Lebanon pada Sabtu (28/12) mengutuk serangan Israel yang menargetkan lahan pertanian dan penghancuran proyek reboisasi yang dilaksanakan di Wadi Houjeir dengan dukungan dari Program Pangan Dunia PBB (WFP) dan pendanaan dari Uni Eropa.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) mengatakan Kementerian Pertanian Lebanon mengeluarkan pernyataan yang mengecam kerusakan yang disebabkan oleh militer Israel terhadap sektor pertanian Lebanon.
“Militer Israel menghancurkan proyek reboisasi yang telah dilaksakan di Wadi Houjeir pada tahun 2020. Mereka menghancurkannya seluruh lahan dengan buldoser,” katanya. “Proyek ini sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan di Lebanon dan mendukung petani lokal.”
Ia juga menekankan bahwa penghancuran proyek tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan Lebanon dan hak rakyatnya untuk hidup bermartabat dan aman.
Pernyataan itu menggarisbawahi implikasi kemanusiaan dari tindakan Israel, yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan memperburuk perjuangan rakyat Lebanon di tengah krisis ekonomi yang parah di negara itu.
Selain itu, pada Ahad (29/12), pihak berwenang Lebanon menemukan jasad lima orang di Kota Khiam, Lebanon selatan. Jasad mereka dipindahkan ke Rumah Sakit Pemerintah Marjayoun. Hingga kini, masih belum jelas apakah kelima korban terbunuh oleh tembakan Israel sebelum atau sesudah gencatan senjata.
Kantor Berita Lebanon melaporkan bahwa operasi pencarian dijadwalkan harus selesai hari ini (30/12), sebagai bagian dari upaya untuk menemukan semua orang yang hilang, akibat agresi Israel baru-baru ini, yang menyebabkan hilangnya nyawa dan kehancuran harta benda di Kota Khiam.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








