Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di wilayah pendudukan Palestina melaporkan bahwa Israel telah mendirikan total 849 pos pemeriksaan di seluruh Tepi Barat yang diduduki. Sepertiga dari hambatan ini berupa gerbang yang memblokir jalan, dengan sebagian besar di antaranya sering ditutup.
Dalam pembaruan mengenai situasi kemanusiaan di Tepi Barat, OCHA mengungkapkan bahwa survei cepat yang dilakukan pada Januari dan Februari menunjukkan bahwa Israel telah membangun “849 hambatan pergerakan” yang secara permanen atau sementara mengontrol, membatasi, dan mengawasi pergerakan warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) dan wilayah H2 di Hebron.
Penambahan Hambatan Pasca Gencatan Senjata Gaza
Survei ini mencatat bahwa 36 hambatan pergerakan baru didirikan antara Desember 2024 hingga Februari 2025. Sebagian besar hambatan ini muncul setelah pengumuman gencatan senjata di Gaza pada pertengahan Januari 2025, yang memperumit akses warga Palestina ke layanan dasar dan tempat kerja.
OCHA mencatat bahwa terdapat 29 gerbang baru telah dipasang di seluruh Tepi Barat, baik sebagai hambatan baru maupun tambahan untuk pos pemeriksaan yang sudah ada. Dengan demikian, jumlah gerbang jalan yang dibuka atau ditutup di Tepi Barat kini mencapai 288 gerbang, mencakup sepertiga dari total hambatan pergerakan. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen (172 dari 288) sering ditutup, sehingga memperparah pembatasan pergerakan warga Palestina.
Detail Hambatan Pergerakan di Tepi Barat
Laporan OCHA mencatat bahwa peningkatan jumlah hambatan ini diiringi dengan pembatasan gerak yang semakin ketat. Pos pemeriksaan yang dijaga selama 24 jam penuh berjumlah 94 titik, sementara 153 pos pemeriksaan lainnya hanya dijaga secara berkala. Dari jumlah tersebut, 45 pos memiliki gerbang yang sering ditutup, menyebabkan penutupan akses yang tak terduga bagi warga Palestina.
Selain itu, sebanyak 205 gerbang jalan telah dipasang di berbagai lokasi di Tepi Barat. Dari jumlah tersebut, 127 gerbang sering ditutup. Israel juga telah membangun hambatan linier seperti tembok tanah dan parit di 101 lokasi, sementara 180 gundukan tanah digunakan untuk memblokir jalan.
Sebagai tambahan, 116 blokade jalan tersebar di berbagai titik strategis, mempersempit ruang gerak warga Palestina dan mengisolasi komunitas mereka dari akses layanan penting seperti kesehatan, pendidikan, dan pasar. Dengan semakin banyaknya hambatan yang bersifat permanen maupun sementara, kehidupan sehari-hari di Tepi Barat menjadi semakin sulit, memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung lama.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








