Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa Israel telah menolak 107 permintaan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza sejak diberlakukannya gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, sehingga menghalangi pasokan bantuan penting bagi warga sipil.
Juru bicara PBB, Farhan Haq, menjelaskan dalam konferensi pers bahwa bantuan yang ditolak mencakup selimut, pakaian musim dingin, serta peralatan untuk pemeliharaan dan pengoperasian layanan air, sanitasi, dan kebersihan. Hampir 90% dari permintaan yang ditolak berasal dari lebih dari 330 lembaga swadaya masyarakat lokal dan internasional, dengan lebih dari separuh penolakan didasarkan pada alasan bahwa organisasi tersebut tidak memiliki otorisasi untuk membawa bantuan ke Gaza.
Haq menegaskan bahwa PBB dan para mitranya di lapangan dapat melakukan lebih banyak hal jika berbagai hambatan dihapus. Beberapa barang yang ditolak, menurutnya, dianggap oleh otoritas Israel tidak termasuk dalam kategori bantuan kemanusiaan, sementara lainnya diklasifikasikan sebagai barang “berfungsi ganda” (dual-use), seperti kendaraan dan suku cadangnya, panel surya, beberapa jenis toilet portabel, mesin rontgen, dan generator.
Mengutip laporan dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Haq menyebut bahwa ledakan di kawasan permukiman terus terjadi setiap hari di berbagai wilayah yang masih diduduki militer Israel, terutama di Khan Younis bagian timur, Gaza City bagian timur, dan Rafah. Serangan udara di “garis kuning”, batas ilegal buatan Israel, juga terus berlangsung dan menimbulkan korban jiwa, menempatkan warga sipil termasuk pekerja kemanusiaan dalam bahaya.
Haq mengingatkan militer Israel agar mematuhi kewajibannya untuk senantiasa melindungi warga sipil selama operasi berlangsung. “Garis kuning” sendiri merupakan garis penarikan pertama yang disepakati dalam tahap awal perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang memisahkan wilayah di bagian timur yang masih berada di bawah kendali militer Israel dari wilayah barat tempat warga Palestina diperbolehkan bergerak.
Terkait pergerakan penduduk, PBB mencatat lebih dari 680.000 perpindahan dari Gaza bagian selatan ke utara sejak gencatan senjata dimulai, serta hampir 113.000 perpindahan dari barat ke timur Khan Younis. Meski demikian, banyak pengungsi memilih untuk tetap berada di lokasi mereka saat ini karena kehancuran yang meluas, ketiadaan alternatif tempat tinggal, serta ketidakpastian terkait keamanan dan layanan dasar di wilayah asal mereka.
Sumber: MEMO, AA
![Warga Palestina, termasuk anak-anak, mengantre panjang untuk menerima makanan hangat yang didistribusikan oleh berbagai lembaga amal di wilayah al-Mawasi, Khan Yunis, Gaza, pada 5 November 2025. [Abed Rahim Khatib – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/AA-20251105-39623283-39623259-HOT_FOOD_DISTRIBUTED_TO_PALESTINIANS_IN_GAZA-1-1-750x375.webp)






![Tepi Barat telah mengalami peningkatan kekerasan militer dan pemukim Israel selama dua tahun terakhir [Getty]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/2168054311-75x75.jpeg)
