Israel berencana melarang warga Palestina yang dibebaskan dalam kesepakatan gencatan senjata Gaza dan pertukaran tahanan untuk memasuki Masjid Al-Aqsa di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) selama bulan Ramadan, menurut laporan media Israel pada Minggu.
Kantor penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa kepolisian Israel tidak akan mengizinkan mantan tawanan Palestina untuk mengakses kompleks suci tersebut selama Ramadan, yang akan dimulai pekan depan.
Sebagai bagian dari langkah pembatasan, Israel akan mengerahkan 3.000 personel setiap hari di pos pemeriksaan menuju Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) dan Al-Aqsa. Selain itu, hanya 10.000 izin yang akan diberikan kepada warga Palestina dari Tepi Barat untuk memasuki Al-Aqsa selama Ramadan. Izin ini hanya akan diberikan kepada pria berusia di atas 55 tahun dan perempuan di atas 50 tahun.
Setiap tahun, warga Palestina menghadapi pembatasan ketat dari Israel yang menghalangi akses mereka ke Al-Aqsa selama Ramadan, terutama di tengah eskalasi militer di Tepi Barat.
Ratusan warga Palestina sebelumnya dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata di Gaza, dengan sejumlah sandera Israel juga dibebaskan sebagai imbalannya.
Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur), tempat Al-Aqsa berada, diduduki Israel dalam Perang Arab-Israel 1967 dan kemudian dianeksasi secara sepihak pada 1980—sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.
Pada Juli lalu, Mahkamah Internasional (ICJ) menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Palestina, termasuk Tepi Barat dan Al-Quds bagian timur, adalah ilegal serta menuntut pengosongan semua permukiman Israel di wilayah tersebut. Namun, Israel terus mengabaikan putusan tersebut dan memperketat taktik represifnya terhadap warga Palestina.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








