Pada hari Kamis (28/7), Menteri Pendidikan Israel, Yfat Shasha Biton, mencabut lisensi 6 sekolah di kota Al-Quds (Yerusalem). Pencabutan izin tersebut dilakukan dengan dalih bahwa kurikulum pengajaran mengandung hasutan untuk melawan Israel. Keputusan ini menargetkan sekolah-sekolah Al-Iman di 5 cabang, dengan jumlah siswa sekitar 1.755 siswa di tingkat dasar dan menengah, dan Ibrahimieh College yang memiliki 288 siswa.
Kementerian Pendidikan Israel kemudian memberikan izin sementara kepada sekolah-sekolah tersebut selama satu tahun, sampai pihak sekolah mengubah kurikulum dan konten tertentu yang mereka pertentangkan.
Namun, mendengar laporan tersebut di media, pihak sekolah Al-Iman dan Ibrahimieh College terkejut. Mereka menegaskan bahwa belum pernah mendapat pemberitahuan secara resmi.
Baca juga “Dunia yang Masih Memilih Bisu“
Sementara itu, Kementerian Urusan Yerusalem memperingatkan upaya otoritas Israel yang memaksakan kurikulum Israel masuk ke sekolah-sekolah di Al-Quds (Yerusalem). Sebelumnya, otoritas Israel telah gagal membujuk sekolah, siswa, dan orang tua untuk menerima kurikulum Israel. Oleh karena itu, sekarang pemerintah Israel mencoba untuk memaksakan untuk menerapkan kurikulum yang mengadopsi narasi Israel dan menghapus identitas Palestina.
Kementerian Palestina menegaskan penolakan dan kecaman terhadap semua upaya Israel untuk mengisolasi pendidikan di kota Al-Quds (Yerusalem). Kementerian mengatakan, “Berusaha untuk memaksakan perubahan dalam kurikulum Palestina sama saja dengan menyatakan deklarasi perang terhadap identitas Arab Palestina dari sekolah-sekolah Palestina.”
Sementara itu, kepala Komite Al-Quds Penentang Yahudinisasi, Nasser Al-Hadmi, mengatakan bahwa secara terang-terangan keputusan ini sepenuhnya atas campur tangan otoritas Israel. Dia menunjukkan bahwa selama beberapa dekade, otoritas Israel telah berusaha mendistorsi kurikulum Palestina. Hal tersebut dalam upaya untuk mencapai pengajaran kurikulum dan matrikulasi Israel. Dia menunjukkan bahwa kurikulum Israel seperti serigala mengenakan pakaian domba yang lembut. “Kami menghargai identitas nasional kami dan tidak menerima jika Israel mendistorsinya,” tambahnya, “Hanya kami yang berhak memutuskan apa dan bagaimana membesarkan anak-anak kami, juga bagaimana mempertahankan identitas nasional Palestina kami.”
Baca juga “Penyaluran Bahan Bakar Rumah Sakit untuk Bantuan Darurat Gaza Tahap 3“
Dia menekankan, “Orang-orang Palestina, khususnya orang-orang Al-Quds (Yerusalem), menurut hukum internasional dianggap sebagai orang-orang di bawah Israel. Namun, mereka memiliki hak untuk menolak penjajahan ini. Israel juga tidak memiliki hak untuk menyerang atau mencampuri urusan internal mereka”
“Identitas nasional Palestina yang membantu kami melestarikan identitas kota Al-Quds (Yerusalem) dan masjid kami. Kami tidak akan mengabaikannya, tidak peduli berapa lama. Kami menolak Israel untuk mengubah kurikulum dan sekolah kami,” tambahnya.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







