Zionis Israel meradang. Negeri zionis tersebut mengecam aksi yang dilakukan Bella Hadid yang turun ke jalanan New York untuk membela Palestina. Bersama pemprotes lainnya, ia ikut serta menyuarakan penentangannya terhadap serangan Israel yang mengakibatkan warga Palestina menjadi korban. Menurut akun twitter Kementerian Luar Negeri Israel, tindakan Bella Hadid itu justru mendukung penghapusan Negara Israel.
Bukan sekali ini Bella Hadid ikut serta menentang kebiadaban Zionis Israel terhadap Palestina. Tahun 2017, adik dari Gigi Hadid ini juga turun ke jalan untuk membela tanah leluhurnya. Ya, Bella Hadid adalah supermodel dunia keturunan Palestina. Sang ayah, Mohammed Hadid berasal dari negeri para nabi tersebut. Begitu juga keluarga besar dari pihak ayah. Jika beberapa tahun lalu, saat ikut aksi di London, ia berpakaian glamor karena usai menghadiri sebuah acara maka pada 17 Mei lalu, adik Gigi Hadid itu mengenakan atasan bercorak tradisional dilengkapi kafiyeh serta masker. Tak lupa, ia pun turut membawa bendera negeri para nabi tersebut.
Kafiyeh sendiri telah ada sejak lama tepatnya pada zaman peradaban Mesopotamia. Penyebutan kata kafiyeh, merujuk pada ‘Kufah’, sebuah kota di Irak. Sementara di Arab, benda tersebut nama lain seperti syal, shemagh, ghutrah, hattah, dan Massadah. Bagi orang Timur Tengah, kafiyeh digunakan sebagai penutup kepala. Hal ini bisa dilihat dari beberapa pemimpin negara di kawasan itu terutama Saudi Arabia. Tidak semua kafiyeh berwarna sama. Adakalanya berwarna merah-putih yang banyak dipakai di Yordania serta keberadaan keffiyeh putih sering dijumpai di negara-negara teluk. Sementara di Palestina, identik dengan hitam dan putih.
Selain sebagai penutup kepala, kafiyeh berfungsi untuk melindungi dari debu, pasir, dan sengatan matahari. Hal ini pula yang dilakukan orang Palestina terutama mereka yang tinggal di pedesaan terutama para penggembala maupun petani. Ketika masih berada di bawah kekuasaan Dinasti Ottoman, kafiyeh dipakai sebagai pembeda dengan orang-orang perkotaan yang biasa memakai tarbus. Kafiyeh sendiri berupa kain persegi serta terbuat dari katun.
Di Palestina, kafiyeh mulai mendapat tempat ketika terjadi perlawanan terhadap Inggris pada tahun 1930-an. Saat itulah, kafiyeh mulai menjadi simbol perjuangan terutama di kalangan rakyat Palestina. Ditambah lagi saat para pemimpin nasionalis memerintahkan warganya untuk mengganti tarbus mereka dengan kafiyeh. Keberadaan kain persegi ini makin dikenal sejak perlawanan orang-orang Palestina terhadap Zionis Israel meningkat pada 1960-an. Yasser Arafat adalah orang yang mempopulerkan kafiyeh ini.
Yasser Arafat di banyak kesempatan sering mengenakan kafiyeh khas Palestina. Jika diamati dengan detail, kafiyeh yang digunakan Yasser Arafat mempunyai pola jala hitam-putih. Seperti yang dilansir dari handmadepalestine.com, ada tiga pola pada kafiyeh Palestina yaitu jala, gelombang laut, dan garis tebal hitam. Pertama, jala. Motif ini paling dominan, menggambarkan hubungan nelayan Palestina dan laut yang bisa diartikan sebagai kebebasan. Wilayah Palestina yang makin menyusut akibat aneksasi Israel membuat gerak warganya menjadi terbatas. Pola jala ini melambangkan rahmat dan kelimpahan. Kedua, gelombang laut yang dimaknai sebagai kekuatan. Meskipun berpuluh-puluh tahun sejak Deklarasi Balfour yang menjadi pemicu orang-orang Yahudi membanjiri tanah para nabi serta dibawah penindasan Israel tetapi orang-orang Palestina masih mampu bertahan sampai saat ini. Ketiga, garis tebal hitam diartikan jika Palestina pernah menjadi jalur perdagangan di masa lampau serta berperan penting dalam sejarah dunia.
Selain Yasser Arafat yang menjadi ikon kafiyeh, tokoh Palestina yang mempopulerkan kafiyeh adalah Leila Khaled, anggota perempuan dari sayap bersenjata Front Populer untuk pembebasan Palestina. Jika Yasser Arafat kerap memakai kafiyeh dengan melilitkannya di kepala serta meletakkan di pundak dan mengaturnya sedemikian rupa berbentuk segitiga sebagai penegas simbol wilayah Palestina maka Leila Khaled menggunakannya menyerupai hijab muslimah seperti yang ditunjukkan beberapa foto sesaat setelah pembajakan pesawat pada 1969. Perempuan itu seolah ingin menunjukkan kesetaraan perempuan dengan lelaki dalam perjuangan Palestina melawan Israel.
Kafiyeh sebagai simbol perlawanan Palestina makin kuat kala terjadinya Intifada jilid satu pada 1987 dan Intifada jilid dua di tahun 2000 silam. Para pejuang sering menggunakannya kala sedang melawan tentara penjajah Zionis. Mereka memakai kafiyeh untuk menutupi wajah agar tak dikenali pihak musuh. Syal kafiyeh juga tak hanya dipakai oleh para pejuang dari Fatah (organisasi yang didirikan Yasser Arafat) tetapi juga oleh kalangan marxis Palestina yakni PFLP (Popular Front for the Liberation of Palestine) yang identik dengan warna merah-putih.
Seiring dengan pemberitaan konflik Palestina dan Zionis Israel yang meluas maka diiringi dengan popularitas kafiyeh yang meningkat. Kafiyeh hitam-putih tak sekadar menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina tetapi juga telah menjadi tren di dunia. Selain Bella Hadid, di tahun 2006, Jose Luis Rodriguez Zapatero, Perdana Menteri Spanyol saat itu juga turut mengenakan kafiyeh seusai mengkritik Zionis Israel. Tak hanya itu, kafiyeh juga kini banyak digunakan orang-orang sebagai simbol solidaritas ketika ada aksi turun ke jalan memprotes kebiadaban Zionis Israel seperti yang terjadi di Indonesia beberapa saat lalu.
Tren kafiyeh yang meningkat juga dimanfaatkan Louis Vuitton memproduksi produk sejenis. Namun, hal ini justru diprotes sejumlah netizen yang menganggap jika merk terkenal asal Perancis itu tidak menghargai kafiyeh sebagai simbol nasionalisme Palestina. Apalagi syal kafiyeh buatan Louis Vuitton tersebut memilih warna putih dan biru yang dianggap mewakili bendera Zionis Israel. Selain itu, bertambahnya penggunaan kafiyeh oleh warga dunia juga seharusnya membawa berkah bagi pengrajin di Palestina. Namun, hal ini ternyata tidak dinikmati oleh keluarga Hirbawi sebagai satu-satunya pemilik pabrik kafiyeh yang masih beroperasi. Kafiyeh buatannya harus bersaing dengan Tiongkok yang kualitasnya rendah.
Penulis: Dewi Sartika
***
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







