Stunting dikenal dengan pertumbuhan anak yang tidak normal; cenderung pendek atau sangat pendek untuk anak seusianya yang diakibatkan kekurangan gizi kronis. Kekurangan gizi kronis adalah kekurangan gizi pada tubuh yang sudah berlangsung sejak lama, sejak 1.000 hari pertama kehidupan, atau sejak anak berada dalam kandungan. Karena diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis, stunting selalu disertai dengan rendahnya kualitas pertumbuhan otak serta lemahnya pertahanan tubuh terhadap serangan agen penyakit menular dan tidak menular.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menjelaskan, pemerintah berupaya mempercepat penurunan stunting untuk mencapai target 14% di tahun 2024. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 prevalensi stunting sebesar 21,6%. Angka ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 2,8%. “Insya Allah ini sedang kita upayakan, pokoknya 2 tahun terakhir ini harus naik 1% dari tahun 2022 yang turun 2,8%. Sekarang penurunan per tahunnya harus 3,8%, dan harus turun 7,6% sampai 2024 untuk capai 14%,” ucap Muhadjir.
Di samping itu, Muhadjir juga meminta seluruh keluarga untuk tidak panik bila anak terkena stunting. Pasalnya, kondisi anak masih bisa dikoreksi dengan cara yang tepat. “Jika ada anak stunting, tak perlu khawatir. Tetapi tangani dengan cara berat badan dinaikkan, tinggi badan dinaikkan, agar tidak stunting,” kata Muhadjir dalam keterangan tertulis BKKBN di Jakarta, Sabtu (27/5). Muhadjir meminta agar setiap keluarga tidak malu untuk segera memberitahu tenaga kesehatan bila anak memiliki tanda-tanda stunting supaya bisa segera ditangani. Di sisi lain, pemerintah daerah juga harus terus berupaya memberikan berbagai intervensi supaya anak tidak terkena stunting.
Badan Pangan Nasional (Bapanas)/ National Food Agency (NFA) mencatat realisasi penyaluran bantuan pangan stunting mencapai 81,5 persen per 25 Mei 2023. Bantuan diberikan kepada 1,4 juta Keluarga Risiko Stunting (KRS) di 7 provinsi di Indonesia. Apabila dirinci, penyaluran bantuan stunting tahap pertama mencapai 1,1 juta paket yang terdiri dari 57 ribu paket (89%) di Banten, Jawa Barat 405 ribu paket (99%), Jawa Tengah 322 ribu paket (99%), Jawa Timur 314 ribu paket (82%). Kemudian, sebanyak 4 ribu paket (4%) Nusa Tenggara Timur (NTT), di Sulawesi Barat 2 ribu paket (14%), dan Sumatera Utara 72 ribu paket (52%).
Menurut Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi, penyaluran bantuan pangan stunting tersebut bukan hanya membawa dampak positif bagi penurunan angka stunting, tetapi juga bagi pengendalian inflasi dan penguatan ekosistem perunggasan nasional. Arif menambahkan Bapanas telah mengintegrasikan program penurunan stunting ini dalam gerakan konsumsi pangan Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA), melalui kerja sama pengelolaan Rumah B2SA bersama Tim Penggerak (TP) PKK Pusat.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








