Militer Israel mengumumkan “jeda taktis dan lokal” dalam operasi militer di tiga wilayah Jalur Gaza yang dilanda krisis kemanusiaan parah. Mulai Ahad (27/7), penghentian sementara ini diberlakukan setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 20.00 waktu setempat di kawasan Al-Mawasi, Deir al-Balah, dan Kota Gaza. Meskipun militer Israel mengklaim tidak aktif secara militer di area tersebut, kenyataannya serangan udara dan pertempuran tetap terjadi dalam beberapa pekan terakhir di sana.
Pengumuman ini muncul setelah laporan media lokal Israel menyebut bahwa kebijakan tersebut telah disetujui oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Yoav Gallant, dan Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar. Namun, belum ada kejelasan mengenai jangka waktu jeda ini akan berlangsung.
Wilayah pesisir Al-Mawasi, yang membentang dari barat daya Deir al-Balah hingga Rafah di Gaza selatan, kini menjadi tempat penampungan ribuan pengungsi Palestina yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat agresi Israel. Kondisi di wilayah ini sangat memprihatinkan, dengan akses terbatas terhadap makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Sebagai bagian dari jeda kemanusiaan, militer Israel juga menyatakan akan menetapkan rute aman bagi lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan untuk menyalurkan makanan dan suplai penting. Pada saat yang sama, mereka juga melakukan penerjunan bantuan dari udara berupa tepung, gula, dan makanan kaleng. Namun, bantuan ini dinilai tidak cukup, dan bahkan dinilai sebagai gimmick simbolik untuk meredam kritik internasional. Namun demikian, pemerintah Israel tetap membantah adanya kelaparan di wilayah yang diblokade tersebut, meski puluhan warga Palestina dilaporkan meninggal dunia karena kekurangan gizi.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sebanyak 127 warga, termasuk 85 anak-anak, telah meninggal dunia akibat malnutrisi sejak agresi dimulai. Hanya dalam satu hari, lima orang dilaporkan meninggal karena kelaparan pada Sabtu (26/7). Organisasi-organisasi bantuan internasional menyatakan bahwa sekitar 6.000 truk bantuan kini tertahan di perbatasan, tidak dapat masuk karena pembatasan yang diberlakukan Israel. Kelangkaan makanan dan air bersih telah memicu krisis kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah berpenduduk 2,2 juta jiwa itu.
Sejak 27 Mei, Israel juga meluncurkan inisiatif distribusi bantuan yang disebut Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang didukung oleh Amerika Serikat dan berjalan di luar koordinasi dengan PBB dan organisasi bantuan internasional lainnya. Langkah ini mendapat penolakan luas dari komunitas kemanusiaan global karena dianggap sarat muatan politis dan tidak transparan.
Sementara itu, laporan menunjukkan bahwa militer Israel terus menembaki warga Palestina yang mencoba mendekati pusat distribusi makanan. Ratusan orang telah terbunuh dalam beberapa pekan terakhir saat mencoba mengakses bantuan. Militer Israel juga melakukan intersepsi terhadap kapal bantuan “Handala” yang mencoba menembus blokade maritim. Sebanyak 21 aktivis internasional ditangkap, sementara muatan bantuan seperti susu bayi, makanan, dan obat-obatan disita oleh otoritas Israel.
Jurnalis Al Jazeera, Hamdah Salhut, yang melaporkan dari Yordania karena kantornya dilarang beroperasi di wilayah pendudukan, menegaskan bahwa meskipun Israel mengklaim sedang memperbaiki situasi kemanusiaan, mereka terus membantah adanya kelaparan yang meluas di Gaza. “Israel menuduh PBB tidak mendistribusikan bantuan, sementara PBB menyatakan bahwa merekalah yang dihalangi oleh otoritas Israel untuk menyalurkan bantuan tersebut,” katanya.
Sumber:
https://www.aljazeera.com/news/2025/7/27/israeli-military-begins-daily-tactical-pause-in-parts-of-starving-gaza
https://www.#/20250727-israel-announces-tactical-suspension-of-military-operations-in-3-parts-of-gaza-strip/








