Musim hujan melanda Gaza. Dulu, musim ini adalah musim yang indah. Orang-orang akan iri dengan iklim di Gaza, terlebih ketika hujan dipandang sebagai sumber penghidupan daripada pertanda datangnya bencana. Tapi, semuanya berbeda sekarang–ketika akan turun hujan, keluarga mulai khawatir tentang bagaimana anak-anak mereka akan pergi ke sekolah sebab biasanya hujan akan diiringi dengan banjir. Gambar anak-anak mengarungi jalanan yang terendam banjir setinggi pinggang, kini sudah menjadi pemandangan umum pada musim dingin ini.
Musim hujan tidak selalu seperti ini. 20 tahun yang lalu banjir jarang terjadi di Gaza, meskipun curah hujan dulu jauh lebih deras daripada sekarang. Bedanya, dulu Gaza memiliki infrastruktur, yang sekarang hampir musnah akibat perang dan blokade Israel yang tiada henti. Saat ini, meski hujan hanya beberapa jam, beberapa jalan akan tergenang dan air masuk ke rumah-rumah penduduk.
Dari tahun ke tahun, banjir semakin parah meskipun telah ada daftar panjang pencapaian dari kotamadya Gaza. Tapi tentu saja pemerintah kota tidak memiliki kemewahan untuk benar-benar mengembangkan infrastruktur Gaza karena terlalu sibuk memperbaiki kehancuran akibat serangan Israel. Situasi saat ini harus menjadi peringatan bahwa ada krisis infrastruktur yang terus berkembang di Gaza, yang diperburuk oleh perubahan iklim dan blokade Israel.
“Sebagian besar tempat yang terkena dampak perubahan iklim adalah tempat dengan infrastruktur yang paling lemah dan paling tidak siap. Orang-orang harus membayar harga untuk perubahan iklim,” kata Dr. Ahmad Hilles, kepala Institut Nasional untuk Lingkungan dan Pembangunan.
Upaya untuk mengatasi peningkatan populasi Gaza terus dicegah dan dipersulit oleh Israel pada setiap kesempatan. Pekerjaan Otoritas Palestina (PA) selama beberapa tahun pada proyek yang bertujuan untuk memasok sumber energi bersih di kamp pengungsi Al-Bureij, misalnya, dilenyapkan ketika Israel mengebom proyek tersebut selama Operasi Guardian of the Walls pada 2021, sebelum proyek tersebut selesai.
Gaza juga tidak memiliki sarana untuk menggunakan kembali air hujan karena runtuhnya infrastruktur yang berkaitan dengan penampungan air hujan dan sumur air. Perubahan iklim yang makin ekstrem juga memperburuk situasi. Gaza sekarang menghadapi situasi berbahaya karena tidak akan mampu menangani bencana iklim yang tak terhindarkan terkait dengan akses air.
“Gaza menghadapi kekurangan air lebih dari 150 juta meter kubik per tahun,” kata Hilles. “Perubahan iklim berdampak pada tingkat hujan, yang merupakan satu-satunya sumber air di Gaza. Kami sekarang menerima 60–70 juta meter kubik per tahun, tetapi masih membutuhkan 250 juta meter kubik. Ini juga berdampak buruk pada reservoir air bawah tanah,” lanjutnya. “Reservoir air semakin rendah 20–25 meter setiap tahun, dan itu menyebabkan bercampurnya air tanah dengan air laut.” Hilles menegaskan bahwa “air bawah tanah yang layak untuk konsumsi manusia harus mencakup pembacaan TDS kurang dari 1000-1500 miligram per liter, tetapi di Gaza mengandung TDS lebih dari 10.000 mg/L.” Semua ini tidak baik. “Ini berarti air bawah tanah menjadi mirip dengan air laut,” jelas Hilles.
Hilles percaya bahwa situasi seperti itu memaksa orang untuk mencari alternatif untuk bertahan hidup, termasuk sumber energi alternatif. Masalahnya adalah bahwa beberapa dari alternatif ini membahayakan nyawa orang-orang ini, dan banyak orang di Gaza telah kehilangan nyawa mereka ketika menggunakan bahan berbahaya untuk menyalakan rumah mereka selama pemadaman listrik di Gaza pada musim dingin.
Pada tahun 2018, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa pada 2020, Gaza “tidak dapat ditinggali”. Ramalan itu telah terjadi. Setiap indikator yang menjadi dasar prediksi laporan PBB itu telah berubah menjadi mimpi buruk kemanusiaan. “Hari ini, kami memiliki lebih dari 140 orang yang terkena kanker setiap bulan di Gaza, dan ini adalah akibat langsung dari apa yang kami makan, minum, dan hirup,” kata Hilles. “Satu-satunya cara bagi kami untuk melewati kondisi ini adalah dengan mengakhiri pengepungan Israel,” simpul Hilles.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








