang. Negeri zionis tersebut mengecam aksi yang dilakukan Bella Hadid yang turun ke jalanan New York untuk membela Palestina. Bersama pemprotes lainnya, ia ikut serta menyuarakan penentangannya terhadap serangan Israel yang mengakibatkan warga Palestina menjadi korban. Menurut akun twitter Kementerian Luar Negeri Israel, tindakan Bella Hadid itu justru mendukung penghapusan Negara Israel.

Bukan sekali ini Bella Hadid ikut serta menentang kebiadaban Zionis Israel terhadap Palestina. Tahun 2017, adik dari Gigi Hadid ini juga turun ke jalan untuk membela tanah leluhurnya. Ya, Bella Hadid adalah supermodel dunia keturunan Palestina. Sang ayah, Mohammed Hadid berasal dari negeri para nabi tersebut. Begitu juga keluarga besar dari pihak ayah. Jika beberapa tahun lalu, saat ikut aksi di London, ia berpakaian glamor karena usai menghadiri sebuah acara maka pada 17 Mei lalu, adik Gigi Hadid itu mengenakan atasan bercorak tradisional dilengkapi kafiyeh serta masker.  Tak lupa, ia pun turut membawa bendera negeri para nabi tersebut.

Kafiyeh sendiri telah ada sejak lama tepatnya pada zaman peradaban Mesopotamia. Penyebutan kata kafiyeh, merujuk pada ‘Kufah’, sebuah kota di Irak. Sementara di Arab, benda tersebut nama lain seperti syal, shemagh, ghutrah, hattah, dan Massadah. Bagi orang Timur Tengah, kafiyeh digunakan sebagai penutup kepala. Hal ini bisa dilihat dari beberapa pemimpin negara di kawasan itu terutama Saudi Arabia. Tidak semua kafiyeh berwarna sama. Adakalanya berwarna merah-putih yang banyak dipakai di Yordania serta keberadaan keffiyeh putih sering dijumpai di negara-negara teluk. Sementara di Palestina, identik dengan hitam dan putih.

Selain sebagai penutup kepala, kafiyeh berfungsi untuk melindungi dari debu, pasir, dan sengatan matahari. Hal ini pula yang dilakukan orang Palestina terutama mereka yang tinggal di pedesaan terutama para penggembala maupun petani. Ketika masih berada di bawah kekuasaan Dinasti Ottoman, kafiyeh dipakai sebagai pembeda dengan orang-orang perkotaan yang biasa memakai tarbus. Kafiyeh sendiri berupa kain persegi serta terbuat dari katun.

Di Palestina, kafiyeh mulai mendapat tempat ketika terjadi perlawanan terhadap Inggris pada tahun 1930-an. Saat itulah, kafiyeh mulai menjadi simbol perjuangan terutama di kalangan rakyat Palestina. Ditambah lagi saat para pemimpin nasionalis memerintahkan warganya untuk mengganti tarbus mereka dengan kafiyeh. Keberadaan kain persegi ini makin dikenal sejak perlawanan orang-orang Palestina terhadap Zionis Israel meningkat pada 1960-an. Yasser Arafat adalah orang yang mempopulerkan kafiyeh ini.

Yasser Arafat di banyak kesempatan sering mengenakan kafiyeh khas Palestina. Jika diamati dengan detail, kafiyeh yang digunakan Yasser Arafat mempunyai pola jala hitam-putih. Seperti yang dilansir dari handmadepalestine.com, ada tiga pola pada kafiyeh Palestina yaitu jala, gelombang laut, dan garis tebal hitam. Pertama, jala. Motif ini paling dominan, menggambarkan hubungan nelayan Palestina dan laut yang bisa diartikan sebagai kebebasan. Wilayah Palestina yang makin menyusut akibat aneksasi Israel membuat gerak warganya menjadi terbatas. Pola jala ini melambangkan rahmat dan kelimpahan. Kedua, gelombang laut yang dimaknai sebagai kekuatan. Meskipun berpuluh-puluh tahun sejak Deklarasi Balfour yang menjadi pemicu orang-orang Yahudi membanjiri tanah para nabi serta dibawah penindasan Israel tetapi orang-orang Palestina masih mampu bertahan sampai saat ini.  Ketiga, garis tebal hitam diartikan jika Palestina pernah menjadi jalur perdagangan di masa lampau serta berperan penting dalam sejarah dunia.

