Lebih dari separuh atau sekitar 230 juta anak tinggal di negara konflik paling mematikan pada tahun 2021. Hal tersebut meningkat 9% dari tahun sebelumnya, ungkap analisis baru dari Save the Children yang dirilis selama Konferensi Afrika tentang Anak-anak dan Konflik Bersenjata. Sementara itu, jumlah insiden pembunuhan dan cacat yang tercatat dalam konflik telah turun sekitar sepertiga sejak 2018, tetapi lebih dari 8.000 anak atau sekitar 22 anak dalam sehari masih menjadi korban tewas atau cacat pada 2021. Angka ini secara tragis diperkirakan akan meningkat pada 2022 karena perang di Ukraina.
Menurut analisis Save the Children, Yaman menduduki puncak daftar 10 negara terburuk yang terkena dampak konflik anak pada 2021. Hal ini didasarkan pada jumlah pelanggaran berat yang tercatat, intensitas konflik, serta jumlah anak yang tumbuh dengan kekerasan terkait konflik. Peningkatan jumlah anak yang tinggal di zona perang paling mematikan menyebabkan lebih dari 1.000 kematian akibat perang dalam setahun. Meskipun demikian, jumlah keseluruhan pelanggaran berat terhadap anak telah menurun sejak 2020, kemungkinan karena kurangnya pelaporan akibat pembatasan akses.
Pelanggaran berat terhadap anak-anak yang meliputi perekrutan, penculikan, kekerasan seksual, penolakan akses kemanusiaan, penyerangan terhadap sekolah dan rumah sakit, serta pembunuhan dan pencacatan, berdampak besar pada kehidupan mereka mulai dari trauma fisik hingga psikologis, melemahkan atau mengubah kemampuan survival karena cedera, dan juga kematian.
Zaid* (9 tahun) dari Yaman kehilangan kakinya dalam insiden penembakan saat dia bermain di luar dengan teman-temannya. “Sulit rasanya kehilangan kaki. Saya hanya tinggal di dalam dan bermain dengan mainan,” kata Zaid. “Sebelum saya cedera, saya biasa bermain sepak bola. Saya biasa berlari dan bermain dengan teman-teman saya, tetapi kemudian peluru itu mengenai saya.”
Penelitian Stop the War on Children: The Forgotten Ones juga mencakup analisis tentang bagaimana liputan media di 10 negara yang paling parah terkena dampak konflik sejak perang di Ukraina meningkat pada awal tahun ini.
Platform pemantauan media Meltwater menemukan bahwa antara 1 Januari dan 30 September 2022, Ukraina menerima liputan media lima kali lebih banyak daripada gabungan 10 negara yang terkena dampak konflik terburuk untuk anak-anak. Selama periode itu, Yaman – negara terburuk bagi anak-anak dalam konflik – hanya mendapat 2,3% liputan media dibandingkan dengan Ukraina.
Demikian juga dengan timpangnya bantuan pendanaan dari Rencana Tanggap Kemanusiaan (Humanitarian Response Plans/HRP). Pada 4 November, HRP Suriah hanya memiliki 27,5% pendanaan, Myanmar sebesar 22,5% pendanaan, sementara Ukraina, di sisi lain, didanai sebesar 68,1%.
Inger Ashing, CEO Save the Children International, mengatakan, “Anak-anak tidak menyebabkan atau memulai perang, namun tidak dapat disangkal bahwa mereka adalah korban terbesar dan paling rentan dalam setiap konflik.”
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa:
- Sekitar 449 juta anak di seluruh dunia, atau 1 dari 6, tinggal di zona konflik pada tahun 2021, sedikit menurun dari tahun sebelumnya (450 juta).
- Afrika memiliki jumlah keseluruhan anak yang terkena dampak konflik tertinggi (180 juta), diikuti oleh Asia (152 juta), dan Amerika (64 juta).
- Timur Tengah adalah rumah bagi anak-anak dengan proporsi tertinggi yang tinggal di daerah konflik, 1 dari setiap 3 anak.
- Sementara Eropa memiliki jumlah dan proporsi anak-anak yang terkena dampak konflik terendah secara keseluruhan, jumlah tersebut diperkirakan akan meroket pada tahun 2022 karena eskalasi kekerasan di Ukraina.
- Insiden penolakan akses kemanusiaan yang terverifikasi melonjak signifikan dalam tiga tahun terakhir, sebagian besar didorong oleh insiden di Yaman dan wilayah penjajahan Palestina.
*Nama diubah untuk melindungi identitas
Sumber:
https://www.savethechildren.net
https://resourcecentre.savethechildren.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








