Untuk pertama kalinya sejak 1967, otoritas Israel melarang warga Palestina mengakses Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Al-Quds (Yerusalem) untuk melaksanakan salat Idulfitri. Pada Jumat pagi (20/03), polisi Israel membarikade gerbang kompleks tersebut, melarang para jemaah berkumpul di dekat lokasi dan memaksa mereka untuk berdoa di luar Kota Tua.
Dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak 1967, otoritas Israel secara efektif menutup kompleks tersebut selama bulan Ramadan. Israel berdalih karena adanya kekhawatiran keamanan di tengah perang melawan Iran.
Bulan suci Ramadan seringkali menjadi waktu utama dalam setahun ketika Israel mengizinkan sejumlah kecil warga Palestina untuk mengakses Al-Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam. Namun tahun ini, ribuan jemaah terpaksa salat Idulfitri di tempat yang memungkinkan, di luar gerbang Kota Tua.
Sementara itu, jalan-jalan di Kota Tua, yang biasanya ramai dengan aktivitas dan dihiasi dekorasi selama Ramadan, tampak seperti kota hantu. Ini terjadi karena pihak berwenang memberlakukan penguncian total di seluruh wilayah tersebut.
Baca juga : “Warga Palestina Salat di Gerbang Masjid Al-Aqsa Akibat Penutupan“
Fotojurnalis Faiz Abu Rmeleh mengatakan kepada Middle East Eye bahwa pada Jumat, kerumunan besar jemaah yang melantunkan takbir Idulfitri berkumpul di sepanjang Jalan Salah al-Din, yang terletak di luar Kota Tua.
Rmeleh melaporkan bahwa warga Palestina berusaha mencoba mendekati Bab al-Zahra, di dalam tembok Kota Tua, dalam upaya untuk salat sedekat mungkin dengan masjid. Namun, polisi Israel menghadang mereka dengan granat kejut dan gas air mata, sebelum mendorong mereka mundur ke Jalan Salah al-Din. Di sana, mereka melaksanakan salat di luar kantor pos, di bawah pengawasan ketat polisi.
Polisi tidak turun tangan, tetapi segera setelah selesai, mereka membubarkan jemaah secara paksa, mendorong jemaah lebih jauh ke Jalan Saint George. Sekitar 10 pemuda digeledah oleh polisi Israel dan diperintahkan berdiri berbaris dengan tangan terangkat.
“Kota Tua tetap tertutup ketat, Israel hanya memberikan akses masuk bagi penduduk yang terdaftar. Hal ini mencegah banyak warga Palestina mengunjungi kerabat selama Idulfitri. Padahal, itu merupakan waktu yang secara religius dan tradisional menjadi momen berkumpul bersama keluarga dan menjaga ikatan kekerabatan.” Rmeleh mengatakan kepada MEE.
Sementara itu, jurnalis Latifeh Abdellatif mengatakan: “Meskipun saya adalah penduduk Kota Tua, saya mengalami kesulitan untuk kembali ke lingkungan saya. Saya hanya mendapat izin masuk setelah menunjukkan identitas. Anggota keluarga yang mencoba mengunjungi saya selama Idulfitri tidak mendapatkan izin masuk.”