Selain Yasser Arafat yang menjadi ikon kafiyeh, tokoh Palestina yang mempopulerkan kafiyeh adalah Leila Khaled, anggota perempuan dari sayap bersenjata Front Populer untuk pembebasan Palestina. Jika Yasser Arafat kerap memakai kafiyeh dengan melilitkannya di kepala serta meletakkan di pundak dan mengaturnya sedemikian rupa berbentuk segitiga sebagai penegas simbol wilayah Palestina maka Leila Khaled menggunakannya menyerupai hijab muslimah seperti yang ditunjukkan beberapa foto sesaat setelah pembajakan pesawat pada 1969. Perempuan itu seolah ingin menunjukkan kesetaraan perempuan dengan lelaki dalam perjuangan Palestina melawan Israel.

Kafiyeh sebagai simbol perlawanan Palestina makin kuat kala terjadinya Intifada jilid satu pada 1987 dan Intifada jilid dua di tahun 2000 silam. Para pejuang sering menggunakannya kala sedang melawan tentara penjajah Zionis. Mereka memakai kafiyeh untuk menutupi wajah agar tak dikenali pihak musuh. Syal kafiyeh juga tak hanya dipakai oleh para pejuang dari Fatah (organisasi yang didirikan Yasser Arafat) tetapi juga oleh kalangan marxis Palestina yakni PFLP (Popular Front for the Liberation of Palestine) yang identik dengan warna merah-putih.

Seiring dengan pemberitaan konflik Palestina dan Zionis Israel yang meluas maka diiringi dengan popularitas kafiyeh yang meningkat. Kafiyeh hitam-putih tak sekadar menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina tetapi juga telah menjadi tren di dunia. Selain Bella Hadid, di tahun 2006, Jose Luis Rodriguez Zapatero, Perdana Menteri Spanyol saat itu juga turut mengenakan kafiyeh seusai mengkritik Zionis Israel. Tak hanya itu, kafiyeh juga kini banyak digunakan orang-orang sebagai simbol solidaritas ketika ada aksi turun ke jalan memprotes kebiadaban Zionis Israel seperti yang terjadi di Indonesia beberapa saat lalu.

Tren kafiyeh yang meningkat juga dimanfaatkan Louis Vuitton memproduksi produk sejenis. Namun, hal ini justru diprotes sejumlah netizen yang menganggap jika merk terkenal asal Perancis itu tidak menghargai kafiyeh sebagai simbol nasionalisme Palestina. Apalagi syal kafiyeh buatan Louis Vuitton tersebut memilih warna putih dan biru yang dianggap mewakili bendera Zionis Israel. Selain itu, bertambahnya penggunaan kafiyeh oleh warga dunia juga seharusnya membawa berkah bagi pengrajin di Palestina. Namun, hal ini ternyata tidak dinikmati oleh keluarga Hirbawi sebagai satu-satunya pemilik pabrik kafiyeh yang masih beroperasi. Kafiyeh buatannya harus bersaing dengan Tiongkok yang kualitasnya rendah.

Penulis: Dewi Sartika

 

***

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Baca Juga

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

ShareTweetSendShare
Previous Post

Maqlubah, Nasi Simbol Harapan, dan Baitul Maqdis

Next Post

Yang Terlewatkan dari Palestina

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
23

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
25
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
113
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
75 Tahun Peringatan Peristiwa Nakbah, Sudah Sampai Mana Perjuangan Kita?

Yang Terlewatkan dari Palestina

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630